LORA bergegas menaiki tangga rumah panggungnya yang tinggi dengan hati riang. Gadis belia itu langsung ke dapur menemui ibunya yang sedang mengaduk adonan goreng cempedak. Aromanya menguar, sedap menggoda selera, cemilan itu biasa dinikmati dengan teh manis atau kopi panas di siang hari.
"Mama!" sapa Lora, senyumnya sipu-sipu.
"Hmm? Dari mana, Ra?" tanya ibunya tanpa menoleh, sibuk membuat adonan.
"Dari ladang, Ma," Lora menggigit bibir. "Tadi... aku lihat ada orang baru lewat. Naik sepeda ke arah rumah Sita."
"Orang tua atau muda? Cowok apa cewek?"
"Masih muda, Ma. Anak cowok." Pipi Lora yang putih mulus itu mendadak merah seperti kepiting rebus. Ia menunduk, pura-pura membantu merapikan tampah yang berisi pisang dan cempedak.
Baca Juga: Sore Bersama Pacer
"Oh, itu sepupunya Sita," timpal Aldi, kakaknya, yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur. "Baru datang kemarin dari Tanah Grogot. Ngisi liburan di sini. Namanya... Alfito. Ya, Alfito. Seumuran kamulah, sama seperti kamu, baru kelas tiga SMP."
"Kakak tahu dari mana?"
"Kemarin mampir ke rumah Sita. Bapaknya cerita," Aldi terkekeh. "Kenapa? Suka ya?"
Pipi Lora makin panas. Alfito namanya. Seumuran aku. Kelas tiga SMP juga. Hati Lora berkata-kata.
Siang tadi ketika Lora berada di pondok ladang, mereka sempat bertatapan saat cowok itu lewat naik sepeda. Alfito tersenyum tipis dan tetap mengayuh sepedanya pergi, meninggalkan Lora yang duduk terpaku di pondoknya di tengah hamparan padi yang masih hijau. Mata Lora mengikuti sampai sepeda itu hilang di tikungan, di antara rimbun pohon rambutan dan asam putar. Hmm, ganteng, pujinya dalam hati seraya tersenyum sendiri.
Tiba-tiba riuh suara di depan rumah. Ibu, Lora, dan Aldi saling pandang.
"Siapa itu, Ra?" tanya ibunya sambil menuang minyak ke wajan.
Lora berlari ke depan. Dari pelataran rumah panggungnya yang tinggi, dia menengok ke bawah. Ada Sita dan Rini, teman sekelasnya. Dan anak cowok itu. Hmm. Alfito.
Mereka melambai-lambaikan tangan sambil tertawa.
Baca Juga: Para Pencari Raungan Keadilan; Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar
"Lora, ayo turun! Kita ke telaga yuk!" seru Sita.
"Ada teman baru juga ini!" Rini melirik Alfito dan menyikutnya.
"Oke, sebentar ya! Aku pamit Mama dulu!"
Lora kembali ke dapur. "Ma, teman-teman ngajak ke telaga."
"Boleh. Tapi nanti ajak teman-temanmu mampir ke sini ya setelahnya. Mama buatkan goreng pisang sama cempedak," kata ibunya, tersenyum senang.
Sesampainya di telaga berair bening, Sita dan Rini langsung turun mandi dengan pakaian yang melekat di badan, mereka berenang dan bersiram-siraman sambil terus berbincang dan tertawa-tawa.
"Lora, Fito, ayo mandi dan berenang!" ajak Sita.
"Iya, rugi lho kalau ke sini nggak mandi. Air telaganya bening dan sejuk sekali," tambah Rini.
"Aku nggak bisa, karena nggak bawa handuk dan pakaian ganti!" balas Lora.
"Aku juga," kata Alfito tertawa. "Aku dan Lora biar di sini aja, lihat kalian berenang dan mandi."
"Hhuuuu...!" teriak Sita dan Rini bersamaan.
Baca Juga: Riuh yang Tertinggal, Cerpen Karya Sahari Nor Wakhid
Alfito masih tertawa. Dia berpaling menatap Lora di sampingnya. Hmm, cantik, puji Alfito dalam hati. Gadis berwajah imut dan menggemaskan itu menggerakkan bahu, dan tersenyum simpul menerima tatapan Alfito.
Ada pohon flamboyan besar yang sedang berbunga di pinggir telaga itu. Bunganya yang merah jingga membayang di permukaan air telaga yang jernih dan berbatu-batu. Sebagian bunga-bunga itu berjatuhan di tanah. Di bawahnya ada bangku kayu panjang, sengaja dibuat untuk tempat istirahat sambil memandang ke arah telaga.
Alfito mengajak Lora duduk di situ.
"Malam pertama di sini aku terkejut dan agak takut. Banyak sekali suara-suara binatang malam di hutan ini, dan suara burung hantu yang berpindah-pindah dari pohon ke pohon. Ngeri juga ya, Lora?" cerita Alfito, membuka percakapan.
"Tapi, semuanya terasa indah kan?" Lora tertawa. "Maksudku, di kota kamu nggak mungkin mendengar suara-suara binatang malam seperti di tempatku ini."
"Iya, benar, Ra. Benar banget. Dan, aku suka dengar komentarmu itu. Ternyata aku jadi suka suasana di sini."
"Tapi tetap aja sepi," kata Lora.
"Tapi tetap aja indah," balas Alfito.
Mereka tertawa.
"Aku banyak lihat tumbuhan aneh di hutan ini. Tapi semuanya tampak menarik."
Baca Juga: Garis Terakhir, Cerita Pendek Karya Sugiyarno Sutoko
"Tentu, karena kan tumbuhan yang kamu lihat di sini belum tentu ada di kota."
"Lora, aku pernah lihat tas atau topi yang terbuat dari rotan. Tapi aku belum pernah sekali pun lihat pohon rotan."
"Oh...sini kutunjukkan padamu pohon rotan. Tapi jangan sentuh pohon rotan yang masih muda, banyak durinya."
"Nggak masalah kalau tanganku terluka karena duri rotan itu, asal kamu yang ngobatinya ya?" goda Alfito. Lora pura-pura cemberut.
"Nggak aah...."
Lora mengajak Alfito ke bagian lain di pinggir telaga itu. Sepokok pohon sungkai yang besar dan tinggi, tampak dibelit dan dipanjati tumbuhan berumpun yang penuh duri. Tumbuhan itu memanjang, menjulur, dan meliuk naik ke atas hingga beberapa meter.
"Lihat itu kan? Nah, itulah pohon rotan," tunjuk Lora.
Rotan kalau masih muda kulit batangnya hijau dan durinya banyak. Kalau sudah tua dan siap diramu atau dipanen kulitnya akan berubah warna jadi coklat dan kulit itu akan mudah copot sendiri, sehingga tampak batang rotannya yang hijau kekuning-kuningan atau kuning kehijau-hijauan. Rotan banyak jenisnya. Tapi kalau yang berukuran besar, disebut rotan semambu, biasa dipergunakan untuk membuat tiang meja atau kursi.
"Terima kasih, Lora. Karena penjelasanmu, aku jadi tahu tentang rotan," ucap Alfito jujur.
"Kami di sini semua punya kebun rotan, karena rotan kan harganya mahal," kata Lora.
"Kalau begitu, suatu saat aku juga mau menanam dan berkebun rotan...."
Mereka kembali tertawa. Namun Alfito dan Lora tiba-tiba terkejut, ketika terdengar suara teriakan Sita dan Rini di belakang mereka. Rupanya mereka berdua sudah selesai mandi dan berenang, dan telah pula berganti pakaian.
"Adduuuh, romantisnya yang lagi berduaan!" tegur Sita.
"Assyiik! Padahal baru kenal, udah jadian!" Rini juga ikut menggoda, tapi buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tertawa geli.
Bukan main malu rasanya Lora. Pipinya yang putih dan mulus itu benar-benar memerah. Dia kejar Sita dan Rini dan mencubitnya dengan gemas.
"Sita, Rini, aku barusan menjelaskan kepada Fito tentang kekayaan alam di hutan kita ini. Hanya itu kok...."
"Iya deh, iya deh...." Sita tertawa.
"Kami ngerti kok." Rini juga tertawa.
Lora menggigit bibirnya. Iiih, hati ini jadi gemas sendiri! Sementara itu Alfito dari jauh memperhatikannya sambil tersenyum-senyum.
Hari itu jadi hari yang paling cerah dan menyenangkan untuk Lora. Ia dapat teman baru: Alfito, sepupu Sita. Cowok pertama yang bikin jantungnya berdebar saat berlibur ke Dusun Ranjung ini.
