KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 57 Samarinda kini memasuki masa ujian semester. Polanya sama seperti sekolah reguler pada umumnya. Meskipun sekolah reguler memulai pembelajaran 14 Juli lalu, sedangkan SRT 57 pada 29 September 2025.
Kepala SRT 57 Pahrijal menegaskan bahwa proses akademik di sekolah rakyat tidak berbeda dari sekolah formal. “Kalau proses belajar mengajar, sebenarnya kita sama saja dengan sekolah yang lain. Semesterannya pun sama,” ujarnya, Senin (1/12).
Durasi pelaksanaan ujian disesuaikan jenjang. Untuk rentang waktu, kata dia, umumnya ditargetkan sekitar dua minggu. Sementara untuk SD dan SMP, masa ujian lebih singkat lantaran jumlah mata pelajarannya lebih sedikit.
“Satu hari dua mata pelajaran. Tinggal dikalikan saja. Yang paling panjang itu biasanya SMA. Mungkin sekitar delapan harian karena kita aktif sampai Jumat,” jelasnya.
Meski kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung Senin-Jumat, aktivitas siswa tetap berjalan di akhir pekan. Sabtu dan Minggu diisi dengan kegiatan asrama yang dipandu wali asuh, mulai dari ekstrakurikuler hingga program pengembangan karakter. “Kalau belajar reguler sampai Jumat. Setelah itu kegiatan asrama,” tambahnya.
Usai ujian, sekolah langsung beralih ke proses pengisian rapor. Mekanismenya juga tidak berbeda dengan sekolah pada umumnya. “Prosesnya sama saja. Enggak ada yang beda,” kata Pahrijal.
SRT 57 yang menerapkan model full day school juga memiliki pembagian waktu pulang berbeda antarjenjang. Untuk SD, aktivitas selesai sekitar waktu Zuhur. Siswa langsung kembali ke asrama setelah salat. “SD selesai sekitar Zuhur, jam satuan sudah tidak kembali lagi ke kelas,” jelasnya.
Untuk siswa SMP, pembelajaran selesai sekitar pukul 14.00, sedangkan SMA sekitar pukul 15.00. “Bedanya cuma sekitar satu jam,” kata dia.
Terkait masa libur, SRT 57 menyiapkan skema pemulangan yang fleksibel. Orang tua bisa menjemput langsung, atau pihak sekolah yang akan mengantar siswa. Kebijakan ini menyesuaikan kondisi tiap keluarga.
“Nanti kita pikirkan mana yang paling efektif. Karena siswa kita kan banyak yang dari Samarinda. Beda dengan SRT 58, di sana ada yang harus diantar sampai Berau atau Kubar, biayanya besar,” ujarnya.
Dengan pola yang terstruktur dan ritme belajar yang setara sekolah formal, SRT 57 menegaskan komitmennya menjaga kualitas pendidikan bagi seluruh siswa, tanpa menghilangkan ciri khas asrama yang menjadi wadah pembinaan karakter.
“Karena ini masih baru, makanya semuany menyesuaikan. Alhamdulilah anak-anak di sekolah ini hampir semuanya bisa mengikuti semua pelajaran dan arah guru maupun wali asuh,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo