Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kai Ku Pernah ke Neraka

Redaksi KP • Minggu, 7 Juni 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Sebuah Cerita Pendek Karya Diyah Prilly Upartini

Kai ku bercerita kalau dia pernah ke neraka.

Itu kata abahku pagi-pagi saat sarapan sambil mengisahkan mimpinya semalam. Aku tertawa geli. Kalau pernah ke neraka, berarti dia sekarang sedang tidak di neraka, begitu?

Kai ku meninggal sekitar dua setengah tahun yang lalu. Beberapa minggu lagi akan diadakan seribu hari kematiannya. Semasa hidup, kai ku ini orangnya galak bukan main. Tapi kata abah dia hanya sedikit disiplin. Maklumlah, pensiunan tentara. 

Baca Juga: Jerit Sunyi Hutan Kutai 

“Sudah didikannya begitu,” ujar abah saat aku mengeluh jika baru dimarahi kai. Aku tidak berani bersungut-sungut di depan kai, tapi pasti semasa dia hidupnya, dia tahu kalau aku jengkel bukan main kepadanya.

“Iya, kai mu bilang dia sudah ada di surga. Tapi masih mencari-cari nini. Surga luas betul, katanya.”

Aku makin tertawa geli mendengar kisah abah.

Besok-besoknya lagi, abahku kembali bercerita kalau dia didatangi kai lagi. Di mimpinya kai bercerita bagaimana caranya keluar dari neraka.

Baca Juga: Darsim, Sebuah Cerita Pendek Karya Ali Mahfud

“Jadi Tuhan itu sudah menakdirkan kai ke neraka. Tapi kai pintar bukan main. Dia berhasil ke surga dengan usahanya sendiri.”

“Loh, bagaimana bisa? Bukannya neraka itu ada di bawah surga? Masa malaikat penjaga neraka sebodoh itu membiarkan kai kabur dari sana?”

Aku sudah yakin aku akan masuk ke surga. Aku cucunya kai, dan selama kai hidup dosa-dosaku semuanya ditanggung oleh kai. Aku juga rajin sembahyang dan berbuat baik. Tidak seperti kai yang galak dan sukanya memarahiku dan melarang-larangku ini-itu. Aku juga berkeinginan masuk surga agar tidak bertemu dengannya di neraka. Kalau sudah begini, di surga ada kai. Ogah betul aku bertemu dengannya lagi di sana.

“Iya, di neraka katanya tidak enak. Panas. Makanannya tidak enak. Kai pintar, dia bisa mencari jalan menuju ke surga pakai perahu.”

“Loh, perahu?”

Aku tidak tahu abahku ini membenci kai atau tidak. Aku pernah dengar katanya abahku sering menerima perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa orang karena dia adalah anak kai. Anaknya tentara. Tentara yang dulu pernah kerja buat presiden. Kata abahku, mereka yang memberi perlakuan jelek kepadanya itu karena iri, tidak punya abah tentara. Mereka tidak keren karena orang tuanya tidak bekerja untuk presiden.

Tapi ah, masa iya ada anak yang benci pada orang tuanya?

Abahku kembali menceritakan mimpinya, “Iya. Pakai perahu. Nah bagaimana bisa dapat perahu itu, kai-mu tidak cerita. Dia hanya diam saja saat abah tanyai itu.”

“Ah, kai ini pelit sekali. Masa sama anaknya sendiri tidak mau cerita.”

Abahku tertawa-tawa saja. Katanya, “Paling-paling waktu yang diberi Tuhan untuk menemui abah sudah habis. Jadi tidak cukup untuk cerita lengkapnya.”

Aku kembali tertawa geli. “Seperti tahanan saja rupanya kai ini di surga.”

Tapi aku penasaran juga. Apa benar mimpinya abah ini? Tapi kalau bohong, kenapa abah yakin betul kalau itu benar-benar kai yang menemuinya? Untuk apa? Mewasiatkan cara agar anaknya juga masuk surga, begitu? Tapi kan itu artinya harus ke neraka dulu.

