Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ingin Badan Atletis dan Sehat? Gaya Hidup Sehat atau FOMO? Ini Kata Pakar Soal Tren Latihan di Gym

Uways Alqadrie • Senin, 21 Juli 2025 | 20:15 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Sejak pandemi Covid-19, kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat meningkat signifikan. Aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya menjaga daya tahan tubuh, dan tren ini tidak surut meski pandemi telah berlalu. 

Hal ini terlihat dari padatnya lintasan lari, pusat kebugaran, dan lokasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor.

Banyak orang kini memenuhi gym demi membentuk tubuh ideal: dada bidang, lengan kekar, hingga perut berotot. Namun, para ahli mengingatkan bahwa tubuh kekar tak selalu mencerminkan kebugaran sejati. 

Sam Leicht, kreator aplikasi kebugaran Pridefit, menyebut bahwa kebugaran melibatkan beragam aspek, seperti kekuatan otot, kapasitas aerobik, keseimbangan, dan koordinasi. 

“Jika seseorang pamer otot di media sosial, bukan berarti dia benar-benar fit secara menyeluruh,” ujarnya kepada USA Today.

Setiap individu memiliki kondisi tubuh dan respons yang berbeda terhadap latihan. Ada yang mengejar bentuk tubuh, ada pula yang fokus pada kekuatan, atau sekadar menjaga kebugaran harian.

Misalnya, binaragawan umumnya mengejar volume otot, sementara lifter berfokus pada kemampuan mengangkat beban. Masing-masing punya pendekatan dan tujuan yang tak bisa disamakan.

Meski demikian, tubuh berotot tetap menjadi standar kebugaran yang populer, terutama bagi pria. Banyak yang diam-diam mengejar bentuk tubuh seperti ini tanpa niat pamer. 

Namun, tak sedikit pula yang terdorong oleh pengaruh media sosial. Demi hasil maksimal, beberapa orang bahkan berkonsultasi dengan pakar kesehatan untuk mengatur pola makan, mengukur VO2 max, hingga mengevaluasi komposisi tubuh.

Fenomena FOMO (fear of missing out) juga mendorong sebagian orang ke pusat kebugaran, bukan karena kebutuhan kesehatan, melainkan demi tren dan tampilan di media sosial. 

Pakar kebugaran Ade Rai menyebut, motivasi orang untuk berolahraga kini makin beragam—ada yang karena tekanan sosial, penyakit, atau sekadar ingin tampil lebih baik di mata orang lain.

“Dulu senangnya di klub malam, sekarang pindah ke klub fitness. Informasi lebih mudah diakses, influencer juga makin banyak,” kata Ade Rai seperti dikutip Tempo, 19 Februari 2025. 

Baca Juga: Cara Menguatkan Otot Kaki dengan Latihan dan Tips dari Dokter Ortopedi: Tips Melatih Agar Kuat dan Stabil

Ia mengingatkan bahwa lonjakan minat olahraga bisa membawa dampak baik, tapi juga risiko, seperti cedera akibat latihan ekstrem atau penggunaan zat terlarang.

Beberapa orang, lanjut Ade, memilih jalan pintas untuk tampil menarik. Mereka enggan berproses secara alami dan malah mengandalkan obat-obatan seperti ozempik dan steroid. 

Padahal, ada cara sehat yang bisa diterapkan siapa pun. Ia pun membagikan sejumlah tips praktis untuk menjaga tubuh tetap bugar tanpa mengorbankan kesehatan.

Pertama, batasi karbohidrat olahan dan utamakan sumber alami untuk mencegah gangguan metabolik. Kedua, perbanyak asupan protein berkualitas. Ketiga, pilih lemak sehat dari alpukat, kelapa, atau minyak zaitun, dan hindari lemak olahan. Keempat, praktikkan puasa sebagai pola makan teratur, bukan diet ekstrem.

Kelima, olahraga dalam kondisi perut kosong di pagi hari dapat membantu tubuh membakar energi cadangan. Keenam, jangan abaikan latihan beban, karena sangat penting untuk kekuatan tulang dan otot. 

Terakhir, beristirahat cukup agar pemulihan fisik dan mental tetap optimal. “Istirahat yang cukup itu penting, bukan hanya untuk imun, tapi juga untuk iman,” pungkas Ade.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Kebugaran #pusat kebugaran #tren hidup sehat #tips kebugaran #fitness