Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pasukan Disdamkarmat Samarinda dan Relawan Kerap Tersendat karena Masalah Ini, Lihat Akibatnya

Eko Pralistio • Rabu, 31 Desember 2025 | 15:36 WIB
HARUS SADAR: Fenomena kebakaran yang berubah menjadi tontonan kembali menjadi persoalan serius di Samarinda. (DOK/KP)
HARUS SADAR: Fenomena kebakaran yang berubah menjadi tontonan kembali menjadi persoalan serius di Samarinda. (DOK/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Api belum sepenuhnya jinak, tetapi warga sudah berkerumun. Fenomena kebakaran yang berubah menjadi tontonan kembali menjadi persoalan serius di Samarinda. Alih-alih membantu, kerumunan warga justru kerap menghambat laju mobil pemadam kebakaran dan relawan menuju lokasi kejadian.

Kondisi tersebut kembali terjadi saat kebakaran melanda kawasan permukiman di Jalan Sulawesi, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Minggu (28/12) malam. Meski api akhirnya berhasil dipadamkan, proses penanganan sempat tersendat akibat padatnya warga yang menonton di sekitar lokasi, sehingga mempersempit ruang gerak armada pemadam.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Samarinda Hendra AH menyebut, perilaku warga yang menjadikan kebakaran sebagai tontonan merupakan persoalan klasik yang terus berulang “Setiap ada kebakaran, warga justru berkerumun dan menutup akses jalan. Padahal yang dibutuhkan petugas adalah ruang kosong agar mobil pemadam, ambulans, dan relawan bisa bergerak cepat,” ujarnya, Rabu (31/12).

Menurut Hendra, kecepatan dan kelancaran akses jalan menjadi faktor penentu dalam penanganan kebakaran. Keterlambatan beberapa menit saja bisa membuat api cepat membesar dan merambat ke bangunan lain.

“Kalau akses lengang, mobil pemadam bisa bolak-balik ambil air dan pemadaman lebih cepat. Tapi kalau penuh penonton, semuanya jadi lambat,” katanya.

Dia juga menepis anggapan sebagian masyarakat yang menilai petugas pemadam kebakaran lambat saat menangani kebakaran. Dalam banyak kasus, kata Hendra, kendala utama justru terletak pada kondisi lapangan. “Damkar sering dibilang lambat, padahal ketika kami tiba, api sudah besar. Salah satu penyebabnya akses jalan sempit dan tertutup warga yang menonton,” tegasnya.

Selain kerumunan, karakter wilayah permukiman Samarinda juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak kawasan berada di jalan sempit, berbukit, dan padat bangunan, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra dalam penanganan.

“Kalau ditambah orang menonton, parkir sembarangan, bahkan ada yang panik mendengar sirene lalu berhenti di tengah jalan, itu makin menyulitkan,” imbuhnya.

Dalam sejumlah kejadian, dampak kerumunan warga tidak hanya menghambat pemadaman, tetapi juga menimbulkan persoalan keamanan. Seorang relawan pemadam dilaporkan kehilangan kaca spion sepeda motor saat membantu proses pemadaman.

“Situasi kebakaran memang rawan. Ada potensi kehilangan barang atau gangguan keamanan lain. Sementara fokus petugas adalah memadamkan api dan menyelamatkan warga,” jelas Hendra.

Selama ini, Disdamkarmat mengaku hanya bisa memberikan imbauan di lokasi kejadian. Untuk mengubah perilaku masyarakat, dibutuhkan peran aktif perangkat wilayah hingga tokoh masyarakat. “RT, kelurahan, dan tokoh masyarakat perlu terus mengingatkan warganya. Kebakaran bukan tontonan, akses jalan harus dikosongkan,” ujarnya.

Hendra menegaskan, bantuan terbaik masyarakat saat kebakaran terjadi bukan dengan berkerumun, melainkan memberi ruang bagi petugas bekerja. “Cukup menjauh dari lokasi, kosongkan jalan, dan ikuti arahan petugas. Itu sudah sangat membantu,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#Menghambat #Disdamkarmat #warga menonton #samarinda