KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Kepala Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU), Hasbi Rudianto, memilih tidak menanggapi sorotan tajam yang dialamatkan kepadanya dari Ketua Aliansi Pemuda PPU, Eko Cahyo Riswanto.
Sorotan tajam itu berkaitan dengan keberangkatan kepala desa bersama rombongan sebanyak 48 orang unsur pemerintah desa, untuk studi tiru di Pulau Dewata Bali, sebagaimana dilansir media ini, Jumat (14/11).
Tiga kali permintaan konfirmasi yang dikirim melalui platform perpesanan WhatsApp (WA) tidak diberi respons. Namun, Kepala Desa Giripurwa, Hasbi Rudianto, menyampaikan ucapan terima kasih atas pemuatan berita dimaksud melalui salah satu grup WA yang juga diikuti oleh media ini, pukul 20.19 Wita, Jumat (14/11).
Camat Penajam, PPU, Dahlan, saat dikonfirmasi terkait hal yang sama pada Jumat (14/11) juga tidak memberi respons. Sementara, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) PPU, Tohar, yang dikonfirmasi mengenai keberangkatan unsur pemerintahan desa tersebut ke Bali, termasuk penggunaan dana, ia mengaku, tidak mengetahui.
Baca Juga: PPU Target Juara Umum Popda Kaltim XVII, Disdikpora Ingatkan Atlet Tetap Junjung Sportivitas
“Terkait dengan penggunaan dana untuk kegiatan dimaksud saya juga tidak paham. Kemudian terkait dengan penggunaan juga saya juga tidak paham. Silakan dikonfirmasi sampai dapat konfirmasinya,” kata Tohar melalui pesan WA sekira pukul 08.10 Wita, Sabtu (15/11).
Mengutip kembali pewartaan sebelumnya, di tengah imbauan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk efisiensi anggaran dan fokus pada kegiatan prioritas, serta kondisi defisit fiskal yang dialami Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Pemerintah Desa Giripurwa di Kecamatan Penajam baru saja menyelenggarakan kegiatan Studi Tiru ke Pulau Dewata, Bali yang menelan biaya fantastis, diperkirakan mencapai hampir setengah miliar rupiah. Ironisnya, kegiatan tersebut melibatkan rombongan besar, yakni 48 orang dari unsur pemerintah desa.
Sorotan tajam ini datang dari Aliansi Pemuda PPU, yang diwakili oleh koordinatornya, Eko Cahyo Riswanto. Eko menyayangkan kebijakan penggunaan Anggaran Dana Desa (ADD) yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan daerah.
Eko Cahyo Riswanto dengan tegas menyatakan mengecewakannya. Menurutnya, penggunaan ratusan juta rupiah dana desa untuk studi tiru di tengah kondisi defisit anggaran PPU merupakan pemborosan yang tidak perlu.
Di tengah kondisi defisit anggaran di Kabupaten PPU, yang seharusnya desa bisa melakukan kegiatan yang lebih prioritas, justru menghabiskan ratusan juta ADD hanya untuk melakukan studi tiru,” ujar Eko Cahyo Riswanto kepada media, Jumat (14/11).
Baca Juga: Wabup Tutup Orientasi PPPK PPU, Tekankan Nilai Etika dan Integritas ASN
Ia menilai efektivitas kegiatan studi tersebut patut didiskusikan, terutama dengan jumlah peserta yang sangat banyak. “Kegiatan studi tiru harusnya dengan mengirim 2 orang saja sudah cukup untuk menyerap ilmu dan melihat inovasi yang ada di daerah lain,” tambahnya. Dia menekankan bahwa efisiensi dapat diterapkan tanpa mengurangi esensi pembelajaran.
Fakta Kontras
Eko mengungkapkan, Kabupaten PPU mengalami defisit anggaran (berdasarkan laporan APBD 2024 yang mencatatkan defisit hingga ratusan miliar rupiah). Instruksi Presiden menekankan efisiensi belanja dan fokus pada belanja prioritas (pengeluaran prioritas). Desa Giripurwa mengirim 48 orang ke Bali dengan perkiraan biaya Rp 500 Juta.
Tak henti-hentinya mengkritik, Aliansi Pemuda PPU berencana membawa isu ini ke ranah hukum dan pengawasan internal pemerintah. Eko Cahyo Riswanto menegaskan bahwa penundaan akan segera mengambil langkah konkrit.
“Aliansi juga akan bersurat pada Inspektorat dan Kejaksaan untuk mendalami apakah ada kerugian pada kegiatan desa tersebut,” tutupnya.
Langkah ini, lanjut dia, menunjukkan keseriusan Aliansi Pemuda PPU dalam mengawal penggunaan anggaran publik, memastikan setiap rupiah Anggaran Dana Desa (ADD) benar-benar digunakan untuk kepentingan dan prioritas masyarakat desa, alih-alih untuk kegiatan seremonial dengan biaya tinggi.
Sementara itu, Kepala Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam, PPU, Hasbi Rudianto, belum memberi respon terhadap konfirmasi yang dikirim ke ponselnya sekira pukul 08.54 Wita, Jumat (14/11). (*)
Editor : Thomas Priyandoko