KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Tak hanya sebagai satwa endemik yang menjadi ciri khas Kalimantan, bekantan memiliki fungsi yang penting sebagai penjaga keseimbangan ekosistem.
Sebab binatang yang kerap disapa monyet belanda ini gemar membawa biji tanaman untuk ditebar pada lahan-lahan di hutan. Sehingga keberadaannya perlu dijaga.
Kicauan burung cekakak sungai (todiramphus chloris) menyertai sepanjang perjalanan Kaltim Post saat mencari monyet belanda yang saat ini sudah mulai jarang terlihat batang hidungnya. Perlu usaha ekstra jika ingin menjumpainya di kawasan hutan mangrove Desa Babulu Laut, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Sampan kecil dengan panjang hampir 2 meter itu mengangkut Kaltim Post dan beberapa jurnalis lain menyusuri anak sungai air payau di tengah hutan rawa tropis. Sampan itu didayung oleh Amat, warga Desa Babulu laut. Dia terbiasa menjadi tour guide para aktivis, NGO dan peneliti yang ingin mengamati langsung habitat bekantan.
Tujuannya sudah jelas, mengobservasi primata bernama latin nasalis larvatus yang jadi satwa endemik Kepulauan Borneo. "Aookkk, aookkk...," teriak bekantan jantan ketika menyadari kehadiran spesies lain, homo sapiens.
Jeritan itu menggema, diikuti bunyi kawanan lainnya. Terdengar aneh seperti suara manusia yang sedang 'mengorok'. Seketika langsung terbesit penuturan peneliti primata dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Atmoko, yang menyebutkan bahwa suara bekantan ada pada frekuensi 3.4 - 5.4 Kilohertz.
Hal itu disebutkan dua hari sebelum kami menginjakkan kaki di Babulu Laut, pada Rabu (8/1) di ruang Townhall 2 Hotel Midtown, Samarinda. Dalam rangkaian kegiatan “Journalist Trip” yang digagas Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI).
Kekerapan jumlah suara itu masuk dalam spektrum mid-high atau upper midrange, yang artinya gelombang suara tersebut bisa terdengar sangat jelas dan terasa menusuk. Itu juga jadi kemampuan bekantan jantan untuk memberi peringatan kepada kelompoknya bahwa ada bahaya mengintai di sekitar mereka.
Menyadari kehadiran entitas lain yang menurut mereka anomali ada di habitanya, bekantan betina yang memiliki hidung lebih kecil dan sebagian menggendong bayi langsung menyingkir ke tengah hutan, sisanya masih memantau. Termasuk pejantan utama dalam kelompok yang punya tubuh dan hidung paling besar. Pengamatan kepada bekantan ini berjarak sekitar 50-70 meter dari tepi sungai.
Bekantan yang punya tubuh paling besar itu bertengger di ranting pohon mangrove. Rantingnya terlihat rapuh untuk menopang tubuhnya yang bongsor. Melalui Tri, diketahui jika berat bekantan dewasa di kisaran 10-21 Kilogram, dengan panjang yang bisa mencapai 75 centimeter.
Ini menjadikannya spesies monyet-daun (famili: cercopithecidae) terbesar di antara golongannya yakni lutung perak, lutung merah, dan simakobu yang beratnya hanya setengah dari si hidung panjang. Hidung kelewat mancung itu jadi sebab orang-orang lokal menyebutnya monyet belanda.
Tuhan menciptakan hidung yang mancung itu alasannya bukan hanya agar si bekantan terlihat tampan dari deretan monyet-monyet lainnya, tapi bisa juga jadi penentu posisi sosial sesama pejantan di luar kelompoknya (dalam satu kelompok hanya dipimpin satu pejantan dewasa).
“Semakin besar dan panjang hidung bekantan jantan, maka besar juga testisnya. Hal itu juga menandakan seberapa banyak betina dalam kelompok tersebut,” terang Tri. Bekantan juga punya ciri khas perut yang buncit, akibat dari kebiasaan mengonsumsi dedaunan makanan yang mengasilkan banyak gas sewaktu dicerna.
“Proses makannya itu memamah biak. Pemakan tumbuhan yang mengunyah makanannya dua kali sama seperti sapi. Dia juga punya lambung yang beruang-ruang, ukuran pencernaannya besar,” paparnya. Sumber pakannya terdiri dari 188 jenis tumbuhan, bunga, buah mentah dan serangga (Matsuda et al. 2009; Yeager 1989). “Jenis mangrove sonneratia ovata jadi makanan favoritnya,” sambung Tri.
Sayangnya, sepanjang pengamatan, kami hanya menemukan dua grup bekantan di dua titik berbeda. Diketahui sebelumnya, YPUI pada 2024 sudah melakukan penelitian keragaman satwa di ekosistem mangrove Babulu Laut.
"Tahun lalu kami bertemu langsung 2 grup Bekantan terdiri dari 15 individu dengan estimasi populasi 27 individu yang menghuni 70 hektare area hutan tersisa di Pesisir Babulu Laut," jelas Fathurohmah, koordinator program di YPUI.
Sekitar setengah jam pengamatan yang kami lakukan, sebelum kawanan bekantan itu pergi masuk ke dalam hutan yang tak bisa dijangkau. Setelahnya, tidak ada lagi bekantan yang dapat diamati.
"Saat ini mencari bekantan itu hoki-hokian kadang ada, kadang tidak ada," ungkap perempuan yang karib disapa Ifat tersebut. Bukan sekali dua kali pengalamannya mencari monyet yang jadi salah satu spesies primata pesisir yang terancam punah (endangered) menurut IUCN tersebut. Dia mengenang pernah selama tiga hari pengamatan hanya sekali saja bertemu kawanan bekantan.
Tahun ini memasuki tahun ketiga Ifat bergabung di YPUI, lembaga non-profit yang fokus bekerja pada isu lingkungan. Perempuan yang sudah menginjak usia kepala tiga itu mengkoordinasikan program rehabilitasi ekosistem mangrove New Mahakam di YPUI yang tujuannya melakukan upaya restorasi, kampanye lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat di kawasan pesisir Kaltim.
Wilayah intervensinya meliputi Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara dan Cagar Alam Teluk Adang di Kabupaten Paser sejak 2022. Merespon tingginya penerimaan masyarakat dan dukungan stakeholder lokal, pada 2024 YPUI memperluas area kerja hingga kawasan Babulu Laut.
Pihaknya terus melakukan upaya restorasi mangrove dan kampanye kesadaran kepada masyarakat tentang menjaga keberlangsungan kawasan mangrove. "Restorasi mangrove menjadi salah satu langkah utama kami, karena dengan memperbaiki ekosistem mangrove, kami turut memperbaiki rumah bagi bekantan dan spesies lainnya yang hidup bergantung pada mangrove," terangnya.
Senada dengan itu, Tri Atmoko menyebutkan, bekantan merupakan spesies payung di dalam habitatnya. "Spesies payung punya ciri-ciri yakni memiliki habitat yang spesifik dan memerlukan areal yang luas, dan ketika dilakukan perlindungan pada habitatnya, akan sekaligus melindungi spesies lain yang ada di bawahnya," jelasnya.
"Menurunnya habitat itu otomatis menyebabkan populasi bekantan juga menurun. Ancaman terbesar bagi bekantan itu terkait dengan habitat, terutama penurunan luas habitat, hilangnya habitat, atau kerusakan habitat. Masalah lain yang turut memperburuk kondisi ini ialah pembakaran hutan dan lahan mangrove oleh masyarakat untuk membuka lahan tambak," ujarnya.
Kondisi ini memperburuk kualitas hidup bekantan yang sangat bergantung pada lingkungan alam sekitarnya. Akhirnya, keadaan itu berdampak pada fragmentasi habitat. Populasi bekantan yang terisolasi di habitat yang semakin sempit menjadi lebih rentan terhadap kepunahan lokal.
"Fragmentasi habitat menyebabkan populasi kecil yang terisolasi, sehingga daya tahan mereka menjadi sangat rendah. Hal ini berisiko pada kepunahan lokal, yang kini semakin banyak terjadi di beberapa daerah," tandasnya.
Penurunan jumlah bekantan juga terjadi secara terus menerus tiap tahunnya. "Di beberapa lokasi sudah terjadi, meskipun penelitian bekantan tidak dilakukan secara rutin, kami bisa melihat adanya tren penurunan, ini jadi indikasi bahwa populasinya terancam," pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie