KALTIMPOST.ID, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini memberikan pembaruan terkait penyebaran cacar monyet atau yang dikenal dengan sebutan Mpox.
Meski muncul varian baru yang dikenal sebagai klade I, WHO menegaskan bahwa Mpox bukanlah "Covid-19 model baru" dan risiko penyebarannya terhadap populasi umum tetap rendah.
Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, menegaskan dalam konferensi pers pada Rabu (21/8/2024), bahwa meskipun Mpox menimbulkan kekhawatiran, tidak ada alasan untuk menyamakannya dengan pandemi virus corona.
"Kita dapat, dan harus, mengatasi Mpox bersama-sama di seluruh wilayah dan benua," ujarnya.
Kluge menekankan pentingnya penerapan sistem untuk mengendalikan dan menghilangkan Mpox secara global. "Bagaimana kita menanggapi sekarang, dan di tahun-tahun mendatang, akan menjadi ujian kritis bagi Eropa dan dunia," jelasnya.
Penyebaran Mpox di Indonesia
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengumumkan data terbaru terkait kasus konfirmasi Mpox.
Hingga Sabtu (17/8/2024), tercatat 88 kasus konfirmasi Mpox tersebar di beberapa wilayah. Rinciannya, DKI Jakarta mencatat 59 kasus, Jawa Barat 13 kasus, Banten 9 kasus, Jawa Timur 3 kasus, Daerah Istimewa Yogyakarta 3 kasus, dan Kepulauan Riau 1 kasus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 kasus telah dinyatakan sembuh. Tren mingguan menunjukkan bahwa kasus konfirmasi Mpox di Indonesia memuncak pada Oktober 2023.
Plh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr Yudhi Pramono, MARS, menyatakan bahwa dari 88 kasus yang dikonfirmasi, 54 di antaranya memenuhi kriteria untuk dilakukan whole genome sequencing (WGS) guna mengetahui varian virusnya.
“Dari 54 kasus ini, seluruhnya adalah varian Clade IIB. Clade II ini mayoritas menyebarkan wabah Mpox sejak 2022 hingga saat ini dengan tingkat fatalitas lebih rendah dan ditularkan sebagian besar melalui kontak seksual,” ujar dr Yudhi pada konferensi pers, Minggu (18/8/2024).
Karakteristik Clade Mpox
Baca Juga: PDIP: Putusan MK Jadi Kemenangan Rakyat Melawan Oligarki
Dr dr Prasetyadi Mawardi, SPKK(K), dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), menjelaskan bahwa varian Mpox Clade I, baik subclade 1a maupun 1b, belum terdeteksi di Indonesia.
Sejak 2022, varian yang ditemukan di Indonesia adalah Clade II, yang memiliki tingkat fatalitas lebih rendah.
"Clade I, terutama subclade 1a, memiliki case fatality rate (CFR) lebih tinggi daripada Clade lainnya, dengan penularan melalui beberapa mode transmisi. Sedangkan Clade II sebagian besar ditularkan melalui kontak seksual," jelas dr Prasetyadi.
Ia juga mengingatkan bahwa Mpox terutama menyerang kulit, sehingga siapa pun yang dicurigai terinfeksi dan mengalami gejala harus menghindari manipulasi pada lesi kulit seperti memencet atau menggaruknya.
"Lesi pada kulit, baik yang basah maupun yang sudah mengering, dapat menularkan virus," ujarnya.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes telah melakukan surveilans di seluruh fasilitas kesehatan, penyelidikan epidemiologi bersama komunitas dan mitra HIV/AIDS, serta menetapkan 12 laboratorium rujukan secara nasional untuk pemeriksaan Mpox.
Untuk pasien dengan gejala ringan, isolasi mandiri di rumah dengan pengawasan dari puskesmas setempat dianjurkan, sementara pasien dengan gejala berat harus dirawat di rumah sakit.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker medis jika merasa tidak sehat, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala seperti ruam bernanah atau keropeng pada kulit.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor 1500-567, SMS 081281562620, atau alamat email kontak@kemkes.go.id. (*)
Editor : Dwi Puspitarini