KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT – Tiga pelajar asal Paser dari SMA 1 Tanah Grogot, sukses mengukir prestasi gemilang dengan menjuarai ajang Cerdas Cermat Sejarah dan Budaya Daerah Kalimantan Timur (Kaltim).
Mereka menumbangkan 57 sekolah lain dari seluruh Kaltim dalam kompetisi sengit yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim di Balikpapan pada 25-27 November 2025.
Tim hebat ini digawangi oleh Melida Aura Putri (XI-A Teknik), Pablo Sagala (XI-C Kesehatan), dan Diah Ayu Purbaningrum (XI-C Kesehatan). Ketiganya tak hanya membawa pulang piala, tetapi juga mengharumkan nama Paser di tingkat provinsi.
Guru Pembimbing, Mery Melyantini menjelaskan bahwa kompetisi ini jauh dari sekadar adu cepat menjawab. Kegiatan cerdas cermat itu dibagi dalam tiga babak, salah satunya pembuatan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang diikuti oleh 57 sekolah se-Kaltim dan diseleksi menjadi 12 sekolah untuk masuk dalam semi final di Balikpapan.
Dalam KTI-nya, tim SMA 1 Tanah Grogot mengangkat topik menarik tentang 'Melas Taon', menjabarkan bagaimana tradisi ini bertransformasi dari tahun ke tahun dalam aspek ekonomi, sosial, dan budaya.
"Sebuah topik orisinal yang tampaknya berhasil memukau dewan juri," kata Mery, Kamis (4/12/2025).
Perwakilan Paser tidak hanya satu! SMA 1 Muara Komam juga berhasil menembus babak semifinal, menunjukkan potensi besar pelajar di Paser.
Keberhasilan ini ternyata bukan kebetulan. Dua dari anggota tim, Pablo Sagala dan Diah Ayu Purbaningrum, diketahui sudah kenyang pengalaman bertanding. Mereka pernah mengikuti ajang Cerdas Cermat Museum Nasional pada tahun 2022. Pengalaman berharga ini tentu menjadi modal penting dalam menghadapi ketatnya persaingan di tingkat Kaltim.
Pablo Sagala menyampaikan harapannya agar prestasi ini menjadi pelecut semangat. "Harapannya tahun berikutnya ketika ada perlombaan cerdas cermat di tingkat provinsi dapat mempertahankan apa yang sudah diraih sebelumnya," ujar Pablo.
Luar biasanya lagi, KTI yang sudah mereka buat tentang 'Melas Taon' kini direncanakan akan dilanjutkan dan dikembangkan menjadi penelitian untuk ajang bergengsi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Ketiga pelajar ini menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak, mulai dari dukungan dispensasi sekolah hingga bantuan para narasumber yang mereka wawancarai untuk pembuatan KTI. Sebuah bukti bahwa prestasi lahir dari kolaborasi dan kerja keras semua pihak. (*)
Editor : Duito Susanto