KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda memasuki tahap baru. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan helikopter water bombing setelah operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena belum terdapat potensi awan yang cukup untuk disemai menjadi hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, helikopter water bombing telah standby di Bandara APT Pranoto Samarinda. Persiapan teknis penanganan karhutla akan dibahas bersama BNPB pada Selasa (8/9/2026).
“Saya tadi sekitar pukul 12.00 Wita dihubungi dari BNPB langsung bahwa saat ini helikopter sudah standby di Bandara APT Pranoto. Besok pukul 10.00 saya ikut rapat untuk persiapan teknis penanganan,” ujarnya, Senin (7/9).
Baca Juga: Sekda Paser Pensiun Desember, Lelang Jabatan Disiapkan Lebih Dini
Suwarso menyebut BPBD Samarinda telah menyerahkan data kebakaran kepada BNPB dalam bentuk grafik dan infografis. Data tersebut akan menjadi bahan dalam menentukan langkah penanganan di lapangan.
Saat ini, satu unit helikopter telah disiagakan di Bandara APT Pranoto. Pelaksanaan water bombing masih menunggu hasil rapat teknis.
Jika persiapan memungkinkan, penyiraman dari udara diharapkan dapat dilakukan Selasa sore atau paling lambat Rabu (9/9).
“Kalau sorenya bisa langsung dilaksanakan eksekusi, mudah-mudahan bisa dilaksanakan. Tapi setidaknya hari Rabu sudah bisa dimulai,” jelasnya.
Menurut Suwarso, water bombing menjadi langkah yang diprioritaskan karena kondisi cuaca belum mendukung pelaksanaan OMC. Ia juga telah berkomunikasi dengan Kepala BNPB Letjen Suharyanto terkait rencana tersebut.
Untuk OMC, hasil komunikasi dengan BNPB menunjukkan belum terdapat potensi awan yang dapat menghasilkan hujan. Karena itu, penanganan karhutla sementara diarahkan melalui water bombing.
Baca Juga: Fiskal Menyempit, Bontang Raih Tiga Predikat Terbaik dan Rp7 Miliar
“Beliau menyampaikan bahwa hasil dari BMKG pusat belum ada potensi awan yang berpotensi menjadi hujan. Jadi langkah pertama yang dilakukan BNPB adalah melalui water bombing,” ungkapnya.
Suwarso berharap water bombing tidak hanya difokuskan pada titik karhutla. Jika memungkinkan, lahan pertanian yang terdampak kekeringan juga dapat memperoleh manfaat dari penyiraman udara tersebut.
Menurutnya, tambahan pasokan air dapat mempercepat pemulihan lahan dan mengembalikan fungsi persawahan sehingga petani turut merasakan manfaatnya.
“Kalau memungkinkan, lahan pertanian bisa ikut dilakukan water bombing. Itu akan mempercepat pemulihan fungsi sawah sehingga petani juga bisa merasakan manfaatnya,” katanya.
Berdasarkan data terakhir BPBD Samarinda, tercatat 152 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 275,21 hektare.
Luasan terbesar berada di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, dengan luas sekitar 20,5 hektare.
“152 kejadian dengan total luasan 275,21 hektare. Yang terbesar di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, sekitar 20,5 hektare,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi