Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Okupansi Naik Singkat saat Libur Lebaran, Tak Merata di Semua Hotel

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:56 WIB

SEGMENTASI: Hotel bintang tiga menjadi pilihan utama masyarakat selama libur Lebaran.
SEGMENTASI: Hotel bintang tiga menjadi pilihan utama masyarakat selama libur Lebaran.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Libur Lebaran tahun ini memberikan dorongan sementara terhadap tingkat hunian hotel di Balikpapan, meski belum mampu mengangkat kinerja sektor perhotelan secara signifikan dalam jangka panjang.

Peningkatan okupansi terutama terjadi pada periode H+1 hingga H+3 Lebaran, dengan dominasi tamu dari wilayah sekitar Kaltim. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto menyebutkan bahwa lonjakan okupansi hanya berlangsung singkat dan belum merata di semua segmen hotel.

“Masih sepi. Tapi setelah hari H, khususnya H+1 sampai H+3, Alhamdulillah lumayan. Bisa sampai sekitar 80 persen selama tiga hari,” sebutnya. Menurutnya, hotel bintang tiga menjadi pilihan utama masyarakat selama libur Lebaran.

Hal ini dipengaruhi oleh karakter wisatawan yang didominasi keluarga dari kota-kota sekitar seperti Samarinda, Bontang, Sangatta, Tenggarong, hingga Penajam. Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus berlibur singkat di Balikpapan.

“Yang paling ramai itu hotel bintang tiga. Mereka diserbu tamu keluarga dari daerah sekitar. Biasanya mereka sekalian menginap saat berkunjung ke keluarga,” jelasnya.

Sementara itu, hotel berbintang empat dan lima cenderung menjadi pilihan berikutnya, dengan tingkat okupansi yang tidak setinggi hotel bintang tiga. Durasi menginap pun relatif singkat, rata-rata hanya berlangsung hingga tiga hari dan tidak berlanjut hingga satu minggu penuh.

Dari sisi strategi, pelaku usaha perhotelan mengandalkan paket menginap sebagai daya tarik utama selama libur Lebaran. Namun, tidak banyak hotel yang menghadirkan program atau kegiatan khusus untuk meningkatkan pengalaman tamu. “Rata-rata hanya jual paket saja, tidak ada kegiatan khusus,” tambah Soegianto.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun momen Lebaran masih menjadi salah satu pendorong utama pergerakan sektor perhotelan, kontribusinya belum cukup kuat untuk menopang kinerja industri secara berkelanjutan.

"Pelaku usaha diharapkan dapat menghadirkan inovasi layanan agar mampu menarik wisatawan lebih luas, tidak hanya bergantung pada kunjungan domestik regional," pesannya.

Soegianto menyebut okupansi belum sepenuhnya pulih. Bahkan, setelah periode libur berakhir, okupansi hotel mengalami penurunan signifikan. “Setelah tiga hari itu, turun lagi. Bahkan bisa tinggal 30 sampai 40 persen saja,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan ketergantungan tinggi sektor perhotelan terhadap momentum musiman seperti Lebaran. Tanpa adanya event atau daya tarik tambahan, tingkat hunian sulit dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama.

Selain itu, kebijakan work from anywhere (WFA) yang diwacanakan pemerintah turut memberikan dampak terhadap pergerakan tamu, khususnya dari kalangan korporasi dan instansi. Aktivitas perjalanan dinas dan kegiatan bisnis yang biasanya menopang okupansi hotel menjadi berkurang.

“Dalam waktu dekat ini memang belum stabil. Mudah-mudahan setelah awal April bisa kembali normal,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) belum memberikan dampak langsung terhadap peningkatan okupansi hotel di Balikpapan. Meski kawasan IKN ramai dikunjungi masyarakat, efeknya terhadap sektor perhotelan masih terbatas.

“Belum terlalu terasa ke hotel. Memang banyak yang berkunjung ke IKN, apalagi ke masjid baru yang jadi daya tarik, tapi belum berdampak signifikan ke okupansi,” jelas Soegianto.

Menghadapi kondisi tersebut, pelaku usaha perhotelan mulai mendorong strategi promosi yang lebih agresif, termasuk meningkatkan kunjungan langsung dan memperluas jaringan pemasaran.

“Promosi harus lebih gencar. Kita juga akan lakukan kunjungan-kunjungan lagi untuk menarik pasar,” tambahnya. Dengan tantangan yang masih membayangi, industri perhotelan di Balikpapan diharapkan mampu beradaptasi melalui inovasi layanan dan strategi pemasaran yang lebih kreatif, agar tidak hanya bergantung pada lonjakan musiman semata. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#okupansi hotel #phri #wisatawan #libur lebaran