KALTIMPOST.ID, Di tengah kesibukan kuliah, kerja, dan aktivitas digital, generasi Z kerap dihadapkan pada pilihan sederhana: olahraga singkat selama 10 menit atau nongkrong dua jam bersama teman.
Sekilas, nongkrong memang terasa lebih menyenangkan. Namun, keduanya ternyata punya peran berbeda dalam menjaga keseimbangan hidup.
Penelitian Harvard Medical School (2022) menyebut aktivitas fisik ringan berdurasi 10–15 menit dapat meningkatkan fokus, memperbaiki suasana hati, hingga menurunkan stres.
Baca Juga: Kenali Tanda-Tanda Anak Alami Cacingan Sejak Dini
Gerakan sederhana seperti peregangan, jalan cepat, atau yoga mampu memicu tubuh menghasilkan endorfin, hormon yang berperan penting menciptakan rasa bahagia.
Bahkan riset British Journal of Sports Medicine (2021) mencatat olahraga singkat secara rutin bisa menurunkan risiko penyakit jantung hingga 14 persen.
Sebaliknya, nongkrong juga memiliki manfaat sosial. Studi dari Journal of Social and Personal Relationships (2021) menemukan interaksi sosial hangat mampu meningkatkan rasa memiliki, mengurangi risiko kesepian, sekaligus memperkuat ikatan emosional.
Dua jam nongkrong bersama teman bisa jadi ruang aman untuk berbagi cerita, tertawa, dan melepas penat.
Baca Juga: Waspada Penyakit Cacingan, Begini Cara Pencegahannya Sehari-hari
Meski begitu, aktivitas ini bisa berdampak negatif bila hanya diisi dengan konsumsi berlebih minuman manis, kopi, atau sekadar gosip tanpa makna.
Psikolog klinis University of Connecticut, Dr. Sherry Pagoto, menegaskan gaya hidup sehat bukan soal memilih salah satunya. Olahraga memberi energi pada tubuh, sementara nongkrong mengisi kebutuhan emosional. “Sepuluh menit untuk tubuh, dua jam untuk hati dan pikiran. Keduanya bisa saling melengkapi,” katanya.
Dengan menempatkan olahraga dan nongkrong dalam porsi seimbang, hidup balance bukan sekadar jargon. Tapi bisa menjadi praktik nyata yang menjaga fisik, mental, dan sosial tetap selaras.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko