KALTIMPOST.ID, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Rusia, menyebabkan kerusakan signifikan di sejumlah lokasi, termasuk kebakaran besar di salah satu lapangan terbang militer di Lipetsk, Jumat (9/8/2024).
Serangan ini telah memicu kemarahan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Menurut laporan AFP, serangan tersebut terjadi di wilayah Lipetsk, yang berjarak sekitar 330 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Gubernur Lipetsk, Igor Artamonov, mengumumkan melalui Telegram bahwa wilayahnya telah "menjadi target serangan UAV (kendaraan udara tak berawak) secara besar-besaran."
Ia juga melaporkan bahwa serangan ini menyebabkan rentetan ledakan yang terjadi "jauh dari bangunan sipil" dan merusak fasilitas listrik setempat.
Meskipun media Rusia belum mengonfirmasi penyebab kebakaran di lapangan terbang Lipetsk, serangan ini dianggap sebagai yang paling signifikan di wilayah Rusia sejak perang antara Rusia dan Ukraina dimulai pada tahun 2022.
Selain di Lipetsk, pasukan pro-Kyiv juga melancarkan serangan lintas perbatasan ke wilayah Kursk, Rusia.
Serangan ini melibatkan lebih dari 1.000 tentara Ukraina, yang didukung dengan kendaraan lapis baja dan tank, serta dilindungi oleh kawanan drone dan tembakan artileri tanpa henti.
Reuters melaporkan bahwa serangan ini bahkan berhasil menembus hingga 20 kilometer ke dalam wilayah Rusia.
Baca Juga: Nurul Akmal, Harapan Terakhir Indonesia yang Akan Berlaga di Olimpiade Paris 2024
Presiden Rusia, Vladimir Putin, merespons dengan kemarahan besar. Dalam rapat darurat dengan Dewan Keamanan Rusia yang dihadiri oleh kepala badan keamanan, jajaran Kementerian Pertahanan, Staf Jenderal, dan Dinas Keamanan Federal (FSB), Putin menggambarkan serangan Ukraina ini sebagai "provokasi skala besar."
Ia juga memerintahkan kabinetnya untuk segera mengoordinasikan bantuan ke wilayah Kursk.
"Rezim Kyiv telah melancarkan provokasi skala besar lainnya, menembakkan berbagai jenis senjata tanpa pandang bulu, termasuk roket, ke bangunan sipil, bangunan tempat tinggal, ambulans," kata Putin.
Di sisi lain, pihak Ukraina belum sepenuhnya mengonfirmasi atau menolak laporan serangan ini. Namun, penasihat senior pada kantor kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak, menyatakan bahwa Rusia harus disalahkan atas eskalasi ini.
"Perang adalah perang, dengan aturan-aturannya sendiri, di mana pihak yang menyerang pasti akan mendapatkan hasil yang sama," ujarnya.
Serangan ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban luka, tetapi juga meningkatkan ketegangan antara kedua negara yang telah berperang sejak Februari 2022.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyindir dalam pidatonya bahwa "Rusia membawa perang ke tanah kami dan harus merasakan apa yang telah mereka lakukan." (*)
Editor : Dwi Puspitarini