KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menjelang tahun ajaran baru, banyak orangtua mulai sibuk mencari sekolah terbaik bagi anaknya. Namun, menurut psikolog klinis dari Biro Psikologi Mata v Hati Samarinda, Yulia Wahyu Ningrum, memilih sekolah saja tidak cukup. Orangtua juga perlu mengetahui apakah anak sudah siap belajar secara psikologis dan perkembangan.
Salah satu layanan di tempat praktiknya adalah kesiapan sekolah untuk anak-anak. “Tes kesiapan sekolah kami rancang bukan sekadar untuk menilai usia atau kemampuan akademik anak, tapi untuk melihat kesiapan menyeluruh,” terang Yulia.
Tes itu mencakup banyak aspek, mulai kemampuan konsentrasi, komunikasi, motorik, hingga regulasi emosi dan interaksi sosial. Tes juga membantu mendeteksi kemungkinan hambatan perkembangan seperti autism spectrum disorder (ASD), ADHD, disleksia, atau gangguan belajar lainnya.
“Tujuannya agar guru dan sekolah bisa memahami kekuatan serta tantangan anak sejak awal. Dengan begitu, pendekatan belajar bisa lebih tepat dan personal,” jelasnya.
Tes tersebut idealnya dilakukan saat anak berusia 5–7 tahun, yakni pada masa transisi dari pendidikan anak usia dini menuju sekolah dasar.
“Tes ini membantu orangtua mengenali potensi dan kesiapan anak, bukan cuma berdasarkan umur, tapi juga dari segi konsentrasi, bahasa, motorik, emosi, dan kemampuan mengikuti aturan kelompok,” papar Yulia.
Hasil dari tes tersebut bisa menjadi rambu penting, apakah anak sudah siap duduk di bangku SD atau justru perlu waktu lebih banyak untuk diberikan stimulasi tambahan.
“Ini penting agar anak tidak langsung menghadapi tekanan belajar di SD, yang bisa berujung pada stres, kesulitan memahami materi, atau bahkan penolakan untuk sekolah,” imbuhnya.
Menanggapi fenomena orangtua yang tetap ngotot memasukkan anak ke sekolah favorit meskipun hasil tes menunjukkan belum siap, Yulia memberikan pandangan tegas namun empatik.
“Kami sangat memahami harapan orangtua. Tapi hasil tes bukan untuk menghakimi anak, melainkan untuk menjadi peta arah. Kalau anak belum siap, lebih baik ditunda atau dipilihkan sekolah yang lebih adaptif sambil menjalani stimulasi atau terapi,” jelasnya.
Dia mengingatkan bahwa memaksakan anak masuk sekolah yang tidak sesuai kesiapan justru bisa berdampak buruk pada psikologis anak dalam jangka panjang, termasuk menurunnya rasa percaya diri dan motivasi belajar.
“Yang terbaik adalah menjadikan hasil tes sebagai panduan mendampingi anak sesuai tahapan perkembangannya, bukan sebagai pembatas harapan,” tutup Yulia.
Tes kesiapan bisa menjadi langkah awal penting agar anak benar-benar siap menghadapi dunia sekolah, bukan hanya secara akademis, tapi juga secara emosional dan sosial. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo