Oleh: Prima Trisna Aji
(Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang)
DUNIA pendakian gunung Kembali menggemparkan dunia, kali ini kabar datang dari negara Indonesia. Salah satu turis dari Brazil dikabarkan ditemukan meninggal dunia setelah terperosok dikawah Gunung Rinjani.
Hal ini membuat dunia menjaid gempar, karena sebelumnya salah satu korban tersebut terlihat tangkapan kamera dari drone.
Saat itu kamera Drone Ketika menyorot kawah Gunung Rinjani, terlihat Turis Brazil yang Bernama Juliana Espana yang berusia 26 tahun masih terlihat berdiri, meskipun nafas terlihat berat dan badan letih, Ketika saat itu dihadapannya dihadapkan antara dua pilihan yaitu tetap menunggu bantuan tim penyelamat datang atau memilih mengambil resiko menuruni terjalnya Gunung Rinjai.
Pilihan terakhir yang dipilih menuntun kepada kematian, dimana disinyalir Juliana Espana terperosok sampai kedalaman 600 meter dan empat hari kemudian ditemukan telah meninggal dunia.
Perlu diketahui bahwa Gunung Rinjani memang memiliki pesona keindahan menggoda yang luar biasa untuk didaki dan disinggahi, tetapi perlu diingat bahwa Gunung RInjani juga memiliki bahaya yang tidak bisa dianggap remeh.
Jalur Gunung Rinjani terkenal eksterm, cuaca yang tidak terduga dan bebatuan yang mudah longsor kapan saja Ketika kita mendaki. Pada posisi saat itu kesiapan fisik dan metal pendaki menjadi penentu utama dalam keselamatan sang pendaki. Tragedi yang menimpa Turis Brazil tersebut benar – benar menyentuh Nurani dan empati dari dunia.
Tidak hanya warga negara Brazil yang berduka, akan tetapi netizen dari berbagai negara turut bersuara akan tragedi ini. Bahkan Instagram Presiden Prabowo Subianto banyak diserbu oleh netizen baik didalam ataupun diluar negeri supaya cepat mendesak percepatan evakuasi sang Turis Brazil tersebut.
Berkaca dari tragedy ini, menjadi refleksi diri tentang mendaki Gunung yang terjal seperti Gunung Rinjani, Gunung tetaplah gunung, dimana gunung merupakan alam liar yang setiap orang yang ingin mendaki harus benar – benar mempersiapkan diri baik fisik ataupun mental serta sangat memahami medan Gunung tersebut.
Selain itu diperlukan juga tentang pengetahuan Kesehatan akan mendaki gunung yang terjal, bagaimana respon tubuh menghadapi cuaca ekstrem yang ada dipuncak pegunungan.
Dari data penelitian terbaru dari Permatasari dan Sidarta (2021) dari Universitas Trisakti, ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan gejala Acute Mountain Sickness (AMS).
Dari hasil penelitian tersebut sebanyak 73,3 persen pendaki yang memiliki kebiasaan beraktivitas fisik hanya mengalami AMS ringan, sementara lebih dari 50% pendaki yang tidak terbiasa berolahraga mengalami AMS sedang hingga berat.
Hal ini menunjukkan bahwa tubuh yang tidak dibiasakan bekerja keras sebelum mendaki akan sangat rentan terhadap perubahan tekanan udara dan oksigen di gunung.
Pada kejadian kasus yang ekstrem seperti hipotermi dimana suhu tubuh dibawah batas normal, banyak orang yang tidak menyadari bahwa tanda dan gejala hipotermi datang secara perlahan tetapi sangat mematikan.
Penelitian New Hampshire pada tahun 2025 menjelaskan bagaimana fisiologis suhu pada malam hari digunung bisa turun sangat drastis, bahkan pada waktu siang hari masih terasa hangat dirasakan.
Penelitian ini menjelaskan bahwa hipotermi benar – benar menjadi ancaman yang sangat serius yang bisa berujung fatal bagi seorang pendaki apabila tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin baik dari segi Kesehatan, mental serta peralatan mendaki yang lengkap.
Penelitian lain dari Jurnal Frontiers in Molecular Biosciences yang dirilis tahun 2025 menjelaskan bagaimana tubuh manusia melalui mekanisme protein Heat Shcok Proteins (HSPs) yang terus bekerja keras dalam mempertahankan kestabilan suhu didalam tubuh manusia Ketika dalam kondisi cuaca ekstrem.
Namun apabila mekanisme tersebut tidak didukung dengan supan energi, pakaian tebal, kondisi fisik, lingkungan maka tubuh akan menyerah serta menyebabkan terjadinya shock. Bahkan kondisi tersebut bisa berujung pada kasus kematian mendadak bagi pendaki.
Penelitian yang lain dari Bagas Adi Permadi yang dirilis tahun 2025 juga menunjukkan bahwa mayoritas pendaki gunung yang melakukan persiapan fisik secara rutin sebelum mendkai gunung menunjukkan hasil ketahanan tubuh yang lebih baik.
Dari penelitian studi tersebut sekitar 86% pendaki laki – laki dan 68% pendaki Perempuan memiliki aktivitas dengan kategori yang tinggi. Dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan mereka jarang mengalami cedera, kelelahan parah selama dijalur menanjak yang sulit.
Dari hasil Penelitian tersebut seharusnya menjadi alarm bagi semua kalangan baik pendaki pemula, pendaki senior serta penyedia jasa wisata maupun otoritas petugas Gunung setempat. Pentingnya edukasi tentang Kesehatan serta keselamatan di Gunung harus digalakkan untuk meminimalisasi kejadian kecelakaan Ketika mendaki Gunung.
Dari refleksi yang bisa dijadikan Pelajaran dari tragedy Turiz dari negara Brazil Juliana adalahh perlu adanya perubahan budaya dalam mendaki gunung. Persiapan baik fisik dan mental harus dilakukan minimal 2 – 4 minggu sebelum dilaksanakan pendakian Gunung baik yang ekstrem ataupun tidak.
Latihan kardiovasculer seperti berlari, bersepeda, treadmill, berenang dan penguatan otot inti dengan plank dan squat menjadi modal dasar yang wajib dilakukan bagi pendaki gunung.
Latihan dasar harus wajib dilakukan secara bertahap supaya tubuh tidak kaget menghadapi ketinggian gunung dengan suhu yang ekstrem.
Hal lainnya yaitu Pakaian yang digunakan harus mengikuti prinsip berlapis : Lapisan dasar melindungi serta menjadi dasar untuk menyerap keringat, lapisan Tengah untuk menjaga suhu panas tubuh dan lapisan luar terakhir melindungi dari angin dan hujan.
Selain itu pendaki gunung harus wajib membawa perlengkapan survival seperti: peluit, lampu senter Cadangan, kantong tidur dan alat komunikasi yang bsia melacak Lokasi jika terjadi kondisi darurat seperti yang dialami oleh Juliana tersebut.
Terakhir, pendkaian gunung harus wajib dilakukan dalam kelompok dengan pembimbingan dari pemandu yang berpengalaman. Salah satu kesalahan yang sangat fatal adalah Ketika mendaki atau turun gunung dengan kondisi tubuh yang sudah sangat Lelah dan mental sudah sangat goyah.
Dalam kondisi yang sangat ekstrem, bertahan ditempat, menjaga enerhi supaya terjaga dan membuat sinyal bantuan merupakan pilihan yang bijak dan tepat daripada memaksakan diri menempuh jalur yang dimana kita tidak mengetahuinya.
Kejadian tragedi ini tentunya membuka mata dunia bahwa gunung tetaplah gunung, mau seindah apapun dengan latar foto Instagram yang memukau, ia tetap merupakan medan neraka serta ujian yang sangat mengerikan bagi mereka yang belum siap baik fisik maupun mental.
Mulai sekarang, mari kita ubah pola piker kita bahwa mendaki gunung buka hanya untuk menaklukkan alam, akan tetapi untuk bersama, berdamai dan berbahagia dengannya. Kesehatan dan keselamatan harus selalu menjadi prioritas yang paling utama dari apapun.
Semoga kisah Turis asal negara Brazil yang Bernama Juliana ini tidak hanya dikenang sebagai duka, akan tetapi juga sebagai titik balik bagi kita semua untuk bisa lebih bijak dalam menjaga diri diketinggian alam yang Bernama “Gunung”.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko