KALTIMPOST.ID, Pada tahun 1960, Presiden Juscelino Kubitschek berinisiatif memindahkan ibu kota Brasil dari Rio de Janeiro ke kota baru yang bernama Brasília. Tujuan utama dari pemindahan ini adalah untuk mempromosikan pengembangan wilayah tengah negara tersebut dan mengurangi ketergantungan pada wilayah pesisir. Brasília, yang didesain oleh arsitek Oscar Niemeyer dan perencana kota Lúcio Costa, dijadikan simbol modernisasi dan harapan baru bagi Brasil.
Seiring berjalannya waktu, pemindahan ibu kota ini menimbulkan berbagai kontroversi. Salah satu masalah utama adalah biaya yang sangat besar dalam pembangunan Brasília. Proyek ini menghabiskan anggaran negara sekitar Rp 37 triliun (sekitar USD 2.5 miliar saat itu, sekitar USD 21 miliar dengan penyesuaian inflasi menjadi Rp 311 triliun), yang seharusnya dapat digunakan untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan infrastruktur di wilayah lain.
Pemindahan ibu kota ini tidak secara signifikan mengurangi ketergantungan Brasil pada wilayah pesisir. Rio de Janeiro dan São Paulo tetap menjadi pusat ekonomi dan budaya negara tersebut. Banyak kritikus berpendapat bahwa pemindahan ini lebih bersifat simbolis daripada fungsional.
Baca Juga: Pindah Ibu Kota, Biaya IKN Tertinggi Dibanding Negara-Negara Lain
Polemik dan Tantangan
Hingga saat ini, Brasília masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah masalah ketimpangan sosial yang mencolok. Sementara pusat kota Brasília menampilkan arsitektur megah dan fasilitas modern, banyak penduduk di daerah pinggiran kota masih hidup dalam kemiskinan dan menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar.
Saat ini, Brasília memiliki sekitar 3,1 juta penduduk dengan luas wilayah sekitar 5.802 km². Namun, angka kemiskinan di kota ini cukup mengkhawatirkan, dengan sekitar 12% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Di sisi lain, Brasília juga mengalami masalah tata kelola kota yang tidak efisien. Kota ini dirancang dengan konsep yang idealis, namun implementasinya seringkali tidak berjalan sesuai rencana. Infrastruktur yang ada sering kali tidak memadai untuk menampung jumlah penduduk yang terus bertambah, menyebabkan kemacetan dan masalah transportasi lainnya.
Terisolasi dari Pusat Ekonomi
Brasília terletak di wilayah tengah Brasil, yang relatif jauh dari kota-kota besar lainnya. Kota ini berjarak sekitar 1.150 km dari Rio de Janeiro, 1.015 km dari São Paulo, dan 1.100 km dari Belo Horizonte. Jarak yang cukup jauh ini membuat Brasília agak terisolasi dari pusat-pusat ekonomi utama Brasil, yang sebagian besar terletak di wilayah pesisir.
"Pemindahan ibu kota ke Brasília adalah langkah yang ambisius, namun gagal mencapai banyak tujuan utamanya. Brasília mungkin menjadi simbol modernitas, tetapi masalah sosial dan ekonomi yang mendasar tetap tidak terpecahkan,” tutur Profesor João Sette Whitaker Ferreira, seorang pakar perencanaan kota dari Universitas São Paulo,
Sementara itu, Dr. Mariana Fix, seorang sosiolog urban dari Universitas Campinas, menyatakan, "Pembangunan Brasília mencerminkan ketimpangan yang ada di Brasil. Kota ini dirancang untuk elite, sementara banyak penduduknya yang terpinggirkan dan menghadapi kesulitan sehari-hari."
Pemindahan ibu kota Brasil ke Brasília adalah langkah yang penuh ambisi dan harapan. Namun, implementasinya menghadapi berbagai kendala dan kontroversi yang membuatnya sering dianggap gagal dalam mencapai tujuan utamanya. Meskipun Brasília kini berdiri sebagai simbol arsitektur modern dan pusat pemerintahan, tantangan-tantangan yang ada menunjukkan bahwa pemindahan ibu kota bukanlah solusi ajaib bagi masalah pembangunan suatu negara. Bagaimana dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) nanti? (*)
Editor : Dwi Puspitarini