Bertelanjang dada sekujur tubuhnya berkelir hijau dengan mahkota emas di kepalanya. Tangan kiri dan kanannya seperti menunjukkan bahwa boneka raksasa itu menari.
SELEMBAR kain putih terikat di jari tengah (tangan kanannya). Kaki kiri raksasa itu terangkat dan kaki kanannya berusaha menahan beban badannya. Kukunya hitam dan panjang, boneka itu dijuluki Buto Ijo. Matanya melotot dengan taring yang tajam berwajah gelap dan menakutkan.
Begitu gambaran ogoh-ogoh karya pemuda Peradah, Pura Jagat Hita Karana, Samarinda.
Widi (20), salah satu perwakilan dari pemuda Peradah menyebut, ogoh-ogoh yang dibuat dapat membersihkan seluruh halaman pura yang terletak di Jalan Sentosa, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang. Bhuta kala, kata dia, adalah sifat-sifat buruk yang berada di Samarinda. Jadi, ogoh-ogoh itu akan diarak untuk menghilangkan aura negatif tersebut. “Setelah keliling, ogoh-ogohnya nanti dibakar,” ucapnya.
Widi merancang ogoh-ogohnya sejak Januari lalu. Sebanyak 20 anggota pemuda Peradah dikerahkan. Kerangka boneka raksasa itu terbuat dari anyaman bambu yang membentuk tubuh buto ijo tersebut. Pelapisan badan buto ijo itu berasal dari kertas bekas. Selanjutnya dilakukan pembungkusan untuk membentuk tekstur tubuhnya. Bagian luarnya dicat minyak menggunakan mesin (dengan cara disemprot). “Kami membuatnya dengan bahan apa adanya untuk biaya minimalis saja,”
Nah, untuk diarak keliling, ogoh-ogoh tersebut dibutuhkan bantuan tenaga manusia. Menurut Widi, jumlah kotak yang tersedia dapat menampung 10–15 orang. Berat dari boneka tersebut tak menentu. “Tapi kalau semakin ramai yang angkat, semakin asyik kelilingnya,” tuturnya sembari tertawa.
Ketika ogoh-ogoh diarak keliling, selama perjalanan itu, musik tradisional turut mengiringi boneka tersebut. Widi menyebut, alat tersebut adalah balaganjur. Terdiri dari gong, kempur, ceng-ceng, gendang, kawa-kawa, pengarakan ogoh-ogoh semakin menjadi komplet. Sebab, kata dia, cukup lama para pemuda Peradah tak membuat karya ogoh-ogoh. Sekitar 2018 silam, Widi dan kawan-kawan membuat ogoh-ogoh, dipamerkan pada agenda pawai pembangunan.
Tradisi tahunan itu tak hanya menjadi ritual umat Hindu semata. Ratusan penonton berkumpul untuk menyaksikan kirab ogoh-ogoh tersebut. Dimulai Jalan Sentosa (tepat di depan pura), dilanjutkan menuju Jalan Ahmad Yani I, Jalan Mayjen Sutoyo (eks Remaja) hingga kembali ke titik awal. Ada lima ogoh-ogoh diarak. Tiga berukuran raksasa, dan dua berukuran mini (diarak anak kecil).
Selain warga yang menonton, Wali Kota Samarinda Andi Harun turut hadir melepas arak-arakan ogoh-ogoh tersebut. Dia mengatakan, perbedaan dalam banyak hal seperti suku, adat istiadat dan agama tercipta di Indonesia, termasuk di Samarinda. Antusiasme masyarakat dalam menunggu arak-arakan ogoh-ogoh menandakan di ibu kota Kaltim bisa hidup berdampingan.
“Perayaan tahun depan kita akan support agenda itu untuk terus berlanjut. Kita harus merawat perbedaan dan menjaganya agar selalu bisa rukun dalam perbedaan,” kuncinya. (dra/k16)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : Dwi Restu A