KALTIMPOST.ID - Perekonomian Kaltim kembali mencatatkan kinerja yang positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, ekonomi Kaltim tuumbuh sebesar 2,99 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan I-2026.
Capaian ini patut diapresiasi mengingat sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah, justru sedang mengalami tekanan serius dari pasar global. Fakta bahwa ekonomi Kaltim tetap tumbuh di tengah kondisi tersebut adalah bukti nyata bahwa diversifikasi ekonomi di Kaltim mulai membuahkan hasil.
Yang menjadi sorotan utama adalah kebangkitan sektor-sektor non-tambang yang tumbuh sangat progresif. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,94 persen secara tahunan, didorong momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional, program makan bergizi gratis yang menjangkau 9 kabupaten/kota, serta lonjakan wisatawan mancanegara sebesar 70,66 persen.
Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal di Kaltim, Dipicu Geopolitik hingga Lonjakan Avtur
Sektor jasa lainnya tumbuh 15,78 persen, sementara perdagangan besar dan eceran tumbuh 14,97 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,96 persen, didukung peningkatan transaksi non-tunai yang mencerminkan geliat ekonomi masyarakat yang semakin aktif.
Konsumsi pemerintah meningkat 7,51 persen, antara lain didorong pembayaran tunjangan hari raya dan realisasi bantuan Gratispol. Pembentukan modal tetap bruto juga tumbuh positif 3,44 persen, sejalan dengan masih berlangsungnya pembangunan infrastruktur dan ekosistem IKN.
Sektor pertambangan dan penggalian mencatatkan kontraksi 1,19 persen secara tahunan dan kontraksi 6,72 persen secara kuartalan, utamanya dipicu turunnya produksi gas alam dan batu bara.
Hal ini sejalan dengan melemahnya permintaan eksternal, impor batu bara Tiongkok dari Indonesia pada Maret 2026 turun 14 persen secara tahunan, sementara nilai ekspor hasil tambang Kaltim turun 11,31 persen dan neraca perdagangan surplus USD 3,16 miliar, turun 20,28 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Baca Juga: Bukan Naik, Pemerintah Klaim Tiket Pesawat Hanya Disesuaikan
Dengan kontribusi sektor ini masih mencapai 33,45 persen dari total PDRB, tekanannya langsung terasa pada angka pertumbuhan keseluruhan. Di sinilah letak peluang kebijakan yang perlu dimanfaatkan, khususnya melalui usulan kepada Kementerian ESDM untuk reformasi tata kelola Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batu Bara.
Kebijakan pembatasan RKAB 2026 untuk mencegah oversupply dan menjaga stabilitas harga pada prinsipnya sudah tepat arah. Namun implementasinya perlu disempurnakan melalui empat langkah konkret.
Seperti digitalisasi dan percepatan persetujuan RKAB berbasis data real-time, fleksibilitas revisi RKAB per kuartal sesuai dinamika pasar, integrasi RKAB dengan komitmen nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja lokal, serta sinkronisasi RKAB dengan peta jalan transisi energi nasional sebagai insentif bagi perusahaan yang berkomitmen pada keberlanjutan.
Kontraksi 3,69 persen secara kuartalan perlu dibaca dengan proporsional. Ini adalah pola siklikal yang konsisten terjadi di setiap Triwulan I, bukan cerminan pelemahan struktural.
Yang lebih bermakna adalah tanda-tanda vitalitas ekonomi yang terus menguat: nilai impor bahan baku dan penolong meningkat 35,79 persen secara tahunan, jumlah barang yang diangkut melalui jalur laut naik 11,49 persen, dan penumpang angkutan laut domestik tumbuh signifikan 41,18 persen.
Kaltim hari ini berada pada posisi strategis yang langka. IKN terus dibangun, investasi mengalir dan basis konsumsi domestik terbukti cukup tangguh menopang pertumbuhan bahkan ketika ekspor komoditas sedang tertekan.
Baca Juga: Penanganan Angka Pengangguran Terbaik, Pemkot Bontang Diguyur Bonus Rp3 Miliar
Sektor perdagangan, jasa, dan akomodasi yang tumbuh pesat hari ini bisa menjadi gambaran awal wajah ekonomi Kaltim di masa depan.
Untuk memastikan transisi ini berjalan optimal, dua jalur harus dirawat bersamaan: menjaga efisiensi sektor tambang melalui reformasi tata kelola RKAB, sembari terus mendorong diversifikasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ekonomi Kaltim telah membuktikan ketangguhannya. Dengan kebijakan yang tepat, fondasi ini akan semakin kokoh. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo