KALTIMPOST.ID, Sepanjang Maret 2025, publik dibuat heboh dengan sederet pernyataan pejabat yang terkesan absurd dan tak menunjukkan empati.
Dari komentar tentang kepala babi hingga anggapan bahwa ormas meminta THR adalah "budaya", berikut ini lima pernyataan pejabat yang paling menuai kontroversi.
- Annisa Mahesa: Kenapa Mesti Demo?
Anggota DPR termuda 2024-2029, Annisa Mahesa, mengaku heran dengan aksi demo yang sering dilakukan masyarakat.
"Kenapa nggak diskusi aja?" ujarnya. Ia bahkan menyarankan agar masyarakat berdiskusi langsung dengan wakil rakyat, daripada turun ke jalan untuk demonstrasi.
Pernyataannya ini langsung mendapat respons negatif dari warganet yang menilai bahwa aksi demo adalah bagian dari demokrasi dan alat untuk menyuarakan aspirasi.
Komentar-komentar ini membuktikan bahwa sering kali, pemimpin tidak cukup peka terhadap situasi yang terjadi di masyarakat.
Sebagai pejabat publik, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berbicara agar tidak menyinggung atau meremehkan isu-isu yang sebenarnya serius.
Baca Juga: Jangan Sampai Kecelakaan! Kenali Tanda-Tanda Microsleep dan Cara Mencegahnya sebelum Terlambat
- Wamenag: Ormas Minta THR Itu Budaya
Menjelang Lebaran, muncul fenomena ormas yang meminta THR kepada para pengusaha. Hal ini membuat resah banyak pihak, terutama pelaku usaha kecil.
Namun, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi’i justru menganggap ini hal yang wajar.
"Saya rasa itu fenomena budaya Lebaran Indonesia sejak dahulu kala. Tak perlu dipersoalkan," ujarnya.
Pernyataannya menuai kritik karena dinilai justru melegitimasi praktik yang dianggap sebagai bentuk pemerasan oleh ormas tertentu.
Baca Juga: BSI Raih Penghargaan dari OJK, Bukti Konsistensi Pengembangan Ekonomi Syariah
- Hasan Nasbi: Masak Saja Kepala Babinya
Komentar ini datang dari Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, saat menanggapi teror kepala babi yang dikirimkan ke kantor Tempo.
Alih-alih menunjukkan kepedulian, ia justru melontarkan pernyataan yang dianggap meremehkan.
"Udah dimasak aja. Kalau kepala babi mah dimasak aja," kata Hasan saat ditanya media. Tak berhenti di situ, ia bahkan menilai bahwa Tempo sendiri menganggap teror itu sebagai candaan.
"Saya lihat dari media sosialnya Francisca Tempo, dia justru minta dikirimin daging babi. Artinya dia nggak terancam, kan?" lanjutnya.
Padahal, aksi ini dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan pers. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pun mengutuk keras tindakan tersebut.
Baca Juga: Cerita Wahyu Pranata, Juragan Snack yang Suplai Puluhan Reseller Luar Kota Jelang Lebaran
Setelah menuai kritik tajam, Hasan mencoba memberikan klarifikasi. Menurutnya, ucapannya itu terinspirasi dari cara jurnalis Tempo merespons peristiwa tersebut.
"Saya mengutip dari X-nya Francisca. Kalau saya tahu dia makan daging babi, ya saya bilang cara melecehkan peneror yang lebih paripurna lagi ya dimasak," jelasnya.
Namun, klarifikasi ini tetap tak meredam kemarahan publik. Banyak yang menilai pernyataannya mencerminkan kurangnya kepedulian terhadap ancaman terhadap jurnalis.
Baca Juga: Dua Sholat yang Paling Berat bagi Orang Munafik, Ini Penjelasannya!
- Prabowo: Jangan Banyak Makan Pedas
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung soal harga pangan yang relatif stabil.
Namun, pernyataan yang paling menyita perhatian adalah soal cabai. "Harga cabai rawit yang sempat naik, sekarang mulai turun. Tapi saran saya, jangan terlalu banyak makan pedas," ujar Prabowo.
Ia pun menambahkan bahwa dulu dirinya suka makan pedas, tetapi kini dokter melarangnya.
Meski terdengar ringan, komentar ini memicu reaksi di media sosial. Banyak yang menganggap pernyataan tersebut kurang relevan dengan isu utama yang dibahas, yakni kestabilan harga pangan.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan? Ini Penjelasannya!
- Kepala BGN: Timnas Indonesia Kurang Gizi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa salah satu alasan Timnas Indonesia sulit menang adalah karena kekurangan gizi.
"Jadi jangan heran kalau PSSI itu sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung," kata Dadan.
Pernyataan ini langsung menuai reaksi dari berbagai pihak, termasuk DPR.
"Kepala BGN jangan terlalu lebay menyangkutpautkan PSSI dengan makanan bergizi. Fokus saja menyukseskan program Makan Bergizi Gratis," tegas Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani. ***
Editor : Dwi Puspitarini