KALTIMPOST.ID, Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Menanggapi hal itu, Rusia langsung menyerukan agar semua pihak kembali ke meja diplomasi demi mencegah kehancuran yang lebih besar.
Ketegangan ini bermula saat Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.
Jika jalur air strategis itu tetap ditutup, AS mengancam akan menghancurkan jaringan listrik di seluruh negeri para mullah tersebut.
"Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan sebagaimana dilansir AFP, Senin (23/3/2026).
Ancaman 48 Jam dari Trump
Donald Trump memberikan batas waktu hingga Senin malam waktu AS agar Iran membuka jalur navigasi di Selat Hormuz.
Jalur ini diketahui telah lumpuh sejak akhir Februari lalu akibat eskalasi militer yang melibatkan pemboman AS-Israel.
Rusia menilai, hanya lewat jalur dialog ketegangan ini bisa diredam. Peskov menegaskan bahwa konfrontasi fisik hanya akan memperburuk keadaan di kawasan.
"Ini adalah satu-satunya hal yang dapat secara efektif berkontribusi untuk meredakan situasi tegang yang kini telah berkembang di kawasan tersebut," kata Peskov.
Baca Juga: Tetap Siaga di Hari Raya, Kilang Pertamina Patra Niaga Balikpapan Beroperasi Normal saat Idul Fitri
Bahaya Radiasi Nuklir Mengintai
Kekhawatiran Rusia bukan tanpa alasan. Sebagai pihak yang membantu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran, Rusia melihat adanya risiko bencana nuklir jika serangan udara benar-benar dilakukan ke fasilitas energi.
Pekan lalu, badan pengawas nuklir PBB bahkan melaporkan adanya proyektil yang mengenai area sekitar lokasi nuklir tersebut.
"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat diperhubungkan," tambah Peskov dalam konferensi pers tersebut.
Senada dengan Rusia, Kepala IAEA Rafael Grossi juga telah meminta semua pihak untuk menahan diri demi menghindari risiko kecelakaan nuklir yang bisa berdampak global. ***
Editor : Dwi Puspitarini