SAMARIDA-Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) kembali bertambah pada 2025. Sebanyak 514 karya budaya ditetapkan dalam Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (AWBTB) yang digelar Kementerian Kebudayaan, sehingga total WBTbI nasional kini mencapai 2.727 objek.
Sertifikat penetapan WBTbI diserahkan kepada sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Timur, dalam kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Senin (15/12). Penyerahan sertifikat dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli ZON.
Selain Kalimantan Timur, sertifikat penetapan WBTbI juga diserahkan kepada perwakilan pemerintah daerah dari Jambi, Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat, dan Banten. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Barlin Hady Kesuma, mengatakan proses pengusulan WBTbI membutuhkan persiapan yang panjang dan matang.
Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat Samarinda Segera Dimulai, Kontrak Rp 247 Miliar Ditandatangani
Setiap karya budaya harus melalui tahapan inventarisasi, penyusunan kajian akademis, hingga pembuatan video penunjang pengusulan. “Prosesnya tidak singkat. Mulai dari inventarisasi karya budaya, penulisan paper akademis, sampai pembuatan video pendukung. Kurang lebih satu tahun sebelumnya sudah harus dipersiapkan secara matang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (16/12).
Tiga karya budaya yang ditetapkan dari Samarinda masing-masing adalah Amplang Samarinda, Amparan Tatak, dan Bubur Peca’. Sementara dari empat usulan yang diajukan, satu karya budaya masih tertunda. “Salah satu masih tertunda yaitu Kapal Tambangan, yang tahun depan akan kita kembali usulkan,” singkatnya.
Baca Juga: Amparan Tatak Sandang Status WBTb 2025, Kenapa Justru Kaltim yang Lebih Siap dari Kalsel?
Didampingi Pamong Museum Ainun Jariah, Barlin menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Ia menyebut, penetapan ini menjadi prestasi penting bagi Kota Samarinda setelah sembilan tahun tidak mendapatkan pengakuan WBTbI nasional sejak Sarung Tenun Samarinda ditetapkan pada 2016.
“Alhamdulillah, ini hasil kerja panjang dengan dukungan komunitas, masyarakat, dan Pemkot Samarinda. Ke depan, Kapal Tambangan dan karya budaya khas lainnya akan kembali kita dorong,” pungkasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki