KALTIMPOST.ID-Pemkot Samarinda menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta untuk memperkuat sejumlah sektor pembangunan, mulai lingkungan, transportasi hingga tata kota berbasis teknologi.
Kesepahaman itu dibahas dalam rapat koordinasi daring antara pemkot dan tim UGM, Senin (28/7) yang difasilitasi oleh Bagian Kerja Sama.
Kepala Bagian Kerja Sama Pemkot Samarinda Idfi Spetiani menjelaskan kerja sama itu merupakan bentuk keseriusan Wali Kota Samarinda Andi Harun dalam merespons isu perubahan iklim dan tata kelola perkotaan.
“Pak Wali meminta UGM membantu merancang konsep green building untuk sekolah-sekolah di Samarinda. Target awalnya dua sekolah, masing-masing satu SD dan satu SMP,” ujar Idfi.
Bangunan yang dirancang nantinya tidak sekadar hemat energi, tapi juga disiapkan untuk memperoleh sertifikasi resmi bangunan hijau dari Kementerian PUPR. “Jadi bukan hanya klaim, tapi diakui secara teknis sebagai green building,” tambahnya.
Selain sektor lingkungan, kerja sama juga mencakup kajian pengelolaan sampah dan perumusan regulasi lingkungan.
Di sektor transportasi, UGM dan pemkot tengah merancang empat kajian utama untuk 2026, termasuk pengembangan konsep kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD).
“Kita ingin warga yang turun di satu titik seperti misalnya dari Bandara APT Pranoto ke simpang empat Mal Lembuswana, bisa langsung terkoneksi ke seluruh penjuru kota dengan berbagai moda transportasi,” terang Idfi.
Lebih jauh, kerja sama juga meliputi kajian ulang master plan transportasi dan pemantauan emisi gas buang kendaraan.
Sedangkan di sektor tata kota, konsep besar yang sedang disiapkan adalah pembangunan City Digital Twin (CDT), sebuah representasi virtual Samarinda yang memungkinkan simulasi bencana, penataan infrastruktur, hingga analisis pajak bumi dan bangunan (PBB) dan perubahan fungsi bangunan secara real-time.
“Misalnya ada bangunan rumah yang beralih fungsi jadi ruko, nanti langsung bisa terdeteksi dan disesuaikan nilai PBB-nya. Semua berbasis data dan bisa dimonitor lewat CDT,” jelas Idfi.
Baca Juga: Tragis! SD Swasta di Balikpapan Ini Tidak “Kebagian” Siswa Baru Tahun Ini, Diduga Akibat Persaingan?
Idfi menceritakan, bahwa sebelumnya UGM yang awalnya datang ke Samarinda membawa konsep bangunan rendah emisi karena cukup terkesan.
Sebab Samarinda sudah punya Peraturan Wali Kota Samarinda Nomor 55/2021 tentang Efisiensi Penggunaan Energi Listrik dan Efisiensi Penggunaan Air pada Bangunan Gedung dan Pokja Aksi Perubahan Iklim.
“Kerja sama dengan UGM dirancang berlangsung lima tahun ke depan, dengan rencana implementasi awal dimulai 2025. Dari situ berkembang ke kerja sama yang lebih luas,” pungkasnya. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.