Bupati Ngada Raymundus Bena mengatakan, peristiwa memilukan tersebut berawal dari persoalan ekonomi keluarga dan kendala administrasi bantuan pendidikan. Korban disebut sempat meminta ibunya mencairkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membeli perlengkapan sekolah, namun belum bisa direalisasikan.
Menurut Raymundus, pencairan dana PIP terhambat karena data kependudukan sang ibu masih tercatat di Kabupaten Nagekeo, sementara domisili keluarga telah berpindah ke Ngada. Kondisi ini membuat proses administrasi tidak dapat dilanjutkan.
Baca Juga: Siswa SD Kelas IV di NTT Bunuh Diri Diduga Tak Mampu Beli Buku dan Pena
“Korban beberapa kali menanyakan soal pencairan bantuan sekolah itu. Ibunya menjelaskan masih harus mengurus administrasi kependudukan terlebih dahulu,” ujar Raymundus, Kamis (5/2).
Pada hari kejadian, Yohanes diketahui pergi ke rumah kebun milik neneknya. Namun, saat itu nenek korban tidak berada di lokasi. Warga sekitar sempat melihat korban sendirian dan menanyakan alasan tidak masuk sekolah, yang dijawab korban sedang sakit kepala.
Hasil penelusuran tim Pemkab Ngada juga mengungkap latar belakang keluarga korban. Yohanes merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan telah kehilangan ayahnya sejak usia dini. Dalam keseharian, korban lebih banyak diasuh oleh neneknya, sementara sang ibu tinggal terpisah bersama ayah tiri dan anak-anak lainnya.
Raymundus menilai faktor ekonomi, keterpisahan keluarga, serta kendala bantuan pendidikan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis korban. Pemerintah daerah, lanjut dia, akan melakukan evaluasi menyeluruh agar persoalan serupa tidak terulang.
Ke depan, Pemkab Ngada berencana menyiapkan skema bantuan pendidikan daerah sebagai pelengkap PIP nasional, termasuk penyediaan seragam sekolah bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Pemerintah juga akan memperketat pendataan kependudukan melalui pendekatan langsung ke masyarakat.
Baca Juga: Tragedi Anak SD Bunuh Diri di Ngada NTT: Hidup Serba Kekurangan, Surat untuk Ibu Jadi Pesan Terakhir
“Saya minta semua pihak lebih peduli. Jangan sampai ada anak yang hak pendidikannya terhambat hanya karena masalah administrasi,” tegasnya.
Sehari-hari Diasuh Nenek
Tragedi meninggalnya Yohanes Bastian Roja (YBR) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.
Rumah kecil berdinding bambu yang selama ini ia tempati bersama sang nenek kini menjadi saksi bisu perjalanan hidup anak tersebut.
Sejak usia belum genap dua tahun, YBR tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya. Ia diasuh oleh sang nenek dalam keterbatasan ekonomi, di sebuah pondok sederhana dengan kondisi serba pas-pasan.
Sang ayah dikabarkan telah meninggal dunia, sementara ibu kandungnya hidup terpisah bersama anak-anak lainnya.
Dalam kesehariannya, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Selain bersekolah, ia kerap membantu neneknya mencari nafkah dengan menjual sayur-mayur, ubi, serta kayu bakar. Untuk makan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan hasil kebun seadanya.
“Dia tidak pernah membantah, anaknya diam,” tutur sang nenek mengenang cucunya, Kamis (5/2/2026).
Menurut keluarga, YBR tidak pernah menunjukkan perilaku mencurigakan. Keluhan yang kerap ia sampaikan pun tergolong sederhana, yakni keinginan memiliki buku tulis dan alat tulis untuk keperluan sekolah.
Ibu kandung YBR, Maria Goreti Te’a, mengungkapkan bahwa pada hari kejadian, anaknya sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun karena khawatir tertinggal pelajaran, ia tetap meminta YBR masuk sekolah dan mengantarnya menggunakan ojek.
Baca Juga: Bek Andalan Timnas Indonesia Rizky Ridho Umumkan Istri Hamil Anak Pertama
“Tidak ada firasat apa-apa. Malam sebelumnya dia tidur di rumah saya, hanya bilang ingin dibelikan buku dan pena,” ujar Maria dengan suara bergetar.
Beberapa jam kemudian, kabar duka datang dan mengejutkan seluruh keluarga. Peristiwa ini pun menyisakan luka mendalam serta menjadi sorotan publik terkait persoalan kemiskinan, perhatian keluarga, dan perlindungan anak di daerah terpencil.
Editor : Uways Alqadrie