Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kisah Syamsiah Kembangkan Pizza Udang Galah hingga Camilan yang Masuk ke Restoran dan Bandara

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 11 Agustus 2025 | 15:48 WIB
LOKAL: Cari keunikan dan kelokalan, Syamsiah gunakan udang galah untuk topping pizza dan ladeni banyak pesanan setiap harinya.
LOKAL: Cari keunikan dan kelokalan, Syamsiah gunakan udang galah untuk topping pizza dan ladeni banyak pesanan setiap harinya.

KALTIMPOST.ID, BERAU – Pandemi Covid-19 yang menyulitkan banyak orang justru menjadi titik balik bagi Syamsiah. Dia merintis usaha dari nol hingga kini punya dua produk kuliner. Usahanya bermula dari program kewirausahaan yang diadakan perusahaan tambang tempat sang suami bekerja.

"Awalnya saya benar-benar enggak punya usaha. Jadi memang ada dua program, yang sudah punya usaha sama yang belum ada sama sekali, saya ikut yang belum ada usaha sama sekali,” ujar Syamsiah.

Program inkubasi itu digelar pada 2021, saat pandemi masih melanda. Selama tiga bulan pelatihan intensif, para peserta digembleng teori dan praktik berwirausaha. Mulai dari menyusun anggaran usaha, menghitung harga pokok produksi (HPP), membuat peta bisnis, hingga strategi pemasaran dan laporan keuangan.

“Mentornya profesional semua, dari perusahaan yang memang sudah biasa dampingi pelaku usaha. Jadi bukan teori doang, tapi langsung praktik. Yang tadinya saya nggak tahu apa-apa, akhirnya bisa punya produk dan brand sendiri,” ungkapnya.

Setelah mengikuti proses kurasi ide, dia terpacu menciptakan produk yang lebih punya nilai jual dan berangkat dari kearifan lokal. Dari situlah lahir ide pizza udang galah, produk unik yang menggabungkan kuliner barat dengan bahan baku lokal khas Berau.

"Saya mikir, pizza topping sosis dan daging itu sudah biasa. Tapi kalau topping-nya udang galah, itu belum ada. Berau kan juga banyak sungainya,” jelas perempuan kelahiran 1981 itu.

Ide itu diterima dan dikembangkan bersama mentor. Tak hanya soal rasa dan kemasan, ia juga dibimbing bagaimana membangun merek, melakukan promosi lewat media sosial, dan mengenalkan produknya ke pasar yang lebih luas.

Setelah tiga bulan pelatihan, Syamsiah juga mendapat pendampingan lanjutan selama enam bulan agar usahanya benar-benar bisa berjalan. “Awal-awal saya pasarin lewat Facebook, upload foto pizza-nya, ternyata banyak yang penasaran. Alhamdulillah, responsnya bagus,” kata dia.

Setelah usahanya mulai berjalan stabil, Syamsiah kembali memutar otak. Dia ingin memperluas lini produk agar tak hanya mengandalkan pizza. Maka pada 2023, dia berpikir untuk membuat keripik pisang sebagai camilan pendamping. Hasilnya cukup menjanjikan.

Produksi keripik dia lakukan fleksibel, bergantung pesanan. "Biasanya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Kalau ada event besar, bisa sampai seribu pouch. Kalau hari biasa sekitar seratus pouch," terangnya.

Saat ini produknya bisa ditemukan di dua restoran lokal, hingga berada di Bandara Kalimarau. Dia juga punya beberapa reseller yang membantu pemasaran. Selain itu, Syamsiah juga membuka pesanan brownies untuk pelanggan yang ingin variasi produk rumahan.

Meski belum menembus minimarket, Syamsiah tak gentar. Dia memilih memperkuat pondasi bisnisnya terlebih dulu. Fokus utamanya saat ini tetap pada pizza udang galah yang dia nilai sebagai produk unggulan dengan potensi besar.

“Harapan saya, suatu saat punya outlet sendiri, tempat makan yang menyajikan pizza dengan bahan khas daerah. Supaya orang bisa menikmati rasa khas Berau dengan cara yang berbeda,” ucapnya penuh semangat. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#usaha #pizza #berau #pandemi covid 19 #udang galah #Produk Kuliner