Dusun Ranjung sendiri terletak di tengah hutan, sekitar tiga kilometer dari desa Kecamatan Long Ikis. Hanya beberapa keluarga yang menetap di situ. Hidup mereka dari berladang, berkebun rotan dan buah-buahan.
Ke Long Ikis, warga bisa jalan kaki, naik sepeda kayuh, atau motor. Termasuk Lora dan teman-temannya. Setiap hari sekolah mereka berangkat bersama-sama, pulang pun bersama-sama, mengayuh sepeda menembus jalan tanah di bawah langit sore atau senja yang kadang berwarna ungu.
Setelah kedekatan yang pertama di telaga itu, Alfito menjadi tak sungkan-sungkan lagi untuk bertemu Lora seorang diri. Kadang cowok itu naik sepeda ke rumah Lora, kadang hanya berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang berliku di hutan dan tanah huma di dusun Ranjung itu.
Keluarga Lora menerima Alfito dengan senang hati, karena cowok itu sangat pandai membawa diri. Sopan dan ramah.
Pada hari yang lain, Aldi – kakak Lora, mengajak Alfito mencari buah durian, karena memang sedang musim. Mereka berdua masuk lebih jauh ke dalam hutan menuju tempat yang banyak pohon durian. Alfito gembira sekali ketika mereka pulang membawa cukup banyak buah durian. Ternyata dia baru tahu, di dalam hutan yang lebat itu, banyak sekali berbagai macam pohon buah-buahan yang tumbuh secara liar. Itu milik bersama. Siapa saja boleh memetiknya. Tak ada yang melarang. Oh, hutanku yang kaya, pikir Alfito.
“Rasanya aku pun ingin tinggal menetap di sini, Lora. Di sini rasanya serba ada. Mau ikan tinggal mancing di sungai atau kolam, mau buah-buahan tinggal petik sendiri di hutan. Sangat menyenangkan,” ungkap Alfito.
“Kamu tak mungkin kerasan, Fito. Karena sudah terbiasa hidup di kota. Beda dengan kami yang memang tinggal di sini,” sahut Lora.
“Jadi nggak boleh aku berharap suatu saat tinggal di dusun ini? Kan di sini juga ada keluargaku?”
“Boleh aja dong. Bermimpi itu indah kan?”
“Mimpi bisa jadi kenyataan lho, Lora.”
“Iya juga sih.”
Malam-malam menjelang tidur, selalu ada rasa yang indah di hati Lora manakala teringat pada Alfito. Dia suka pada cowok itu, dan dia merasa Alfito pun menyukainya. Rasanya ingin selalu dekat dengan cowok itu dan berbincang tentang apa saja bersamanya.
Seperti juga malam ini, Lora teringat lagi kepada Alfito. Sebelum cowok itu kembali ke Tanah Grogot beberapa hari lalu, mereka ngobrol berdua di pondok di tengah ladang milik orangtua Lora. Hanya berdua.
“Waktu liburan kita hanya tinggal sedikit hari lagi ya, Lora," kata Alfito.
"Ya, kita akan kembali ke sekolah...."
"Kita akan berpisah."
"Tapi semuanya indah kan?"
"Lora, kamu bikin aku gemas tahu! Kamu selalu mengatakan sesuatu itu indah. Aku suka itu. Kamu tidak sedih kalau kita berpisah?"
"Sedih itu juga indah kok!"
Namun sesaat Alfito terpana. Gadis yang sungguh dia sukai itu, kedua matanya nampak berair. Dia yakin, Lora juga sedih karena mereka akan segera berpisah, karena waktu libur sekolah sudah hampir habis, dan Alfito harus meninggalkan Dusun Ranjung yang indah ini.
Jari tangan Alfito terangkat ingin menyentuh pipi yang putih dan mulus itu. Tapi tak jadi. Lora memandangnya sambil tersenyum manis.
“Aku nggak mau sedih, Fito. Nggak mau. Kita tetap bisa telepon-teleponan kan nanti?” kata Lora mencoba tegar, namun suaranya terdengar sendu.
“Tentu dong. Dan nanti kalau ada waktu liburan lagi, aku pasti kemari.”
“Janji ya?”
“Aku janji….”
