Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Insinerator Wisanggeni Segera Beroperasi di 9 Titik: Residu Bisa Dibuat Paving Block dan Pupuk

Denny Saputra • Jumat, 19 Desember 2025 | 12:37 WIB

 

Arfan menjelaskan SOP pengoperasian insinerator sebagai salah satu solusi pengurangan sampah.   
Arfan menjelaskan SOP pengoperasian insinerator sebagai salah satu solusi pengurangan sampah.  
 

SAMARINDA - Pemasangan insinerator produk Wisanggeni versi ke-7 hampir rampung dan ditargetkan segera beroperasi di sejumlah kecamatan. Total ada 10 unit yang ditempatkan di 9 titik lokasi berbeda sebagai bagian dari upaya pengolahan sampah harian. Perangkat ini diklaim ramah lingkungan, minim asap, dan tidak menggunakan bahan bakar tambahan selain sampah itu sendiri. Meskipun baru enam unit yang terpasang.

Koordinator Lapangan instalasi insinerator, Arfan, menyebut progres pemasangan secara keseluruhan telah mencapai sekitar 85 persen. Tahap yang tersisa meliputi pemasangan sistem kelistrikan dan uji coba pengoperasian mesin secara menyeluruh. “Untuk overall keseluruhannya sudah sekitar 85 persen, tinggal power dan tes running untuk pengetesan mesin secara keseluruhan,” ujarnya, Jumat (19/12).

Ia menjelaskan, proses kerja insinerator diawali dengan pemilahan sampah, khususnya sampah anorganik rumah tangga. Sampah organik yang basah dinilai kurang optimal karena dapat mengganggu proses pembakaran. “Pembakaran di sini itu sampah membakar sampah. Sampah yang sudah terbakar akan menjadi bara dan membakar sampah lainnya,” jelasnya.

Dalam kondisi optimal, suhu di dalam ruang bakar dapat mencapai hingga 1.000 derajat Celsius. Pembakaran dimulai dari pintu bawah untuk membentuk bara awal, tanpa menggunakan bahan bakar lain, setelah suhu melewati 400 derajat Celsius, sampah dapat dimasukkan lebih intensif untuk meningkatkan suhu pembakaran.

“Proses pemanasan awal ini memerlukan waktu sekitar 30 hingga 60 menit sebelum mesin dapat beroperasi penuh. Kalau suhunya sudah stabil, alat bisa beroperasi maksimal,” terangnya.

Untuk pengendalian emisi, asap hasil pembakaran tidak dilepas langsung ke udara. Asap dihisap melalui saluran untuk dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk dicuci. “Di sini bisa dikatakan tidak ada buangan asap hasil pembakaran, karena sudah kita olah sendiri,” tegasnya.

IPAL tersebut dilengkapi tiga lapis filter, termasuk ijuk dan silika, untuk menyaring polutan. Filter ijuk akan diganti sekitar sebulan sekali dan tidak menjadi limbah baru karena dapat dikeringkan dan digunakan kembali dalam proses pembakaran. “Polutan padat akan terperangkap di ijuk, dan itu tidak jadi masalah limbah lagi,” jelasnya.

Sisa pembakaran berupa residu abu. Residu ini berpotensi diolah kembali menjadi bahan bangunan seperti paving block atau batako, bahkan pupuk, dengan pengolahan lanjutan. Namun sampah yang dibakar sifatnya padat bukan sampah keras seperti kaleng, kaca, hingga limbah B3 seperti baterai, makanya pentingnya pemilahan. “Di beberapa daerah seperti Bandung, residu ini sudah dimanfaatkan lagi,” ucapnya.

Satu unit insinerator memiliki kapasitas pembakaran sekitar 8 hingga 10 ton sampah per hari dengan waktu operasi rata-rata delapan jam. Kapasitas ini masih sangat bergantung pada keterampilan operator dalam memasukkan sampah. “Karena ini tidak otomatis, jadi kecepatan operator juga sangat berpengaruh,” ujarnya.

Terkait pemasangan, Arfan menyebut satu unit mesin idealnya dapat terpasang dalam waktu dua hingga tiga minggu, di luar pekerjaan bangunan fisik dan pengiriman alat. Hingga kini, proses instalasi dinilai berjalan lancar tanpa kendala berarti. “Sejauh ini aman saja, hampir tidak ada kendala,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#sampah organik #pemkot samarinda #ipal