Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Banjir di Samarinda Lumpuhkan Ekonomi, Kerugian Diduga Capai Ratusan Miliar Per Hari 

Nasya Rahaya • Sabtu, 17 Mei 2025 | 21:31 WIB
GANGGU EKONOMI: Banjir menggenangi jalanan di Simpang Empat Air Hitam, Samarinda pekan lalu. Membuat masyarakat harus berpikir lebih untuk menerobos.
GANGGU EKONOMI: Banjir menggenangi jalanan di Simpang Empat Air Hitam, Samarinda pekan lalu. Membuat masyarakat harus berpikir lebih untuk menerobos.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Hujan deras yang mengguyur Samarinda sepanjang pekan lalu tak hanya merendam rumah dan menutup jalanan, tapi juga melumpuhkan denyut nadi perekonomian daerah. Kerugian ekonomi yang timbul akibat banjir bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, Hairul Anwar menyebut, genangan banjir sangat luas. Hampir seluruh wilayah Samarinda terganggu. “Bisa dibilang 80 sampai 90 persen aktivitas ekonomi terganggu. Itu berarti potensi kerugian per hari bisa mendekati volume transaksi harian kota ini,” kata Hairul, Jumat (16/5).

Menurut data Dinas Perdagangan Kota Samarinda 2023, rata-rata perputaran uang dari sektor perdagangan mencapai Rp 400 hingga Rp 500 miliar per hari. Jika estimasi Hairul akurat, maka banjir yang terjadi selama beberapa hari bisa menyebabkan kerugian total hingga triliunan rupiah.

Hairul menegaskan, kerugian tersebut belum termasuk kerusakan fisik yang terjadi di rumah tangga, seperti perabotan, barang elektronik, kendaraan, dan bangunan yang terendam air. “Dekat rumah saya aja, gampang sekali menemukan puluhan motor rusak karena terendam. Itu belum termasuk mebel, kasur, kulkas, televisi, dan lainnya,” ucap dia.

Selain itu, sektor perdagangan kecil juga menjadi korban paling rentan. Para pedagang ritel yang tokonya kebanjiran tidak hanya kehilangan peluang transaksi, tapi juga harus menanggung kerusakan barang dagangan. “Pikirkan aja pedagang-pedagang seperti daeng-daeng di pasar, banyak toko kemasukan air. Barangnya rusak, belum tentu bisa diklaim asuransi,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya sistem mitigasi bencana yang lebih canggih, terutama dalam menyebarkan informasi dini kepada warga. “Kita semua tahu banjir tidak bisa diselesaikan semalam. Tapi paling tidak, kita bisa kurangi dampaknya lewat sistem peringatan dini yang lebih efektif. Sekarang semua orang punya HP, tinggal bagaimana pesan itu cepat tersampaikan,” katanya.

Hairul menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan teknologi seperti prakiraan cuaca BMKG yang kini semakin akurat dalam memperkirakan intensitas dan durasi hujan. “Kalau kita bisa tahu hujan deras akan berlangsung sampai Jumat, maka warga bisa lebih siap-siap. Minimal memindahkan barang penting atau menghindari jalan-jalan rawan banjir,” ucapnya.

Kerugian ekonomi, lanjut dia, bukan hanya tentang perdagangan. Banyak pekerja yang tidak bisa masuk kerja, mahasiswa yang tidak bisa kuliah, dan warga yang jatuh sakit karena terdampak banjir. “Samarinda ini kota perdagangan dan pendidikan. Jadi kalau banjir, yang rugi bukan cuma pedagang. Sektor pendidikan juga kena. Itu semua harus dihitung sebagai kerugian ekonomi,” katanya.

Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk mulai menghitung kerugian ekonomi dari peristiwa banjir secara komprehensif, agar bisa menjadi dasar kebijakan jangka panjang. “Selama ini kita selalu bicara soal genangan dan kedalaman air. Tapi kita jarang hitung berapa kerugiannya secara ekonomi, padahal itu penting untuk menentukan prioritas penanganan,” tutup Hairul.

Senada dengan Hairul, Purwadi yang juga pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman menyebutkan bahwa kerugiannya sangat kompleks. Bukan cuma ekonomi, tapi juga sosial, kesehatan, dan ekologi. Banyak rumah yang longsor, mobil dan motor hanyut, listrik padam, air PDAM kotor, pasar dan sekolah rusak. Aktivitas masyarakat bisa lumpuh total.

Ia menyebutkan banjir yang berulang tak hanya membuat kerusakan infrastruktur, tapi juga berpotensi menggerus kepercayaan investor. “Kalau banjirnya enggak selesai-selesai, investor pasti pikir dua kali. Mereka pasti akan tanya: listrik gimana, air bersih bagaimana, infrastruktur seperti apa, hukum dan politik aman atau tidak,” ujarnya.

Dalam perspektif ekonomi makro, bencana banjir juga memicu efek domino. Tidak hanya aktivitas perdagangan yang berhenti, tapi potensi penyerapan tenaga kerja pun ikut terhambat. “Kalau tidak ada investasi yang masuk, maka tidak ada industri yang bisa tumbuh. Dan kalau tidak ada industri, ya pengangguran bisa makin banyak,” ucapnya.

Dampak banjir juga menyasar sektor kesehatan masyarakat. Ia menyebut, banyak warga yang mulai mengeluhkan penyakit kulit, gatal-gatal, hingga diare akibat air kotor. “Ini juga biaya. Biaya berobat, biaya perawatan, dan tentu berdampak pada produktivitas masyarakat,” katanya.

Banjir di Samarinda, lanjut dia, telah menjadi penghalang struktural terhadap pertumbuhan ekonomi kota. “Coba bayangkan, kalau seorang investor tanam uang Rp 1 miliar, lalu lima tahun kemudian dia hanya dapat balik modal atau malah rugi karena tiap tahun usahanya terhenti akibat banjir, ya nilai investasinya hilang. Ini pertimbangan serius,” ujarnya.

Ia pun menekankan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam penanganan bencana banjir yang terus berulang. “Ini bukan cuma soal genangan air. Ini soal nyawa, soal masa depan kota. Kalau sampai ada yang meninggal, kerugian itu tidak bisa dibayar dengan uang,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#banjir #kerugian ekonomi #samarinda #perekonomian