Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemimpin yang Welas Asih

M
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Bukankah jabatan publik itu adalah amanah yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya? Bukankah kekuasaan adalah jalan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara? Bukan sebaliknya menjadi sarana untuk memperkaya diri dan golongannya masing-masing. Dengan memanfaatkan "Aji Mumpung", norma agama, norma hukum, dan norma sosial pun dilabrak sekehendak hati. Yang ada dalam pikiran pemimpin semacam itu tidak lebih dari persoalan bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Perihal jeritan hati dan kegelisahan rakyat, sama sekali tidak diperhatikan. Sebab, sejak semula yang didambakan sebatas takhta. Pemimpin semacam itu jangan diharapkan bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa. Pemimpin kayak begitu jangan diharapkan mampu mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan rakyat. Sebab, orientasi dan gerak langkahnya hanya tertuju pada bagaimana menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya.

Advertisement

Padahal, ketika dilantik, mereka disumpah untuk menjalankan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Nyatanya, sumpah tersebut hanya sebatas ucapan kosong yang sama sekali tidak membuat mereka berhati-hati dalam memimpin. Bukankah mereka juga bersumpah atas nama Tuhan yang artinya sebuah perjanjian sakral untuk memegang amanah dengan jujur, adil, dan setia? Sumpah yang secara spiritual dan moral mengikat.

Menjadikan Tuhan sebagai saksi utama atas sumpah yang diucapkan. Tapi apa yang terjadi? Bahkan tidak lama setelah dilantik, sebagian pejabat publik tersebut justru merampok uang negara. Menjadi bandit-bandit berdasi yang sewenang-wenang, tidak bertanggung jawab, amoral, dan niretika.

Advertisement

Entah sudah berapa banyak pejabat atau pemimpin kita yang terciduk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sebagian melancarkan aksinya dengan penuh kesadaran, terencana, penuh intrik, dan sistematis. Yang intinya, bagaimana dompet dan rekeningnya semakin tebal ketika menjabat.

Masalah kelaparan, kemiskinan, pengangguran, maraknya judi online (judol), kekerasan terhadap perempuan, dan sebagainya, tidak menjadi fokus perhatian mereka. Seolah dianggap semua itu bukan menjadi tugasnya. Jangankan untuk mengayomi dan melayani sepenuh hati, untuk sekadar mendengar dengan penuh empati saja, sukarnya minta ampun. Pantaskah mereka duduk di kursi kekuasaan? Pantaskah mereka menerima mandat dari rakyat?

Pemimpin yang hanya memikirkan nasib diri, keluarga, dan golongannya saja sejatinya tidak pantas, bahkan tidak berhak menerima mandat dari rakyat. Lalu, kenapa mereka bisa terpilih? Ya, kalau dibahas akan panjang. Demokrasi kita hari ini memungkinkan siapa saja untuk duduk di kursi kekuasaan. Asalkan modal sosial dan finansial mencukupi, semua seolah bisa berjalan dengan mulus.

Mengenai kapabilitas dan integritas, urusan belakangan. Yang terpenting bisa meraup suara sebanyak-banyaknya. Belum lagi politik uang yang masih terus-menerus kita praktikkan dalam alam demokrasi kita. Calon pemimpin yang kere bisa dengan mudah dikalahkan oleh mereka yang terkenal dan cuan-nya melimpah. Sebab, kita pun tidak bisa menutup mata, dalam setiap kompetisi politik, akomodasi itu kadang kala menjadi kunci kemenangan.

Maka jangan heran jika sebagian pemimpin di level daerah hingga pusat itu tidak cukup kredibel untuk mengelola pemerintahan. Dengan begitu, kita pun semakin meyakini, di negeri ini, sistem meritokrasi itu hanya di atas kertas. Nyatanya, integritas dan kapasitas seseorang itu tidak begitu menjadi pertimbangan utama. Idealisme atau gagasan yang ditawarkan pun tidak menjadi indikator penentu agar dicalonkan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemimpin yang Mendengarkan Suara Rakyat

Pemimpin yang Mendengarkan Suara Rakyat

Survei SMRC catat penurunan kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo. Apakah komunikasi pemerintah tersumbat? Simak analisis kritisnya.

Petaka Inkompetensi Pemimpin

Petaka Inkompetensi Pemimpin

Meritokrasi dinilai kian tergerus. Kompetensi dan moralitas kalah oleh loyalitas dalam penentuan jabatan publik.

Peringati Sumpah Pemuda, Kapolres PPU Tekankan Nilai Pancasila dalam Pelayanan Polri

Peringati Sumpah Pemuda, Kapolres PPU Tekankan Nilai Pancasila dalam Pelayanan Polri

Polres PPU menggelar upacara Hari Sumpah Pemuda 2026. Kapolres AKBP Andreas menekankan nilai Pancasila dan pelayanan prima bagi masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer