KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kota Samarinda menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, dengan volume yang terus meningkat setiap tahunnya.
Dalam sehari, jumlah sampah di Samarinda mencapai 603 ton, naik tiga ton dari sebelumnya yang hanya 600 ton.
Menanggapi kondisi ini, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan perlunya langkah strategis untuk mengurangi tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan.
Salah satu solusi yang tengah dikembangkan adalah penggunaan insinerator, yakni alat pembakar sampah berbasis komunal yang akan ditempatkan di setiap kecamatan.
"Kita harus membangun insinerator dan menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunal di masing-masing kecamatan," ujar Andi Harun.
Insinerator ini diproyeksikan mampu membakar 10 ton sampah dalam waktu 8 jam kerja. Dengan dua kali siklus pembakaran, alat ini dapat mengolah hingga 20 ton sampah per hari.
Jika diterapkan secara maksimal, Samarinda bisa mengurangi 200 ton sampah per hari, dan diperkirakan beroperasi akhir tahun nanti.
Andi Harun menegaskan bahwa insinerator yang akan digunakan di Samarinda memiliki perbedaan dari kota-kota lain. Perbedaannya yakni, insinerator ini tidak akan menghasilkan cerobong asap yang langsung terlepas ke udara.
Sebaliknya, emisi akan difilter menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang ke drainase dalam kondisi bersih.
"Di kota-kota lain, cerobong asap pembakaran masih dibiarkan terbuka (membuang asap ke udara). Sementara di Samarinda, asap akan difilter terlebih dahulu lewat IPAL yang kemudian difilter lagi sampai air tersebut layak dibuang," timpal Andi Harun.
"Selain itu, insinerator ini bisa mengolah hampir semua jenis sampah organik, kecuali beberapa material seperti keramik, botol kaca, bonggol jagung, dan cangkang kelapa," pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie