PENAJAM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 008 Waru PPU untuk sementara dihentikan. Itu menyusul dugaan insiden keracunan MBG yang dialami puluhan siswa, Rabu (11/2/2026).
Pasca insiden, ada pertemuan antara pihak sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru, serta Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Provinsi Kalimantan Timur, digelar untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa.
Kepala SDN 008 Waru Lina Nurhayati mengatakan, dalam pertemuan tersebut pihak SPPG menyampaikan permohonan maaf kepada wali murid meskipun hasil uji laboratorium atas dugaan tersebut masih belum keluar.
“Inti pertemuannya silaturahmi dengan wali murid yang terdampak. Tadi juga disampaikan permohonan maaf, walaupun hasil lab memang belum keluar,” ujar Lina, Kamis (12/2/2026).
Ia menegaskan, pihak sekolah tetap mendukung penuh program MBG. Sebab, dinilai sangat membantu siswa dan orang tua. Terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Kami sebetulnya sangat terbantu dengan MBG. Saya juga selalu mendukung dan ingin program ini sukses. Bukan dihentikan, tapi harus dimaksimalkan, diperbaiki ke depannya. Saya tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi,” tegasnya.
Berdasarkan data sekolah, total siswa terdampak di SDN 008 Waru berjumlah 24 orang. Sementara satu siswa lainnya berasal dari SMA Negeri 2. Hingga saat ini tidak ada tambahan kasus baru. Lina menjelaskan, gejala awal muncul sekitar 30 menit setelah siswa menyantap makanan MBG. Awalnya dua siswa mengalami muntah-muntah, namun pihak sekolah belum menaruh kecurigaan.
“Awalnya kami kira mungkin karena kekenyangan atau habis makan langsung lari-lari. Tapi kemudian jumlah yang muntah bertambah,” jelasnya.
Pihak SPPG yang saat itu masih berada di sekolah langsung berkoordinasi. Dua kendaraan dikerahkan untuk membawa siswa ke Puskesmas, disusul ambulans. Sebelum dibawa, siswa sempat diberi air kelapa untuk meredakan muntah.
“Di sini tidak ada yang pingsan. Tapi di Puskesmas ada satu yang awalnya didiagnosa ringan, ternyata sempat pingsan dan harus dipindahkan ke ruang observasi,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dia terima, dokter di Puskesmas mengelompokkan kondisi siswa dalam kategori ringan, sedang, dan perlu observasi lanjutan. Saat ini, kata dia, sebagian besar siswa sudah kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa. Hanya tiga siswa yang masih beristirahat di rumah.
“Tadi orang tuanya hadir di pertemuan. Saya tanya kondisinya bagaimana, alhamdulillah sudah bagus. Hanya ingin istirahat dulu di rumah,” kata Lina.
Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah membuka sesi tanya jawab. Namun menurut Lina, aspirasi wali murid telah terwakili oleh dirinya sebagai kepala sekolah. Ia mengaku telah menyampaikan secara tegas kepada SPPG agar lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan.
“Saya tidak meminta diberhentikan, tapi minta dimaksimalkan dan lebih ketat lagi pengawasannya. Harus betul-betul mengikuti SOP,” ujarnya.
Sejumlah orang tua bahkan menyatakan tetap merasa terbantu dengan program MBG. Salah satu wali murid mengaku memiliki tiga anak, dua jenjang SD dan satu SMA yang seluruhnya menerima manfaat program tersebut.
“Rata-rata ekonomi di sini memang menengah ke bawah, jadi mereka sangat terbantu,” ungkap Lina.
Sekolah juga telah membagikan surat pernyataan kepada orang tua, apakah masih berkenan anaknya menerima MBG. Dari siswa yang terdampak, hampir 100 persen orang tua menyatakan setuju untuk melanjutkan program, meski sebagian belum sempat hadir untuk menandatangani pernyataan secara langsung.
Meski dukungan tetap tinggi, operasional MBG di SDN 008 Waru untuk sementara dihentikan hingga evaluasi selesai dilakukan oleh SPPG.
“Masih disetop sementara, dievaluasi dulu. Sampai nanti betul-betul siap baru beroperasi lagi,” jelas Lina.
Program MBG di sekolah tersebut baru berjalan sejak 2 Februari 2026 dan sebelumnya tidak pernah mengalami kendala. Makanan biasanya sudah tiba sebelum pukul 08.00 WITA dan dijemput kembali sekitar pukul 10.30 WITA. Pengantaran juga disebut selalu didampingi ahli gizi.
“Sebelumnya lancar, petugasnya juga semangat, tidak pernah terlambat. Bahkan ahli gizinya sendiri yang mengantar ke sekolah,” imbuhnya.
Editor : Muhammad Ridhuan