Pemuda dan Masa Depan Demokrasi Kita

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 08:26 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Dalam alam demokrasi kita, peran vital kaum muda tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, hak mereka dalam berekspresi dan beraspirasi dijamin oleh konstitusi. Setiap pemuda bebas mengungkapkan segala unek-unek, keluh kesah, dan kritikan; lewat lisan ataupun tulisan, terhadap tata kelola pemerintahan. Tentu dengan catatan harus sesuai dengan “aturan main” yang telah disepakati bersama. Lebih-lebih di era digital sekarang, dalam sepersekian detik, ocehan pemuda terhadap penguasa, umpamanya, bisa saja menggemparkan jagat maya. Tidak hanya itu, bisa saja menjadi pemicu terjadinya gerakan arus bawah dalam menentang beragam bentuk ketidakadilan yang kian akut. Ditambah lagi, kekuatan kata-kata yang dikemas lewat konten bermutu dan menarik, yang disebarluaskan secara terencana, masif, terarah, dan berkelanjutan, itu memiliki “daya ledak” yang cukup hebat. Bisa saja membuat gemetar sebagian pemimpin yang lisan dan perbuatannya tidak selaras.

Saya pribadi sepenuhnya meyakini bahwa di negeri ini sebenarnya tidak kekurangan anak-anak muda yang pintar dan cerdas. Seperti halnya jutaan sarjana yang tersebar di seluruh penjuru negeri, bisa saja menjadi ujung tombak dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Anak-anak muda terdidik tersebut bisa menjadi penopang utama dalam menumbuhkembangkan demokrasi kita menjadi lebih bermartabat alias tidak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Lewat gagasan, tindakan, pemikiran, kompetensi, dan segala hal yang dimiliki, mereka bisa menjadi aktor, inisiator, dan sekaligus akselerator pembangunan nasional. Pemuda, sekali lagi, berpotensi besar menjadi problem solver. Pertanyaannya, apakah kaum muda yang bertahun-tahun mengenyam pendidikan tinggi itu memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap persoalan bangsa dan negara? Adakah kepedulian dalam diri generasi penerus tersebut terhadap masa depan Ibu Pertiwi?

Baca Juga: Bahasa di Ujung Stetoskop

Lebih lanjut, persatuan, soliditas, dan solidaritas pemuda Indonesia mesti segera dibangun dan diperkokoh agar gerakan perjuangan tidak mudah terpecah atau tercerai-berai. Salah satu misi perjuangan yang bisa dibawa kaum muda, umpamanya, yaitu berpartisipasi secara aktif dalam memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya dan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, transparan, dan bertanggung jawab. Sebab, tidak sedikit pemimpin itu merasa dirinya adalah majikan atas rakyat. Seakan-akan rakyat adalah bawahan yang bisa diperlakukan semau-maunya. Seolah-olah rakyat adalah babu yang hanya bisa mengamini berbagai regulasi, program, dan kebijakan yang ditetapkan kendatipun bertolak belakang dengan kebutuhan dan kepentingannya.

Relasi semacam itu sama sekali tidak sehat dan menodai amanah konstitusi. Rakyat, bagaimanapun juga, adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini. Kekuasaan, di segala lini, sejatinya itu dari, oleh, dan untuk rakyat. Bukan dari, oleh, dan untuk partai, individu, dan golongan tertentu. Dalam konteks ini, pemuda memang sudah saatnya bersuara lantang, tegas, dan kritis dalam mengawal berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir individu.

Gerakan perjuangan kaum muda hari ini, barangkali memang belum terkoordinasi dengan baik. Perlawanan terhadap beragam kezaliman yang dimotori pemuda intelektual, rasanya masih bisa dihitung jari. Kendatipun ada, biasanya terpisah-pisah dan hanya membawa agendanya masing-masing. Tidak menjadi suatu gelombang gerakan yang utuh dan berdampak terhadap perombakan struktur dan tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang mungkin selama ini merugikan rakyat.

Baca Juga: Menyelamatkan PPU, Menyelamatkan Gerbang Nusantara

Apalagi, sebagian dari gerakan pemuda, begitu rawan ditunggangi kepentingan elite politik. Begitu potensial dijadikan batu loncatan oleh oknum-oknum tertentu yang hanya bertujuan menggolkan kepentingan diri dan golongannya masing-masing. Celakanya lagi, sebagian dari kaum muda kita ternyata masih belum kokoh prinsip dan pendiriannya. Terbukti, beberapa aktivis mudah berganti haluan dan berbalik arah ketika sudah diming-imingi dengan segepok lembaran rupiah. Apa yang saya nyatakan ini, bukanlah tuduhan tanpa dasar. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa sejumlah kaum pintar terdidik kita ternyata tidak sepenuhnya berdiri bersama rakyat.

Hal semacam itulah yang membuat gerakan pemuda menjadi lemah dan kian kendor. Begitu gampang dikendalikan oleh segelintir elite yang hanya bermodalkan cuan. Di sisi lain, sejumlah aktivis tidak kuat menahan godaan materi. Maka sewaktu-waktu bisa terjadi “kolaborasi” atau “permufakatan jahat” di antara keduanya. Alih-alih berdemonstrasi untuk kepentingan rakyat, yang terjadi justru sebaliknya, suaranya menggelegar hanya karena tidak kuat menahan lapar. Aktivis cap amplop, begitulah kira-kira untuk menyederhanakan istilah yang bisa kita pakai. Padahal, kekuatan sipil, yang dalam hal ini, adalah kaum terpelajar, diharapkan menjadi pilar yang menguatkan demokrasi kita. Sebab, akhir-akhir ini, hemat pengamatan saya selaku penulis, ada gejala yang menunjukkan bahwa kekuasaan mulai terkonsentrasi di lembaga eksekutif. Peran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), terus terang saja, bisa dikatakan kurang atau bahkan tidak optimal, terutama dalam mengawasi semua kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Jangan Membuat Warga Memahami Kerumitan Pemerintah

Maka dari itulah, lewat catatan ini, saya berharap, setidaknya sebagian atau bahkan semua anak muda, bisa tersadar dan terpanggil jiwanya untuk memberikan sumbangsih nyata dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang berpihak pada kepentingan rakyat. Sebab, cepat atau lambat, kita akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa di segala sektor. Dari sekarang, sensitivitas sosial itu hendaknya kita senantiasa diasah atau dilatih. Anak-anak muda kita, memang sudah saatnya mulai belajar menyelami denyut nadi kehidupan rakyat. Merasakan apa jerit tangis dan keluh kesah wong cilik di sekitarnya sembari berpikir keras apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya mengurangi atau bahkan syukur-syukur menghilangkan beban di pundak kaum yang terpinggirkan itu.

Memungkasi artikel ini, lagi-lagi, saya harus kembali mengungkapkan bahwa perjuangan kaum muda belum selesai. Perjalanan angkatan muda masih panjang. Banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan kontribusi aktif generasi muda. Tentu saja, kita tidak ingin demokrasi kita ini menuju lembah kehancuran sebab anak-anak mudanya semakin apatis. Minimal, anak-anak muda tersebut bisa menahan diri untuk tidak memperkeruh keadaan atau membuat rakyat kian pesimistis. Bangunlah optimisme di tengah rakyat lewat pemikiran dan tindakan nyata. Koreksilah segala tindak-tanduk pemimpin yang mungkin sudah melewati batas. Saya percaya betul, pemuda hari ini mampu menghidupkan api perjuangan itu. Pemuda bisa mengambil bagian dalam mewujudkan masa depan demokrasi kita yang lebih cerah dan (*)

Editor : Almasrifah
intelektual Aktivis cap amplop pemuda demokrasi masa depan