Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 di Samarinda dianggap sukses secara teknis.
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Catatan rekapitulasi terakhir per 21 Juni, masih tersisa ratusan hingga ribuan kursi kosong di jenjang SD dan SMP negeri, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran kota.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Asli Nuryadin setelah melaporkan hasil evaluasi SPMB kepada wali kota Samarinda.
“Proses berjalan lancar, baik untuk pengguna Android maupun iOS. Namun, berdasarkan rekap terakhir, masih ada sekitar lebih 900 kursi kosong di SMP negeri, dan ada sekitar 2.300 kursi kosong di SD negeri,” ungkap Asli.
Menurutnya, kekosongan tersebut umumnya terjadi di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran kota. Untuk itu, pihaknya tengah menyusun mekanisme pengisian kuota sisa yang tetap mengacu pada prinsip pemerataan dan kedekatan domisili.
Pengisian kursi kosong hanya akan diberikan kepada siswa yang sebelumnya telah mendaftar namun tertolak, serta berdomisili di sekitar sekolah yang masih memiliki kuota.
Disdikbud juga menegaskan bahwa tidak diperbolehkan mencabut berkas dari sekolah yang sudah menerima siswa sebelumnya, dan sekolah yang sudah penuh tidak akan menambah daya tampung.
“Yang sudah full tidak boleh ditambah. Tapi yang masih kosong, silakan diisi. Sistem sudah kami kunci,” tegasnya.
Pemkot melarang praktik pengajuan kuota minimal dengan harapan akan ditambah di kemudian hari, sebagaimana yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
"Sekarang tidak bisa begitu lagi. Pemerintah pusat tidak mengizinkan penambahan kuota. Jadi sejak awal sekolah-sekolah kami minta pasang kuota optimal,” jelasnya.
Rencana pengisian kuota juga sejalan dengan kebijakan pemerataan akses pendidikan dan pengurangan beban lalu lintas di pusat kota.
Asli menyoroti kecenderungan masyarakat lebih memilih sekolah di pusat kota, meski telah tersedia sekolah di wilayah domisili mereka.
“Kalau orang Loa Bakung atau Sambutan ke sekolah di kota, dampaknya ke lalu lintas juga besar. Padahal, sekolah di wilayah mereka masih punya kuota. Itu yang ingin kami isi,” ujarnya.
Sementara itu, untuk Sekolah Prestasi (SDN-SMPN) di Jalan Jakarta, Loa Bakung yang merupakan sekolah berstandar tinggi dan dibiayai pemerintah, kuota pendaftaran untuk SD-SMP telah terpenuhi sejak awal dengan kouta masing-masing 75 orang.
Namun, untuk jenjang SMA yang berbasis swasta yang juga dikelola pemkot, pendaftaran gelombang kedua masih dibuka, mengingat keterbatasan informasi publik terkait status sekolah tersebut sebagai swasta gratis.
“Asalnya sekolah swasta tapi dibiayai penuh oleh pemerintah. Jadi kualitasnya tetap tinggi, tapi tidak berbayar. Itu model baru yang kami kembangkan,” ujar Asli.
Wali Kota Samarinda Andi Harun dijadwalkan akan melihat langsung ke lokasi sekolah prestasi dalam waktu dekat.
“Insyaallah Kamis atau Jumat, Pak Wali akan meninjau langsung. Bahkan beliau ingin mendesain langsung seragam sekolah agar tampil baik dan membanggakan,” tutupnya. (*)
Editor : Dwi Restu A