KALTIMPOST.ID, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, terutama para santri, untuk lebih berhati-hati dalam memilih lagu berbahasa Arab.
Hal ini menyusul insiden syair lagu Arab bernuansa dewasa yang dinyanyikan di acara keagamaan.
Sekretaris MUI PPU, Rakhmadi, menyatakan bahwa tidak semua lagu Arab mencerminkan nilai-nilai Islam.
“Tidak semua syair berbahasa Arab itu mengandung nilai keislaman. Ada yang justru bermuatan negatif. Kita perlu lebih selektif dalam memilih lagu,” ungkapnya, Selasa (21/1).
Baca Juga: Kebutuhan Penerbangan Melonjak, Fly Jaya Hadir: Solusi Baru Transportasi Udara Indonesia!
Rakhmadi juga menekankan pentingnya peran ustaz, kiai, dan pengasuh pondok pesantren untuk mengawasi para santri.
“Para pendidik agama harus membimbing para santri agar memahami Islam secara mendalam dan tidak terjerumus pada hal yang bertentangan dengan ajaran agama,” tambahnya.
Salah satu contoh lagu yang menjadi perhatian adalah "Qoddukal Mayyas," yang sering disangka sebagai sholawat karena berbahasa Arab.
Padahal, lagu ini memuat pujian terhadap bentuk tubuh wanita dan ajakan hubungan dewasa. “Ini terjadi karena rendahnya pemahaman bahasa Arab. Kita sering menganggap semua lagu Arab sebagai religi,” jelas Rakhmadi.
Baca Juga: Efek Domino Penarikan AS dari Perjanjian Paris: Krisis Iklim dan Ekonomi Mengintai?
Selain "Qoddukal Mayyas," lagu lain seperti "Ya Tabtab," yang dinyanyikan penyanyi non-Muslim Nancy Ajram, juga disalahartikan sebagai lagu religi.
Faktanya, lagu tersebut merujuk pada gambaran fisik yang sensual.
MUI PPU mendorong masyarakat, terutama para santri, untuk mempelajari bahasa Arab agar tidak mudah terkecoh. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (*)
Editor : Dwi Puspitarini