KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyebutkan, saat ini telah memasuki masa panen padi musim tanam (MT) 1. Puncak panen diperkirakan terjadi setelah Lebaran.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU Gunawan mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat evaluasi terkait luas tambah tanam (LTT) sekaligus menghadirkan rekan-rekan brigade pangan.
“Kami sudah memasuki masa panen padi. Untuk puncaknya kemungkinan setelah Lebaran. Kemarin kami rapat evaluasi berkaitan dengan luas tambah tanam serta menghadirkan rekan-rekan brigade pangan,” ujar Gunawan, Senin (2/3/2026).
Dalam rapat tersebut, pihaknya meminta kesiapan brigade pangan untuk percepatan tanam pada MT 2. Namun, sebagian besar brigade menyampaikan belum dapat melaksanakan tanam karena masih dalam masa panen.
“Rekan-rekan brigade pangan rata-rata menyampaikan belum siap ditanam karena masih memasuki masa panen. Mereka menyebut kemungkinan setelah Lebaran baru bisa maksimal,” jelasnya.
Secara ideal, lanjut Gunawan, jika mengacu pada kalender tanam IP 300, penanaman pada Oktober seharusnya sudah panen pada Januari. Namun, berdasarkan laporan yang diterimanya, hingga Januari sampai Februari realisasi panen baru mencapai sekitar 2.400 hektare.
“Yang paling duluan panen itu di wilayah Kampung Baru, Sesumpu, Perjalanan, Saluran Air, hingga Gereja,” katanya.
Sementara itu, di wilayah Kampung Pesisir yang mencakup lima kampung, sebagian lahan sudah memasuki masa panen dan sebagian lainnya telah ditanami. Namun untuk MT 2 pada Februari lalu, luas tanam baru sekitar 291 hektare. Sisanya masih dalam tahap pengolahan lahan.
Berdasarkan data, dari total sekitar 6.800 hektare lahan pada MT 1, baru sekitar 2.400 hektare yang telah dipanen. Artinya, masih tersisa kurang lebih 4.400 hektare yang akan dipanen, dengan puncaknya diperkirakan bertepatan atau setelah Lebaran.
“Untuk laporan panen harian saat ini masih kecil, sekitar 10 sampai 15 hektare per hari. Nanti kemungkinan meningkat saat memasuki puncak panen,” pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto