SANGATTA – Gebyar Koperasi dan UMKM Expo Kutai Timur 2025 tak hanya jadi ajang jualan produk lokal, tapi juga jadi ruang belajar untuk pelaku usaha mikro menghadapi era digital. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebutkan, UMKM dan koperasi kini harus mulai menyesuaikan diri dengan teknologi agar tak ketinggalan zaman.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan bahwa sektor usaha kecil tak bisa lagi mengandalkan cara lama. Dunia sudah berubah, dan pelaku UMKM harus bisa ikut bergerak.
“Koperasi dan UKM itu sebagai soko guru ekonomi bangsa dan tentu saja koperasi dan UKM itu perlu didorong, perlu ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya untuk bisa bersaing tidak hanya di kancah lokal,” kata Heni, Minggu (29/6).
Menurutnya, ekonomi kerakyatan seperti koperasi dan UMKM bukan cuma urusan pendapatan, tapi juga bagian penting dari daya tahan masyarakat. Apalagi di tengah dinamika zaman yang serba cepat.
“Ekonomi kerakyatan, jadi yang itu apa ya sebagai tonggak atau sebagai penyangga sosial, untuk menghadapi berbagai macam tantangan. Baik itu tantangan ekonomi, sosial, politik dan sebagainya,” lanjutnya.
Salah satu bentuk modernisasi yang sedang didorong adalah digitalisasi. Pemkab Kutim, kata Heni, mulai menyediakan aplikasi pengelolaan koperasi yang memudahkan pencatatan keanggotaan hingga laporan keuangan. Meski masih awal, langkah ini dinilai cukup progresif.
“Terkait dengan teknologi informasi itu diharapkan koperasi dan UKM juga tidak ketinggalan,” ujarnya.
Melalui kegiatan expo seperti ini, Heni berharap pelaku UMKM tak hanya pulang dengan omzet, tapi juga dengan wawasan baru soal inovasi dan pemasaran. Apalagi sebagian dari mereka masih terbiasa jualan konvensional, tanpa tahu potensi pasar digital yang lebih luas.
“Mereka juga harus pandai-pandai menyesuaikan diri dan mengadopsi terkait dengan teknologi informasi,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan