Gempar! Reputasi Militer AS Hancur Lebur, Terpaksa Akui Keunggulan Iran

Ari Arief • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 13:02 WIB
Ilustrasi Washington gagal taklukkan Iran dan terpaksa terima kenyataan kalah perang.(generate ai)
Ilustrasi Washington gagal taklukkan Iran dan terpaksa terima kenyataan kalah perang.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Reputasi kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dinilai mengalami kerusakan parah di mata internasional usai serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Pengamat politik dari Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad Elmasry, menegaskan bahwa AS kini harus menghadapi kenyataan pahit di lapangan akibat konflik tersebut.

"Reputasi AS telah rusak secara permanen selama perang ini, tidak ada keraguan mengenai hal itu," ujar Elmasry kepada Al Jazeera, Senin (14/9).

Baca Juga: Sengketa Lahan IKN, BPN PPU Minta Partai Buruh Langsung Layangkan Gugatan Perdata ke Pengadilan

Elmasry menyoroti klaim klaim AS terkait kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz yang bertolak belakang dengan data di lapangan. Meski AS telah mengerahkan kekuatan penuh untuk mengawal pelayaran, data pelacakan menunjukkan hanya sedikit kapal tanker yang berhasil melintas dan aktivitas pelayaran belum mendekati tingkat normal. Menurutnya, AS berada di posisi sulit dan harus menerima kenyataan baru jika Iran tidak mengalah.

Di sisi lain, mantan diplomat AS sekaligus peneliti di Middle East Institute, Alan Eyre, menilai Iran tidak akan pernah melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut dipandang Teheran sebagai benteng utama untuk mencegah potensi serangan lanjutan dari AS dan Israel.

Baca Juga: Menyelamatkan PPU, Menyelamatkan Gerbang Nusantara

"Itu bukanlah aset tawar-menawar yang akan mereka lepaskan begitu saja," kata Eyre.

Eyre menambahkan, Washington dan negara-negara Teluk mau tidak mau harus menerima penguasaan Iran atas Selat Hormuz— setidaknya dalam jangka pendek— demi menekan dampak buruk yang lebih luas terhadap ekonomi global. Ia juga mencermati pergeseran peta diplomasi yang kini lebih banyak dimainkan oleh negara-negara Teluk dan Irak, mengingat AS dinilai tidak mau dan tidak mampu menjalankan upaya diplomatik yang efektif.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
konflik amerika serikat Israel iran