Oleh:
Rusdiansyah Aras
Pengamat Olahraga Kaltim
KALTIMPOST.ID - Bisakah praktisi, akademisi, dan mantan atlet di Kalimantan Timur duduk satu meja dan bergerak bersama demi masa depan atlet muda? Jawaban tegasnya: bukan sekadar bisa, tapi wajib.
Selama ini, kita sering berjalan di jalur masing-masing. Di satu sisi, ada "Gudang Ilmu" di Universitas Mulawarman (Unmul) dengan Fakultas Olahraganya yang prestisius. Ada juga pemikir hebat seperti Dr Galih dari UMKT, serta Dr Jufri Bama dan Dr Rohandi, yang memiliki kedalaman teori luar biasa.
Di sisi lain, barisan mantan atlet nasional kaya akan pengalaman kompetisi tingkat tinggi. Namun, ilmu tanpa praktik adalah lumpuh, dan praktik tanpa dasar ilmu adalah buta.
Baca Juga: KONI Kaltim Tegaskan Porprov 2026 Tidak Boleh Mundur, Fokus PON 2028 Jadi Taruhan
Sinergi Sport Science dan Pengalaman
Mengembangkan atlet muda era modern tidak bisa lagi hanya mengandalkan "feeling" atau metode konvensional. Kita butuh intervensi sport science. Di sinilah peran para doktor dan akademisi menjadi krusial: mereka menyuplai data, menganalisis biomekanika, dan menyusun program latihan terukur.
Tetapi, data tidak akan "berbunyi" tanpa dieksekusi oleh mereka yang pernah merasakan kerasnya persaingan di lapangan. Mantan atlet nasional adalah mentor terbaik untuk membangun mental juara. Mereka tahu kapan seorang atlet muda tergelincir secara psikologis atau kapan intensitas latihan harus ditingkatkan di atas batas normal.
Membangun Ekosistem, Bukan Ego-Sistem
Hambatan terbesar kolaborasi sering bukan kekurangan fasilitas, melainkan ego sektoral. Jika ingin atlet Kaltim merajai kancah nasional hingga internasional, "Ego-Sistem" harus berubah menjadi "Ekosistem".
Bayangkan jika:
- Unmul dan UMKT menjadi pusat riset dan laboratorium performa atlet.
- Para doktor (Galih, Jufri Bama, Rohandi) merumuskan kurikulum pelatihan berbasis sains.
- Mantan atlet nasional turun ke lapangan sebagai instruktur teknis sekaligus inspirator moral.
- KONI dan pengprov menjadi jembatan regulasi dan pendanaan.
Satu Tujuan: Emas untuk Benua Etam
Tujuan kita satu: memastikan bakat muda dari Mahakam hingga pesisir Berau tidak layu sebelum berkembang. Mereka harus menang karena persiapan saintifik dan mental, bukan keberuntungan semata.
Saatnya buang jauh-jauh sekat antara "orang kampus" dan "orang lapangan". Jika para pemikir dan petarung ini bersatu, kejayaan olahraga Kalimantan Timur bukan lagi mimpi, melainkan kepastian yang tinggal menunggu waktu. (*)
Editor : Ery Supriyadi