Beberapa hari sebelum tahlilan, justru aku yang didatangi kai di mimpiku. Terlihat sama seperti dulu rupanya, masih tajam matanya. Rambutnya yang dulunya putih, di mimpiku itu menjadi hitam. Kerut-kerut di wajahnya hanya menghilang sedikit. Aku sedikit gentar, kai orang yang kusegani sekaligus tidak kusukai selama hidupku. Kenapa pula dia harus muncul di mimpiku?

“Kai sekarang ada di surga, Tuh.”

“Kai curang ke surganya. Katanya abah kai harusnya ada di neraka.” 

“Nah itulah, kai kan orang pintar. Bisa ke surga pakai cara kai sendiri.”

“Bagaimana bisa?”

Kai-ku tertawa terbahak-bahak. Suaranya selalu tidak pernah membuatku senang, justru menyeramkan. Jakunnya naik turun, kumisnya kadang-kadang bergerak-gerak seperti ulat bulu di bawah hidung. Katanya, “Kai naik perahu dari neraka, Tuh.”

“Loh, memangnya di neraka ada pelabuhannya?”

“Mana ada. Bungul kamu. Yang ada di neraka ya cuma api.”

Kai ku selalu menyebutku bungul dan tambuk semasa dia hidup dan aku benci kedua kata itu gara-gara kai. Jangankan mendengarnya, mengucapkannya saja aku benci setengah mati. Sudah kunazarkan diriku, jika aku menyebut dua kata biadab itu dengan bibirku, aku harus ke neraka.

“Nah itu, kalau adanya api, lha terus bagaimana?”

“Kamu tahu, Tuh? Kan katanya manusia itu selalu punya malaikat di kanan dan kirinya. Yang kanan mencatat amal, yang kiri mencatat dosa.”

“Nah, apa hubungannya dengan perahu?” Aku mulai tidak suka berlama-lama berbicara dengan kai. Ingin rasanya cepat bangun agar tidak melihat muka kai lagi, tapi susah rasanya. Walaupun itu mimpiku, susah rasanya kukendalikan sendiri. Bahkan mengedipkan mata pun aku tak bisa.

“Kamu dengarkan dulu, Tuh, makanya.”

“Nah, kan awalnya kai tidak percaya cerita begitu itu. Ah, mustahal sekali rasanya kalau ada sepasang malaikat di masing-masing manusia. Berarti banyak sekali malaikat di muka bumi ini.”

“Nah, memang begitu, kan?”

“Nah itu. Sewaktu kai mau mati, kai tiba-tiba bisa melihat dua malaikat itu. Membawa buku tebal benar, Tuh. Tapi lebih tebal yang di kiri kai. Kai tanyalah malaikat yang memegang buku tebal itu.

“Itu buku apa, Kat?”

“Buku catatan dosamu, Kai.”

“Boleh kulihat tidak?”

“Oh, tidak bisa. Orang hidup tidak boleh memegangnya.”

“Berarti kalau aku mati, aku boleh memegangnya?”

“Berpikirlah malaikat itu, akhirnya dia mengangguk saat kai bujuk dia berkali-kali. Kai membuat janji dengannya agar menemui kai kalau kai di neraka.”

Kai di mimpiku ini sukanya melantur ke mana-mana ceritanya. Tapi aku tetap harus mendengarkan dengan patuh meskipun aku ogah mendengar suara mengerikan kai dan wajah menyebalkannya.

“Kenapa harus di neraka?”

“Yah, kan soalnya buku itu dipakai sebagai bukti di pengadilan di kuburan. Kan kalau kai sudah di neraka, buku itu jadi tidak terpakai.”

Aku mengangguk-angguk sedikit paham.

“Di neraka, malaikat itu menemui kai lagi. Katanya meski tulisan di buku itu dihapus kai, tetap saja kai tidak bisa keluar dari neraka. Kan sudah diadili.

“Nah, di neraka ini, Tuh, ada sungai juga. Tapi isinya lava panas. Air api. Lebih panas daripada lava gunung berapi di dunia. Wah, dimasukan jari-jari saja langsung jadi abu. Kai tanya-tanya ke setan-setan penghuni neraka, katanya sungai itu hulunya adalah sungai susu di surga.”

“Ya tapi bagaimana? Kai tidak punya perahu. Kalau berenang, bukannya kai jadi abu?”

