Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis Buku “Empat Titik Lima Dimensi”
KALTIMPOST.ID, Disadari atau tidak, jutaan pemuda dari Sabang hingga Merauke akan menjadi modal manusia yang sangat besar jika didayagunakan dengan optimal. Apalagi seperti yang telah kita maklumi bersama, pemuda adalah aset berharga yang tidak hanya menjadi subjek, tetapi juga penopang utama pembangunan nasional.
Lebih daripada itu, pemuda hari ini, saya kira berpotensi besar menjadi akselerator. Dengan idealismenya, pikirannya, ilmunya, gagasan, dan kemampuannya, kaum muda bisa menciptakan arus perubahan dan bahkan menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjalanan bangsa ini.
Seperti halnya para pemuda pada zaman prakemerdekaan yang terbukti mampu menjadi pionir, penggerak, dan aktor yang mengusir kolonialisme dan imperialisme dari bumi Ibu Pertiwi. Memang, membandingkan pemuda yang hidup hari ini dengan pemuda yang hidup puluhan atau ratusan tahun lalu harus dilihat dari segala sisi, mengingat situasi dan kondisi zaman keduanya berlainan.
Namun, pastinya ada satu kesamaan yang sukar dipungkiri bahwa pada umumnya, pemuda dari lintas generasi mempunyai potensi yang sama untuk berkontribusi pada bangsa dan negaranya. Terutama pemuda yang hidup di era digital sekarang yang dimanjakan dengan beragam kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Tentu saja berpeluang besar untuk mengasah hard skill dan soft skill-nya tidak hanya di ruang-ruang kelas sekolah/kampus yang terbatas jam pelajaran.
Baca Juga: Pemerintah Sudah Digital, Tetapi Apakah Sudah Berubah?
Kaum muda hari ini memiliki kesempatan yang begitu besar untuk belajar apa saja, kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Lewat internet, kita seakan mampu mengelilingi dunia, melihat dunia lebih jelas dari layar telepon seluler. Persoalannya adalah apakah kita tergerus roda zaman yang kian gesit perputarannya? Apakah kita sebatas menjadi buih di lautan yang gampang terhempas atau batu karang yang kokoh diterjang gelombang?
Terkait hal itu, kepekaan dan kemampuan beradaptasi wajib dimiliki oleh kaum muda. Bukan hanya untuk mengikuti arus, tetapi untuk menciptakan arus. Bukan sekadar menjadi objek, tetapi menjadi subjek perubahan itu sendiri. Kemampuan memilah dan memilih konten-konten yang bermanfaat dan yang tidak rasanya mesti dimiliki setiap kaum muda. Jika tidak, pikiran, mental, dan bahkan kepribadiannya gampang dipengaruhi oleh konten-konten di internet.
Sebab, tidak semua konten tulisan, gambar, grafik, dan video di media sosial (medsos) itu pasti membawa dampak positif. Di balik itu, ada ancaman nyata yang bisa memporak-porandakan nilai-nilai luhur yang selama ini dipegang erat-erat oleh pemuda. Di balik itu semua, ada konten-konten “berbahaya” yang pelan-pelan atau bahkan secepat kilat bisa merusak pikiran kita.
Saya pribadi menyadari betul bahwa internet ini semacam memiliki daya magis yang mampu menghipnotis atau bahkan menyihir siapa saja yang tidak bijak dalam menggunakannya. Bayangkan saja, ada di antara kita yang dalam sehari semalam menghabiskan berjam-jam hanya untuk melihat konten-konten yang kurang atau bahkan tidak bermutu.
Betapa ruginya kita. Internet yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan diri, membangun jejaring, meningkatkan wawasan dan pengetahuan, justru menjadi penjebak yang meninabobokkan kita ke dalam alam fantasi. Tawaran kesenangan temporer yang instan itu justru menjadi bumerang yang membuat kita selalu menunda atau malas mengerjakan aktivitas-aktivitas produktif lainnya. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh.
