Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ancaman Inflasi Mengintai di Tengah Defisit Beras Kaltim  

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 3 Maret 2026 | 12:26 WIB

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto
 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bumi Etam masih menghadapi tantangan serius dalam ketahanan pangan. Produksi beras belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Dinas terkait mencatat kebutuhan beras Kaltim berkisar 29-34 ribu ton perbulan atau 300-400 ribu ton per tahun.

Namun produksi lokal baru sekitar 157,55 ribu ton pada2025 lalu. “Artinya kan ada defisit,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Hardiyanto.

Kekurangan itu selama ini dipenuhi dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Jawa. Ketergantungan membuat harga beras Kaltim rentan terdampak jika terjadi gangguan produksi di daerah pemasok. “Kalau ada gagal panen di daerah asal, dampaknya ke Kaltim juga. Inflasi ikut naik,” jelasnya.

Karena itu, pihaknya menilai peningkatan produksi lokal menjadi keharusan. Wilayah sentra padi Kaltim tersebar di Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Timur, dan Berau. Yang paling dominan adalah Kutai Kartanegara. “Hampir 40 persen kebutuhan ada di sana,” katanya.

Namun produksi stagnan. BI lalu melakukan asesmen bersama Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Salah satu temuan penting adalah kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan. “Karena terlalu banyak menggunakan pupuk kimia, over fertilizer sehingga hasil produksinya segitu-gitu aja,” sebut  Bayuadi.

Pihaknya pun mendorong perbaikan media tanam dengan mengurangi pupuk kimia dan memperbanyak pupuk organik. Pendekatan itu dikenal sebagai LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). “Bagaimana kita sedikit menggunakan pupuk kimia, lebih banyak memanfaatkan yang ada di sekitar seperti pupuk kandang,” lanjutnya.

Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka panjang menutup defisit beras Kaltim. “Kalau kita bisa tingkatkan produksi lokal, otomatis bisa mengurangi ketergantungan dari luar,” tegasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#pertanian #inflasi #Bank Indoensia