KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Perluasan area RSUD Aji Muhammad Salehuddin (AMS) II di kompleks GOR Kadrie Oening, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara menuai kekhawatiran tersendiri di lingkungan RT 14.
Lahan yang sebelumnya berupa kebun dan persawahan warga itu memang tercatat sebagai aset Pemprov Kaltim, sekaligus area resapan air. Aktivitas pengurukan yang kini berlangsung memicu kecemasan lantaran rawan mengubah pola aliran air di kawasan tersebut. Meski warga tidak menolak proyek perluasan rumah sakit, mereka berharap pekerjaan ini tidak menambah risiko banjir.
Ketua RT 14 Syaripudin mengatakan pengurukan sempat dikonsultasikan kepadanya, sebelum ia meminta pihak rumah sakit dan kontraktor berkoordinasi ke kelurahan. “Kalau ke kami sebelum pekerjaan mereka lapor,” ujarnya, dikonfirmasi, Selasa (25/11).
Syaripudin menyebut sebagian besar warga mendukung pembangunan rumah sakit, sekalipun potensi dampak perlu tetap diantisipasi. Harapannya jangan sampai hujan sedikit langsung banjir. “Selama ini belum ada dampak, apalagi setelah normalisasi saluran di dalam stadion. Biasanya dulu genangan bisa sampai 20 cm di depan gang,” singkatnya.
Ia tak menutup kemungkinan akan muncul persoalan baru jika aliran air terhalang. Karena Kalau ada pembangunan, tentu harus dipikirkan arus airnya ke mana. “Ketakutan itu ada, karena dulu warga juga khawatir saat pembangunan drainase dan peningkatan jalan,” tuturnya.
Sebagian rumah warga yang berada di level lebih rendah biasanya mengantisipasi dengan mendongkrak struktur pondasi. Apalagi kebanyakan rumah warganya berbentuk panggung. “Yang penting jangan ada dampak buruk,” tambahnya.
Terpisah, Lurah Sempaja Selatan Deddy Wahyudi mengakui perluasan itu dilaksanakan tanpa sosialisasi kepada kelurahan maupun warga. Ia baru mengetahui kegiatan tersebut setelah pekerjaan berjalan dan pemberitahuan muncul belakangan. “Tiba-tiba muncul pemberitahuan pekerjaan. Urukannya sudah jalan setengah, baru ada informasi. Tidak ada sosialisasi sama sekali,” tegas Deddy.
Ia mengingatkan lokasi perluasan berada di kawasan rawan banjir dan persis bersebelahan dengan salah satu anak Sungai Karang Mumus yang menerima aliran dari Jalan Wahid Hasyim dan Jalan AW Syahranie, hingga GOR Kadrie Oening (GKO) menuju Perum Rapak Binuang dan Pondok Surya Indah (PSI).
“Ini kan aset Pemprov. Selama ini kalau mereka bangun, jarang ada koordinasi. Padahal harus ada mekanisme PBG, UPL-UKL. Kami tidak pernah lihat dokumennya,” ucapnya.
Ia mencontohkan proyek PLN yang sebelumnya berkonsultasi dan menyiapkan jalur akses pemeliharaan drainase. “Kalau bangunan nanti mengganggu jalan air dan alur pemeliharaan, kami tidak tahu karena perencanaan tidak pernah ditunjukkan,” tegasnya.
Ia berharap ke depan masyarakat dan kelurahan dapat dilibatkan sejak awal, terutama karena mereka yang akan terdampak langsung. “Jangan asal bangun saja. Minimal ada sosialisasi dan penjelasan teknis supaya warga paham dan bisa menyampaikan masukan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, rencana perluasan RSUD AMS II atau RS Korpri mulai bergerak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim menargetkan seluruh dokumen perencanaan tuntas akhir tahun ini, sehingga pembangunan bisa langsung dikebut awal 2026. (*)
Editor : Ismet Rifani