Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Roblox Tak Bisa Dilarang, Orangtua yang Justru Harus Jadi Partner Anak

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 17:36 WIB
PESAT: Di zaman serba teknologi saat ini, orangtua harus lebih ekstra mendampingi anak dalam interaksi online.
PESAT: Di zaman serba teknologi saat ini, orangtua harus lebih ekstra mendampingi anak dalam interaksi online.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di era digital yang serba cepat ini, permainan online seperti Roblox tak bisa dielakkan dari keseharian anak-anak. Namun, hal tersebut bukan berarti orangtua harus menyerah begitu saja.

Psikolog Klinis Siloam Hospitals Balikpapan, Patria Rahmawaty, mengingatkan bahwa peran orangtua justru menjadi semakin krusial di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Kita tidak bisa melarang teknologi yang berkembang, tapi yang bisa adalah membatasi dan screening (menyaring),” kata perempuan yang karib disapa Rahma itu. Menurutnya, yang harus dibatasi adalah akses dan durasi, bukan serta-merta melarang keberadaan permainan digital.

Sayangnya, di banyak kasus yang dia tangani, justru orang tua sendiri yang tanpa sadar mendorong anak kecanduan gawai. “Awalnya cuma ditontonin YouTube, awalnya cuma dikasih HP supaya diam. Akhirnya berbuntut panjang,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa pola asuh seperti itu akan membentuk anak yang pasif dan sangat bergantung pada gadget. Dalam jangka panjang, bisa berdampak pada kemampuan anak berinteraksi, menyelesaikan masalah, bahkan pada kesehatannya secara menyeluruh.

“PR orang tua adalah bisa jadi partner untuk pembagian tugas dalam pengasuhan anak,” kata Rahma. Hal itu berlaku untuk semua latar belakang keluarga, baik ibu bekerja maupun tidak.

“Setiap orang tua, mau dari status sosial dan latar belakang apa saja, jadilah orang tua yang bisa mendampingi anak,” tambahnya.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan orang tua adalah mengajak anak berdiskusi terbuka soal penggunaan gadget. “Ketika kasih penjelasan, ada sebab-akibat, tapi orang tua juga harus bisa ngasih solusi. Gimana cara anaknya enggak kecanduan gadget, spending time, quality time,” jelasnya.

Rahma menyarankan agar anak diberi ruang bermain nyata, seperti permainan peran yang sesuai dengan perkembangan psikologisnya. “Ada yang namanya fase falik, itu fase anak mengenal dia sebagai identitas, anak yang pengin pakai baju orangtuanya, yang cewek pakai sepatu hak tinggi, pakai lipstik, itu salah satu fasenya,” paparnya.

Justru, beberapa orang tua malah menganggap itu hal yang tidak baik dan melarang. Padahal seharusnya, memfasilitasi. Di beberapa tempat bermain anak, disediakan zona khusus role play. Misal menjadi pemadam kebakaran, bermain salon.

“Itu salah satu yang fase yang akan dilewati. Nah, permainan Roblox itu kan role play. Anak menemukannya di situ,” sambung dia.

Jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku yang signifikan, Rahma menyarankan agar tidak ragu mencari bantuan profesional. “Sudah ada perubahan perilaku yang signifikan, oke dibawa ke tenaga profesional, dibawa ke psikolog, treatment sesuai kondisinya,” tegasnya.

Dengan pendampingan yang tepat, anak tetap bisa mengenal dunia digital tanpa kehilangan pijakan di dunia nyata. Game online bukan musuh namun butuh pendampingan agar tak berubah jadi bumerang bagi tumbuh kembang anak.

“Intinya disesuaikan game itu dengan fase perkembangan anak. Tidak dilarang, karena kita tahu sekarang belajar di sekolah juga sudah online. Anak harus tahu, bahwa ada batasan-batasannya,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#orangtua #psikolog #anak #blokir #Roblox #permainan #digital