KALTIMPOST.ID,KALTIM-Kabar kurang sedap datang dari meja dapur warga Kaltim. Berdasarkan data terbaru per Jumat, 20 Februari 2026, Provinsi Kaltim resmi menduduki posisi pertama sebagai wilayah dengan harga cabai merah keriting tertinggi di seluruh Indonesia.
Lonjakan harga di Bumi Etam ini melampaui rata-rata nasional, menjadikannya tantangan berat bagi ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini.
Mengutip data statistik ekonomi makro terbaru, harga cabai merah keriting di Kaltim berada di level yang signifikan dibandingkan provinsi lainnya. Faktor distribusi dan ketergantungan pasokan dari luar daerah diduga masih menjadi pemicu utama mengapa komoditas pedas ini "membakar" kantong warga lokal lebih panas dibandingkan warga di Pulau Jawa atau Sulawesi.
Harga di lapangan yang berhasil dicatat dan menempatkan posisi Kaltim peringkat 1 nasional (termahal). Kondisi pasar utama di Samarinda dan Balikpapan menunjukkan tren pendakian harga yang tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dampak Berantai bagi Masyarakat
Kenaikan ini mulai dirasakan dampaknya oleh para pedagang pasar tradisional. Selain omzet yang menurun karena pembeli mulai membatasi konsumsi, para pelaku usaha warung makan juga mulai memutar otak, antara menaikkan harga menu atau mengurangi porsi sambal, agar tidak merugi.
"Kondisi ini memerlukan intervensi segera dari pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar tidak memicu kenaikan inflasi lebih luas," ungkap pengamat ekonomi setempat dikutip Senin (23/2/2026).
Baca Juga: Angkut 52 Orang dan 15 Ton Sembako, Kapal Rute Samarinda–Long Bagun Tenggelam di Sungai Mahakam
Langkah Mitigasi
Menanggapi tingginya harga komoditas pangan ini, pemerintah diharapkan segera melakukan operasi pasar, untuk menstabilkan harga di titik-titik krusial. Kelancaran distribusi dengan memastikan stok dari daerah produsen (seperti Sulawesi dan Jawa) masuk ke pelabuhan Kaltim tanpa hambatan.
Berikutnya adalah optimalisasi lahan lokal dengan mendorong gerakan menanam cabai di pekarangan untuk mengurangi ketergantungan pasar. Bagi warga Kaltim, nampaknya bumbu "pedas" di dapur masih akan terasa lebih mahal setidaknya hingga pasokan kembali normal dalam beberapa pekan ke depan.(*)
Editor : Hernawati