Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ketua Satgas Pembangunan IKN Akui Ada Stakeholder Gunakan Pawang Hujan di IKN

Rikip Agustani • Senin, 2 September 2024 | 06:19 WIB

Danis Hidayat Sumadilaga (FOTO: IST)
Danis Hidayat Sumadilaga (FOTO: IST)
KALTIMPOST.ID, Curah hujan yang tinggi menjadi tantangan berat yang harus dihadapi pada proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Terlebih menjelang peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2024. Membuat penyelesaian pembangunan infrastruktur dasar di IKN menjadi terhambat. 

 

Bahkan ada video yang sempat viral di media sosial yang merekam aksi pria yang diduga sebagai pawang hujan di Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) IKN, untuk menghalau hujan agar tidak turun di proyek pembangunan IKN.

 

Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis Hidayat Sumadilaga juga mengakui tantangan yang dihadapi pada pembangunan IKN di bulan lalu, adalah  curah hujan yang cukup tinggi.

 

Dan hal itu, disebutnya agak mengganggu kegiatan pembangunan IKN. Bahkan setelah upacara penaikan Bendera Pusaka pada 17 Agustus 2024, lokasi Istana Negara sempat diguyur hujan. Namun pada saat penurunan Bendera Pusaka saat sore hari, cuaca kembali terang. 

 

”Kita sebetulnya bukan hanya untuk upacara 17 Agustus. Tapi dalam rangka pembangunan infrastruktur, juga ‘kan pada saat tertentu, tidak mungkin kita bisa bekerja kalau hujan deras. Sehingga kita melaksanakan yang disebut Teknologi Modifikasi Cuaca. Untuk mengatur agar curah hujan itu bisa beralih ke beberapa tempat-tempat lain. 

 

Tidak di sekitar itu (IKN). Itu kita lakukan bersama-sama dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara,” katanya dalam siniar (podcast) “Suka Duka di Balik Pembangunan Ibu Kota Nusantara” di kanal Kementerian PUPR, yang diunggah Minggu (1/9).  

 

Dengan demikian, pria yang menjabat sebagai Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN sejak tahun 2021 ini, menegaskan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur IKN selama ini, pihaknya hanya melibatkan penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tidak melibatkan pawang hujan, sebagaimana video yang sempat viral di media sosial, pada bulan lalu.

 

“Pawang hujan mungkin ada beberapa stakeholder ya, yang memang mengundang itu. Tapi bukan Kementerian PUPR. Kalau Kementerian PUPR yang melakukan itu, ada yang lakukan bersama dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara. Dalam rangka mendukung itu adalah Teknologi Modifikasi Cuaca,” tegas pria ramah ini.

Selain curah hujan yang cukup tinggi, Selama kurun waktu 2 tahun pembangunan IKN, banyak yang berkaitan dengan hal teknis. Seperti ketersediaan sumber material untuk pembangunan IKN. Karena tidak berasal dari wilayah Kalimantan, melainkan didatangkan dari Sulawesi. Sehingga, untuk mengangkut material tersebut ke IKN, memerlukan puluhan tongkang. 

 

“Waktu itu agak sulit karena tongkangnya banyak dipakai untuk batu bara. Jadi agak terjadi keterlambatan dalam proses distribusi logistik. kemudian kita juga harus menyiapkan pelabuhan-pelabuhan untuk mereka membawa (material),” ungkap Danis Hidayat Sumadilaga.

 

Tantangan lainnya adalah lokasinya pembangunan IKN yang cukup terpencil. Sehingga menyulitkan ketika membawa alat-alat berat ke titik lokasi pembangunan IKN. Selain itu, rekrutmen tenaga kerja konstruksi yang sesuai kebutuhan pembangunan IKN. Sehingga harus direkrut secara bertahap. 

 

Mulai dari 10 ribu tenaga kerja konstruksi hingga bertambah sampai saat ini berjumlah 27 ribu orang. Dari jumlah 27 ribu orang itu hanya 30 persen yang bisa dipenuhi dari tenaga kerja lokal. 

 

Yang berdomisili di wilayah Kalimantan. Sementara 70 persen lainnya didatangkan dari dari Jawa dari Sulawesi. “Ini memang tidak semudah kalau membangun di Jawa. Karena jumlah orang dan sebagainya kita perlu orang banyak. Bahkan membawanya juga pakai pesawat terbang itu. Pakai pesawat TNI Au, (pesawat) Hercules,” ujar dia.

 

Kemudian tantangan lainnya yang berkaitan dengan eksternal, seperti lingkungan. Di mana pihaknya memiliki tugas untuk menjaga lingkungan selama tahapan pembangunan ini. Semisalnya, jika ingin menebang pohon harus dihitung luas areanya. Agar dapat diketahui jumlah pohon yang ditebang. Dan berapa jumlah nantinya yang akan ditanami kembali. 

 

“Hal-hal seperti itu yang kita perhatikan. Dan jangan sampai kita mengotori misalnya ke arah laut di pembangunan jalan tol. Juga menjaga hewan, mamalia. Karena di sana (IKN) ada satwa. Sehingga banyak yang kita lakukan upaya-upaya untuk memitigasi hal-hal yang barangkali menimbulkan dampak negatif,” pungkas pria berkacamata ini. 

 Baca Juga: Tuntas Jalani Tes Kesehatan, Pasangan Rendi-Eddy Siap Menuju Pilwali Balikpapan 2024

 

Editor : Uways Alqadrie
#pawang hujan #pembangunan ikn