KALTIMPOST.ID-Angka pertumbuhan ekonomi Samarinda yang mencapai 6,22 persen (jadi yang tertinggi di Kaltim) ternyata menimbulkan kekhawatiran serius. DPRD Samarinda menilai pertumbuhan itu tidak sehat karena bertumpu pada segelintir sektor yang rentan guncangan.
Wakil Ketua Pansus LKPj Kepala Daerah 2025, Abdul Rohim, menyampaikan hal itu usai rapat dengar pendapat dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah, Kamis (23/4). Ia mengingatkan agar Pemkot Samarinda tidak terlena dengan statistik yang tampak membanggakan. Berdasarkan hasil bedah data dalam rapat tersebut, roda ekonomi Samarinda saat ini masih sangat bergantung pada tiga sektor yakni konstruksi, perdagangan besar, dan pertambangan, yang masing-masing berkontribusi sekitar 20 persen.
Sementara sektor lain seperti UMKM, pariwisata, dan pertanian jauh tertinggal, hanya menyumbang 6 hingga 7 persen. "Laju pertumbuhan kita memang besar, bahkan tertinggi di Kaltim. Namun pertanyaannya, apakah ini sehat? Temuan kami menunjukkan pertumbuhan ini tidak merata. Kita sangat rentan," ujarnya.
Baca Juga: Kenaikan BBM Picu Efisiensi dan PHK, Kadin Samarinda: Ribuan Tenaga Kerja Terdampak
Abdul Rohim tidak main-main dengan kekhawatiran itu. Ia menunjuk pengalaman pahit Kaltim beberapa tahun lalu, ketika ekonomi provinsi yang terlalu mengandalkan sektor tambang langsung ambruk begitu harga komoditas jatuh yang berujung pada gelombang PHK masif dan lonjakan kemiskinan.
"Jika terjadi guncangan pada salah satu dari tiga sektor dominan ini, ekonomi Samarinda bisa langsung down," tegasnya. Kerentanan serupa juga ditemukan pada sisi fiskal. PAD Samarinda masih sangat bergantung pada pajak daerah, sementara kontribusi retribusi dan dividen dari Perusahaan Daerah seperti PDAM masih jauh dari signifikan.
"Polanya sama, polanya rentan. Kalau ekonomi para pembayar pajak terganggu, PAD kita otomatis terjun bebas," katanya. Atas temuan ini, Pansus LKPj akan memasukkan seluruh catatan tersebut sebagai rekomendasi resmi kepada Pemkot Samarinda dan mendesak adanya langkah nyata diversifikasi ekonomi pada tahun anggaran 2026. Abdul Rohim menegaskan, target yang dikejar bukan sekadar angka pertumbuhan yang tinggi, melainkan pertumbuhan yang berkualitas dan tahan banting agar kesejahteraan warga tidak terus-menerus tergantung pada naik-turunnya satu atau dua sektor saja. (riz)
Editor : Muhammad Rizki