Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Wajah Ganda Pelayanan Medis

Redaksi KP • Minggu, 3 Mei 2026 | 19:28 WIB
Ilustrasi peran ganda dokter.
Ilustrasi peran ganda dokter.

Oleh:

Kevin Septian

Dokter Gigi dan Pegiat Literasi asal Samarinda

DALAM praktik pelayanan kesehatan, ada dua kata yang selalu melekat pada profesionalitas tenaga medis dan tenaga kesehatan: tegas dan empati. Dua hal ini kerap dipersepsikan berbeda oleh pasien. Di satu sisi, ketegasan sering dianggap sebagai sikap dingin atau bahkan galak. Di sisi lain, empati diharapkan sebagai bentuk kepedulian terhadap rasa sakit yang mereka alami. Padahal, keduanya bukanlah pilihan, melainkan keseimbangan yang harus dijaga.

Tenaga medis, dokter dan dokter gigi, serta tenaga kesehatan lainnya, pada dasarnya berada dalam posisi yang tidak sederhana. Mereka ibarat berjalan di atas tali, menjaga keseimbangan antara ketegasan dalam mengambil keputusan medis dan empati dalam memahami kondisi pasien. Ketimpangan pada salah satu sisi dapat berdampak langsung pada kualitas pelayanan.

Ketika tenaga medis terlalu tegas, pasien bisa merasa diperlakukan secara kaku, bahkan tidak manusiawi. Sebaliknya, jika terlalu mengedepankan empati tanpa ketegasan, arah pengobatan bisa menjadi tidak jelas dan berisiko menghambat proses penyembuhan. Karena itu, profesionalitas sejati justru lahir dari kemampuan mengelola keduanya secara bersamaan.

Secara konseptual, ketegasan berarti kejelasan dalam menyampaikan arahan, diagnosis, maupun tindakan medis. Ini mencakup cara berbicara, pilihan kata, hingga ketepatan informasi yang diberikan. Sementara empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan pasien, mendengarkan keluhan, memahami ketakutan, dan memberi penjelasan yang menenangkan.

Kevin Septian
Kevin Septian

 

Dalam praktik sehari-hari, keseimbangan ini sangat nyata. Misalnya pada kasus pasien anak. Seorang anak usia empat tahun dengan kondisi gigi rusak akibat kebiasaan konsumsi makanan manis tanpa perawatan yang baik, membutuhkan pendekatan berbeda.

Kepada anak, tenaga medis harus mengedepankan empati, berbicara dengan lembut, memahami rasa takut, dan membangun kepercayaan. Namun kepada orang tua, ketegasan menjadi penting. Edukasi harus disampaikan secara jelas bahwa perubahan perilaku adalah kunci utama penyembuhan. Tanpa peran orang tua, perawatan medis tidak akan optimal.

Di sinilah keseimbangan itu bekerja. Empati menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan, sementara ketegasan menjadi arah yang menuntun perubahan. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa empati berpengaruh besar terhadap kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Sementara dalam etika kedokteran, ketegasan berkaitan erat dengan prinsip berbuat baik dan tidak merugikan. Artinya, keputusan medis yang tegas justru merupakan bentuk tanggung jawab profesional.

Selain itu, regulasi juga menegaskan adanya hubungan timbal balik antara tenaga medis dan pasien. Pasien berhak mendapatkan penjelasan yang jelas, namun juga berkewajiban mengikuti arahan yang diberikan. Dalam konteks ini, komunikasi yang seimbang antara empati dan ketegasan menjadi kunci utama.

Jika salah satu diabaikan, pelayanan kesehatan akan kehilangan maknanya. Ketegasan tanpa empati berisiko melahirkan pelayanan yang kaku dan tidak manusiawi. Sebaliknya, empati tanpa ketegasan hanya akan menciptakan kebingungan tanpa arah.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi tenaga medis bukan hanya soal kompetensi klinis, tetapi kemampuan membaca situasi dan menempatkan diri secara tepat. Fleksibilitas dalam bersikap menjadi penentu apakah pelayanan yang diberikan benar-benar berdampak.

Menjadi tenaga medis bukan sekadar menyembuhkan penyakit, tetapi juga membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itu hanya bisa tumbuh ketika ketegasan dan empati berjalan beriringan. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#tenaga medis #dokter gigi #empati