Saya pribadi acap kali mengalaminya. Sampai sekarang, kalau boleh terus terang, saya masih berupaya untuk mengendalikan penggunaan internet, lebih khususnya lagi medsos. Sebab, secara teori, saya paham betul kerugian yang akan saya dapatkan jika tenggelam dalam lautan konten. Selain rugi waktu dan pikiran, hal semacam itu membatasi saya untuk berinteraksi dengan orang lain di alam nyata. Padahal saya sama sekali tidak antisosial. Ini murni gara-gara ketidakmampuan dalam mengendalikan penggunaan medsos.
Sangat sulit dibayangkan jika anak-anak muda kita terpasung pikirannya, terjebak dalam situasi yang memang membuat mereka mengalami kecanduan. Efeknya akan mengurangi produktivitas dan bahkan membuat semakin malas dalam belajar, bekerja, berkarya, dan melakukan aktivitas produktif lainnya.
Padahal kaum muda adalah aset berharga bangsa ini untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Kaum muda adalah harapan sekaligus generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa pada masa mendatang. Semestinya, kaum muda berbenah diri, segera mempersiapkan diri agar mampu menjadi inisiator, aktor, dan akselerator pembangunan bangsa di berbagai bidang. Baik dengan lebih fokus dalam menimba ilmu, berorganisasi, berjejaring, menulis, dan semacamnya.
Sebab, bagaimanapun juga, modal ilmu yang mendalam dan luas mesti digenggam untuk mengarungi kehidupan yang tantangan dan persoalannya kian kompleks. Termasuk modal jejaring, kepemimpinan, keberanian berinisiatif dan mengambil risiko, kreativitas, inovasi, dan kecakapan menggunakan bahasa asing (Inggris, Mandarin, dan sebagainya), kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulisan, kemampuan bernegosiasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan sebagainya, itu mesti dimiliki. Termasuk kemampuan mengendus dan mengambil peluang.
Baca Juga: Kemiskinan, Baznas dan CSR
Rasa-rasanya, kemampuan itu juga patut dimiliki oleh pemuda. Jangan sampai bonus demografi yang sedang dan akan kita hadapi hingga beberapa tahun ke depan berbalik arah menjadi petaka demografi.
Petaka demografi ini adalah kondisi di mana kaum muda justru menjadi biang keladi persoalan di tengah masyarakat. Alih-alih menjadi pemecah masalah dengan berbagai macam gagasan dan gebrakannya, pemuda justru menjadi aktor utama terjadinya problematika sosial. Sungguh, keadaan semacam ini sama sekali tidak kita harapkan. Lewat catatan ini, sebenarnya saya juga mengingatkan diri saya sendiri yang juga termasuk golongan muda agar tidak sembrono dalam menjalani hidup. Sembrono dalam arti menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada. Sebab, usia muda ini hanya sekali seumur hidup.
Sekali terlewati, tidak akan pernah kembali. Dan satu lagi, gelombang perubahan hanya akan terjadi dengan kekuatan persatuan kaum muda. Dengan kekuatan persatuan, kita tidak hanya bisa menjadi penggerak perubahan. Lebih dari itu, kita mampu menorehkan tinta emas dalam setiap lembaran sejarah perjalanan bangsa ini. Lalu pertanyaan selanjutnya, apa yang telah, sedang, dan akan kita dharmabaktikan untuk Indonesia?
Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab di atas kertas. Cukup renungi secara mendalam. Lalu buktikan kepada dunia bahwa pemuda Indonesia adalah generasi tangguh yang siap terbang tinggi dan menjadikan Indonesia sebagai mercusuar peradaban dunia. Dengan begitu pula, kita turut mengantisipasi terjadinya petaka demografi melalui sepak terjang kita di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak sekadar ditentukan oleh kuantitas pemudanya, melainkan yang lebih penting adalah kualitas pemudanya. Bangsa yang memiliki banyak pemuda yang terdidik, terampil, kritis, kreatif, inovatif, dan berdaya saing tinggi berpotensi besar mendongkrak daya saing bangsa. Dengan begitu, bonus demografi akan menjadi keunggulan dalam proses menuju Indonesia Emas 2045. Dan sekali lagi, kita harus kompak untuk mengantisipasi petaka demografi demi mewujudkan mimpi besar itu. (*)
Editor : Almasrifah