PENAJAM - Saat berbicara tentang kekayaan kuliner daerah, setiap wilayah di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing. Di Penajam Paser Utara (PPU), sebuah kabupaten yang kaya akan adat dan budaya, terdapat salah satu buah langka yang memiliki cerita unik, yaitu buah lepiu.
Buah ini juga dikenal dengan sebutan dampo durian atau dodol durian karena biasanya diolah menjadi hidangan khas yang lezat. Menurut Paidah Riansyah, seorang pemerhati budaya dan sejarah Paser, sekaligus pengurus di Lembaga Adat Paser (LAP) PPU di bidang kebudayaan dan pariwisata, buah lepiu adalah salah satu kekayaan alam yang patut dilestarikan.
“Buah lepiu ini memang unik, tidak mudah ditemukan, dan punya nilai sejarah serta budaya bagi masyarakat Paser,” kata Paidah Riansyah, Selasa (19/8).
Diungkapkannya, buah lepiu memiliki bentuk yang menyerupai hati, dengan kulit berwarna coklat kemerahan hingga kehitaman. Isinya berwarna putih kekuningan, dan bentuk buahnya menjadi pipih seperti jengkol saat sudah matang.
Pohon lepiu tumbuh merambat seperti rotan pada pohon-pohon besar dan tinggi di hutan. “Karena termasuk buah langka kadangkala harganya cukup mahal juga,” ujarnya.
Dia menyebutkan, habitat tanaman ini berada di tempat-tempat yang lembab, seperti di dekat sungai atau rawa. Hal ini membuatnya semakin sulit ditemukan, dan keberadaannya pun menjadi langka. Menurut Paidah, buah ini berbuah hanya sekitar lima tahun sekali, menjadikannya salah satu buah termahal dan paling dicari di daerah tersebut.
Buah lain yang disebutnya masuk kategori langka adalah buah bernama dampo durian atau dodol durian, meskipun olahan ini tidak selalu dibuat dari buah durian. Sering kali, dampo durian justru terbuat dari buah lepiu. Makanan ini dibuat dengan memasak daging buah di atas bara api hingga kadar airnya menguap sepenuhnya dan teksturnya menjadi tidak lengket.
“Berbeda dengan dodol pada umumnya yang menggunakan campuran gula atau bahan tambahan lain, dampo durian dibuat secara murni hanya dari buahnya. Proses pembuatannya yang sederhana ini justru menonjolkan cita rasa asli dari buah lepiu,” jelasnya.
Dampo durian biasanya dibuat dari buah yang belum terlalu matang atau memiliki rasa yang sedikit hambar. Hasil akhirnya memiliki tekstur yang mirip dengan dodol, namun dengan cita rasa yang khas dan unik. Makanan ini sering dijual di pasar-pasar tradisional dan menjadi oleh-oleh favorit para wisatawan yang berkunjung ke PPU.
Selain kekayaan buahnya, PPU juga dikenal dengan keberadaan pohon Aghatis, yang merupakan pohon terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu ikon wisata alam di daerah tersebut. Kekayaan alam dan budaya PPU, mulai dari buah lepiu hingga pohon Aghatis, membuktikan bahwa kabupaten ini memiliki potensi besar yang patut untuk dieksplorasi.
Khusus tentang pohon aghatis berada di kawasan perusahaan perkayuan PT International Timber Corporation Indonesia Kartika Utama (ITCIKU) yang kini masuk bagian Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku, PPU, tercatat masuk Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai pohon terbesar di Indonesia.
Pohon ini memiliki diameter kurang lebih tujuh meter diperkirakan telah berusia ratusan tahun, dilihat dari diameternya yang cukup besar dengan batangnya yang kokoh dan menjulang tinggi. (*)
Editor : Sukri Sikki