“Nah inilah kepintaran kai itu, Tuh. Kai curi buku catatan dosanya kai dari malaikat. Kai bawa lari. Kai lari ke neraka paling bawah, yang tidak berani dimasuki malaikat ini.”

Kai ku ini semasa hidup katanya dulu paling sering ditugaskan ke hutan-hutan. Cepat larinya, katanya kebiasaan mengejar mangsa yang larinya cepat pula. Tapi, kenapa di mimpiku ini kai lebih lama berbicara denganku daripada di mimpi abah?

“Kenapa kai hanya muncul sebentar saja di mimpinya abah?”

“Karena abahmu itu orangnya baik, Tuh. Mana mungkin dia masuk neraka. Jadi percuma aku wasiatkan kepadanya cerita kepandaianku ini.”

Aku merasa tersinggung. Berarti aku memiliki potensi untuk masuk ke neraka daripada abah? Perasaan selama ini aku selalu melakukan kebajikan dan mengerjakan seluruh perintah Allah. Aku selalu berjuang di jalan Allah, hidup dan mati. Semua itu kulakukan agar bisa masuk surga dan tidak menemui kai di neraka.

“Nah, kertas yang ada di buku-buku dosa ini, Tuh, tebal benar. Kai coba masukkan produk malaikat ini ke sungai di neraka, jadi abunya lama. Kai pakailah kertas ini untuk menyeberangi sungai di neraka. Kai buat jadi perahu kertas. Dengan itu kai arungi sungai di neraka menuju hulu, melawan arus. Susahnya luar biasa, Tuh.”

Aku mulai merasa cerita kai ini melantur dan tidak benar. Aku masih dongkol dikira akan menjadi penghuni neraka oleh kai.

“Robek-robek perahu kertas kai, Tuh. Kalau robek, kai tambali dengan kertas-kertas lain yang tebal-tebal itu. Wah, perjuangannya setengah mati Tuh untuk keluar dari neraka.”

“Dengar ya, Kai. Kai percuma menceritakan itu kepadaku. Aku kan nantinya juga akan masuk surga. Kai wasiatkan kepadaku pun, tidak akan berguna.”

Kai ku tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku. Jakunnya lagi-lagi naik turun dan ulat bulu di bawah hidungnya menggeliat-geliat. Katanya, “Dengarkan sajalah, Tuh. Siapa tahu berguna.”

Lalu kai hilang dari pandanganku dan aku bangun dari tidur. Keheranan. Hari sudah mau pagi, rupanya. Pas betullah untukku bangun dan sembahyang. Kusucikan tubuhku. Tapi sebelum berangkat ke langgar, kubuka hapeku. Aku masuk ke dalam akun media sosial, mengetikkan sesuatu dengan semangat di kolom-kolom komentar postingan orang lain yang tidak sesuai dengan yang diinginkan bosku. Setelah kurasa cukup, aku keluar dari akun itu dan masuk lagi ke akun yang lain untuk melakukan hal yang sama. Jika kurasa belum cukup, aku akan mengirimkan pesan-pesan pribadi, pesan ‘cinta’ untuk beberapa orang dungu yang ada di sosial media. Kulakukan setidaknya hingga kuganti akunku sebanyak belasan kali. Baru lah, aku kemudian bangkit untuk sembahyang di langgar.

Di jalan, aku menyapa satu orang berbadan tegap dengan kemeja koko yang klimis. Rambutnya cepak, nyaris gundul. Dapat kulihat siluet pistol di saku celananya. Aku menyapa akrab orang itu, “Bos, ada proyek apa lagi bulan ini.” (*)

*)Kai: kakek
*)Abah: ayah
*)Nini: nenek

Diyah Prilly Upartini atau biasa dipanggil Prilly berasal dari Desa Papa’an, Sampanahan, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Merupakan penulis fiksi ringan di internet sejak 2009 dengan berbagai nama pena. Pengamat sekaligus peneliti budaya dan sastra klasik maupun populer. Merupakan salah satu Emerging Writer MIWF 2026. Bisa dihubungi melalui Instagram: @prillily atau email prillyupartini@gmail.com

Editor : Duito Susanto
#sastra kalimantan #budaya banjar #karya fiksi #cerita pendek #banjarbaru