KALTIMPOST.ID, LOMBOK BARAT – Nama Briptu Rizka Sintiyani mendadak jadi sorotan publik. Polisi wanita yang sehari-hari bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Lembar, Lombok Barat, itu kini dikaitkan dengan kematian tragis suaminya, Brigadir Esco Faska Rely.
Sebelum kasus ini mencuat, sosok Rizka dikenal cukup tertutup. Informasi tentang kehidupannya di luar dinas tak banyak beredar.
Dia jarang tampil di ruang publik, lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Nyiur Lembang Dalem, Desa Jembatan Gantung.
Kariernya di kepolisian relatif stabil. Sebagai polwan dengan pangkat brigadir satu tingkat di atas suaminya, ia ditempatkan di lini yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Perannya sebagai Bhabinkamtibmas menuntut Rizka dekat dengan warga, menjadi jembatan komunikasi antara polisi dan desa binaan.
Namun, kehidupan pribadinya berubah jadi perhatian nasional setelah kematian Brigadir Esco ditemukan janggal. Esco, anggota intel Polsek Sekotong, ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di kebun belakang permukiman warga pada Minggu, 24 Agustus 2025.
Kabar itu menghantam Rizka. Sejumlah saksi menyebut ia sempat pingsan saat pertama kali mendengar suaminya ditemukan tak bernyawa.
Tetapi penyelidikan polisi justru menyeret namanya lebih jauh. Beberapa hari setelah kejadian, ia ditetapkan sebagai tersangka.
Publik kini menyoroti sosok polwan muda ini: bagaimana kesehariannya, latar belakang rumah tangganya, dan kemungkinan motif di balik tragedi tersebut.
Meski begitu, hingga kini polisi masih mendalami dugaan bahwa Rizka tidak bertindak seorang diri.
Kadus Nyiur Lembang Muhammad Rijal membenarkan, korban dan istrinya dikenal tertutup. “Jarang berkomunikasi, jadi saya juga jarang lihat,” ujarnya.
Saat penemuan mayat, istri korban tidak keluar rumah dan hanya terdiam.
“Saat penemuan katanya istrinya yang polwan ini sering pingsan, mungkin karena penemuan ini,” pungkasnya.
Isu Orang Ketiga Mencuat
Isu orang ketiga mencuat dalam kasus pembunuhan Brigadir Esco Faska Relly yang diduga dilakukan istrinya, polwan Polres Lombok Barat (Lobar), Briptu Rizka Sintiyani.
Namun, Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) bungkam terkait motif di balik aksi tersebut.
Beredar kabar di media sosial, pembunuhan itu dipicu hubungan asmara Briptu Rizka dengan pria lain yang juga disebut-sebut seorang polisi. Dugaan ini santer menjadi sorotan, namun aparat tak mau memberi penjelasan.
Selain motif, status penahanan Briptu Rizka usai ditetapkan sebagai tersangka juga tak dijelaskan.
Sebelumnya, Polda NTB telah menetapkan Briptu Rizka sebagai tersangka berdasarkan hasil gelar perkara Jumat (19/9/2025).
"Ya, hasil gelar perkara penyidik menetapkan istrinya menjadi tersangka," kata Kabid Humas Polda NTB Kombes Mohammad Kholid kepada detikBali, Jumat (19/9/2025) malam.
Brigadir Esco ditemukan tewas mengenaskan di kebun belakang rumahnya di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, pada 24 Agustus lalu.
Jenazahnya ditemukan mertuanya, Siun, dalam kondisi membusuk, wajah rusak, dan leher terikat tali di bawah pohon.
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Briptu Rizka diperiksa intensif terkait kasus tersebut. Polisi sebelumnya juga telah melakukan autopsi terhadap jasad Brigadir Esco. Hasilnya ditemukan adanya dugaan penganiayaan.
"Ada dugaan kekerasan di sana, penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia. Ada dugaan itu," ujar Dirreskrimum Polda NTB Kombes Syarif Hidayat pada 29 Agustus lalu.
Menurut Syarif, Brigadir Esco sempat berdinas ke Polsek Sekotong sebelum hilang dan akhirnya ditemukan tewas. Fakta itu dikuatkan oleh rekan piket di Polsek Sekotong dan catatan absensi.
"Habis itu, alasannya izin mau besuk orang tuanya sakit," terang Syarif.
Editor : Uways Alqadrie