KALTIMPOST.ID, Gedung Negara Grahadi, salah satu bangunan bersejarah dan ikon cagar budaya di Jawa Timur, yang juga merupakan kantor resmi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan rumah dinas Wakil Gubernur (Wagub) Emil Dardak dibakar massa tak dikenal pada Sabtu, 30 Agustus malam.
Peristiwa demonstrasi besar di depan Gedung Negara Grahadi membuat api dengan cepat melalap sebagian besar bangunan berusia lebih dari dua abad tersebut.
Api merusak beberapa ruangan penting, termasuk ruang kerja Wagub Emil Dardak, ruang kerja Kepala Biro Umum, ruang Protokol, serta ruang wartawan.
Atap luluh lantak, pintu dan jendela menjadi arang, furnitur serta elektronik turut dirusak dan dijarah.
Wagub Emil Dardak sempat membuat unggahan di akun Instagram pribadinya, memperlihatkan kondisi terkini Gedung Grahadi yang terbakar usai aksi demo.
Gedung bersejarah yang juga menjadi kantornya itu kini tinggal puing.
“Ini tempat saya melayani masyarakat. Habis semua,” katanya.
Akan tetapi, suami dari artis Arumi Bachsin tersebut tak ingin terlalu mempermasalahkan kerusakan gedung yang juga berstatus cagar budaya tersebut.
Saat menghadapi para terduga pelaku pembakaran Gedung Negara Grahadi, Emil justru menemukan fakta mengejutkan karena sebagian besar pelaku masih berusia di bawah umur.
Ia pun akhirnya memeluk dan menasihati mereka. Ia juga telah bertemu dengan orangtua para terduga pelaku.
“Kami di Polrestabes Surabaya bertemu dengan orang tua dari 50-an. Jadi, dari kejadian yang terjadi di Surabaya ini, ternyata 50 lebih ini adalah anak di bawah umur,” ucap Emil.
“Setelah didalami, mereka tidak punya motif politik sama sekali, hanya ikut-ikutan,” jelasnya.
Emil menuturkan, anak-anak tersebut juga tidak memiliki kemampuan teknis untuk membuat bom molotov, sehingga ada kemungkinan mereka diperalat pihak lain.
“Dan mereka tidak punya sebenarnya kemampuan teknis untuk merakit bom molotov dan lain sebagainya. Sehingga bahaya sekali anak-anak ini ada di luar dalam situasi yang bisa berhadapan dengan api, lemparan batu, dan kemudian diperalat oleh orang yang kemudian mempersenjatai mereka. Ini yang harus diwaspadai,” terangnya.
Karena itu, Emil mengingatkan orang tua agar lebih menjaga anak-anak mereka, terutama di tengah situasi politik dan sosial yang sedang memanas.
"Maka tadi, orang tua-orang tua telah kami ajak bicara, mereka semua tentu sedih, tetapi kami tetap memberikan semangat bahwa orang tua tidak boleh menyerah dalam membina anak-anaknya," ujarnya.
"Sehingga mereka hati-hati karena anak-anak kita yang ada di jalanan bisa jadi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal tersebut, dikorbankan, bahkan ditumbalkan," pungkasnya.
Editor : Hernawati