KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi sejumlah tantangan dalam merealisasikan rencana pembangunan pusat pembiakan (breeding farm) sapi di Kecamatan Rantau Pulung.
Selain keterbatasan anggaran, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi di bidang pembiakan sapi juga menjadi kendala.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan, rencana tersebut muncul setelah jajaran Pemkab Kutim melakukan studi banding ke Malang, Jawa Timur, pada pertengahan 2025. Dari kunjungan itu, pemerintah daerah melihat peluang pengembangan sapi jenis Brahman Cross (BX) secara mandiri di Kutim.
Baca Juga: Wakili OJK Kaltim-Kaltara di Tingkat Nasional, Putra Kutim Bawa Inovasi Literasi Keuangan
“Karena itu kami berpikir bagaimana kalau membuat breeding farm sendiri untuk sapi,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kutim bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) telah mengidentifikasi lahan seluas sekitar 6 hektare di kawasan Rantau Pulung yang dinilai layak untuk mendukung pengembangan peternakan sapi.
Meski demikian, rencana tersebut belum dapat dijalankan dalam waktu dekat. Menurut Mahyunadi, kondisi keuangan daerah saat ini masih menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain, Kutim juga belum memiliki tenaga ahli yang berpengalaman dalam pengelolaan breeding farm.
Baca Juga: Harga Sawit Turun, DPRD Kutim Kritik Dinas Perkebunan yang Tak Punya Data
Ia menjelaskan, pemerintah daerah tengah berupaya mencari lokasi pembiakan sapi yang dapat dijadikan tempat belajar bagi SDM asal Kutim. Namun, hingga kini upaya tersebut belum membuahkan hasil karena belum ada pengelola breeding farm yang bersedia menerima kunjungan secara resmi.
"Kami coba cari breeding farm yang bisa melakukan pendidikan untuk SDM di Kutim. Nanti kami berangkatkan untuk belajar di sana," tuturnya.
Untuk menyiapkan kebutuhan tenaga ahli, Pemkab Kutim juga mendorong keterlibatan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutim. Mahyunadi berharap mahasiswa dapat memperoleh pengalaman melalui program magang di pusat-pusat pembiakan sapi yang telah berkembang di luar daerah.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar Kutim memiliki SDM yang siap ketika program breeding farm nantinya dapat direalisasikan.
“Kalau pemerintah daerah belum bisa menjalankan sepenuhnya, setidaknya mahasiswa STIPER bisa dipersiapkan lebih dulu melalui program magang agar ke depan tersedia SDM yang kompeten,” kata Mahyunadi. (*)
Editor : Duito Susanto