Alfito mengangkat jari kelingking kanannya di depan wajah Lora. Gadis itu tersenyum kecil. Dia juga mengangkat jari kelingking kanannya. Kedua jari kelingking itu akhirnya bertaut saling mengait. Alfito dan Lora kemudian sama-sama tertawa.
Dan sekarang hari Minggu. Pukul tiga sore. Langit agak mendung. Barangkali hujan akan turun, atau gerimis kecil pun tidak sama sekali. Mana ada yang tahu kan? Sebab cuaca memang tidak bisa dipercaya, dia cuma permainan hari serta angin belaka.
Lora mengucek-ngucek kedua matanya. Ia baru saja terbangun dari tidur siangnya yang nyenyak. Dibetulkannya rambutnya yang acak-acakan. Lantas turun meninggalkan tempat tidur. Berjalan ke arah jendela menyaksikan pemandangan di luar. Terasa sejuk dan nyaman manakala angin bertiup menerpa wajahnya. Pohon mangga yang berdiri kokoh di halaman rumahnya menjatuhkan daun-daunnya yang berwarna kuning.
Lora menghela napas. Benaknya terusik oleh bayangan Alfito. Sudah berapa waktu lamanya, belum ada kabar apa-apa dari cowok itu. Ketika dia bertanya kepada Sita, ingin tahu kabar tentang saudara sepupunya itu, selalu Sita menjawab tidak tahu. Apakah Alfito sudah melupakannya? Lora sedih, dan ingin menangis! Tapi, sedih dan menangis itu indah, bukan? Perasaan Lora menjadi hampa dan sunyi.
Tiba-tiba riuh suara di depan rumah. Lora berlari ke depan. Dari pelataran rumah panggungnya yang tinggi, dia menengok ke bawah. Ada Sita dan Rini, teman sekelasnya. Mereka melambaikan tangan sambil tertawa-tawa.
“Lora, ayo turun! Kita ke telaga yuk!” teriak Sita.
“Ada kejutan untukmu!” Rini juga berseru.
“Oh ya? Oke, sebentar ya? Aku pamit Mama dulu.”
Tetapi, sesampainya di telaga, Sita dan Rini justru berlari cepat menjauh meninggalkan Lora. Dan menghilang di balik bukit kecil seraya meninggalkan suara tawa mereka yang menggema dikesunyian hutan.
“Sita! Rini! Kalian mau ke mana!?”
Lora kesal dan cemberut. Kejutannya nggak lucu, gumamnya. Gadis itu segera membalikkan badannya dan siap melangkah pulang. Tapi dia terkejut bukan main, kira-kira sepuluh meter di depannya, di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga, berdiri seorang cowok yang selama ini mengusik pikiran dan perasaannya. Cowok itu tertawa tanpa suara.
“Fito…! Alfito!” seru Lora tanpa bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Lora berlari menghampiri cowok itu.
“Lora, benar kan seperti apa yang kukatakan dulu. Harapan dan mimpi itu bisa jadi kenyataan,” kata Alfito.
“Maksudmu?”
“Kita akan kembali bersama di sini, dan mungkin selamanya….”
“Oh, begitukah, Fito?” Lora menatap cowok itu. Tajam.
Ya. Ayah Alfito, sebagai pegawai pemerintah, dipindahtugaskan ke desa di Kecamatan Long Ikis. Otomatis dia harus boyong semua keluarganya, termasuk Alfito tentu. Alfito harus pindah sekolah kemari. Akan satu sekolah dengan Lora, Sita, Rini dan teman-teman lainnya. Alfito pun sudah bertekad, bila telah selesai SMP nanti, dia akan melanjutkan pendidikan SMA di Long Ikis ini juga. Hal itu tentu saja, agar dia bisa selalu bersama Lora.
Alfito menatap Lora. Lora menatap Alfito. Sama tersenyum. Ada sinar kerinduan yang bergelombang-gelombang dalam sorot mata keduanya. Dan pada saat yang sama, angin bertiup kencang sekali di tepi telaga itu, membuat dahan dan ranting pohon flamboyan di atas mereka bergoyang-goyang, sehingga kuntum-kuntum bunganya yang mungil dan berwarna merah jingga berjatuhan di antara Alfito dan Lora. Begitu indah. Sangat indah! (*)
*)Akhmadi Swadesa, Lelaki dari Tanah Paser yang suka menulis cerpen. Anggota Jaring Penulis Kaltim (JPK).
*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.
Editor : Duito Susanto