Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Apapun alasannya, main game online dan merokok saat rapat formal sungguh mencoreng marwah DPRD Jember. Ulah anggotanya yang bernama Achmad Syahri Siddiqi dari Fraksi Gerindra ini membuat kita mengernyitkan dahi.
Tidak habis pikir juga, alasan yang dikemukakan karena lupa memberi makan sapi virtualnya di permainan simulasi pertanian. Entah sekadar gimmick politik atau bukan, dibuat-buat atau sungguhan, kita tidak bisa mengangguk-ngangguk begitu saja.
Kendatipun yang bersangkutan telah melontarkan permohonan maaf, mengaku khilaf, dan menyesal, publik terlanjur kecewa berat atas tingkah polahnya tersebut. Walaupun dia juga telah menjalani sidang etik di Majelis Kehormatan Partai (MKP) dengan keputusan berupa peringatan keras dan terakhir, tapi sekali lagi, kita masih geleng-geleng kepala, bisa-bisanya wakil rakyat bersikap niretika.
Baca Juga: Terbang dan Melanglang Buana dengan Buku
Perbuatan Syahri tersebut juga sempat menghebohkan jagat media sosial (medsos), menjadi trending topic dan sekaligus headline di berbagai pemberitaan media massa.
Bagaimana tidak, tindakannya yang melampaui batas itu dilakukan saat rapat dengar pendapat di Komisi D yang sedang mengagendakan pembahasan perihal pelayanan kesehatan. Ditambah lagi, yang main dan merokok itu merupakan legislator termuda, berdarah biru, dan dari Gerindra pula.
Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya dan penasaran, kenapa bisa Syahri terpilih menjadi legislator Jember? Apa kelebihannya? Secara pribadi, memang saya belum kenal betul dengan Syahri. Tapi dari beberapa informasi yang saya himpun, saya menilai dia memiliki cukup modal sosial dan finansial untuk mendulang suara dan terpilih menjadi anggota dewan.
Terbukti, saat dilantik, dia merupakan legislator termuda di Jember. Perihal jam terbang, kapasitas, dan integritasnya, saya masih belum begitu mengetahui betul. Intinya, yang saya pahami tentangnya, setidaknya hingga hari ini, adalah bahwa dia tokoh muda yang menjadi buah bibir nasional karena sikapnya yang tidak profesional dan beradab.
Baca Juga: Dekorasi Birokrasi
Memang, berangkat dari pengakuannya, baru sekali Syahri merokok dan main game saat rapat. Tapi, ini bukan masalah sekali atau dua kali atau tiga kali atau berkali-kali. Ini masalah posisinya sebagai wakil rakyat yang seharusnya menjaga sikap, tindakan, tutur kata, dan gerak-geriknya di setiap situasi dan kondisi.
Apalagi saat membahas beragam problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Bagaimana mau mengetahui dan memahami keluh kesah rakyat, bagaimana mau memberikan solusi, bagaimana hendak mengambil tindakan yang terukur dan terarah, jika saat rapat saja tidak menghiraukan.
Imbasnya yaitu kepercayaan publik, khususnya masyarakat Jember, semakin merosot tajam. Keraguan dan pesimisme masyarakat terhadap tanggung jawab dan integritas wakil rakyat semakin meningkat. Walaupun yang bermasalah hanya satu orang, lembaga pasti kena getahnya.
Lagi pula, kenapa tidak ada yang memberikan teguran keras saat rapat? Jangan-jangan memang Syahri ini begitu kuat dan berpengaruh posisinya di lingkungan DPRD Jember sehingga tidak ada yang berani mengusiknya? Atau karena dia seorang Gus/Lora yang sangat dihormati di Jember sehingga tidak ada satupun peserta rapat yang berani memberikan peringatan keras padanya? Entahlah.
Baca Juga: Melawan Doktrin “Sontoloyo” Kiai Palsu
Lebih lanjut lagi, kasus Syahri menjadi alarm pengingat bagi legislator lainnya, di daerah maupun pusat, agar tidak semberono dalam bersikap. Sebab, di era digital sekarang, dalam hitungan detik, segala perbuatan yang melabrak norma, baik itu norma hukum, agama, sosial, dan kesopanan, bisa menjadi bahan konsumsi netizen seantero negeri.
Jadi, sudah semestinya semua anggota dewan yang mulia itu berhati-hati dalam bertindak dan apalagi mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jangan sampai kejadian tersebut menjadi preseden buruk bagi demokrasi kita nantinya. Apalagi kita semua sedang berupaya menciptakan alam demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Kemudian yang terakhir, selaku penulis, saya hanya bisa mendorong dan sekaligus berharap adanya transparansi dalam proses penjatuhan sanksi dari internal DPRD dan partai agar masyarakat mengetahui bahwa keduanya benar-benar menjalankan fungsi pengawasan internal secara sungguh-sungguh dan serius. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap legislatif bisa sedikit meningkat.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi: Bukan Hanya Angka di Atas Kertas
Setidaknya, publik yakin betul bahwa Syahri disanksi sesuai aturan yang berlaku di Gerindra dan DPRD Jember. Semoga insiden tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan pasti menimbulkan konsekuensi.
Hukum sebab-akibat berlaku. Lebih-lebih ketika posisi kita sebagai pejabat publik. Pastinya menjadi sorotan. Dan teruntuk Syahri, saya rasa perlu dibina dan diarahkan secara khusus, baik oleh internal partai atau senior-seniornya di DPRD Jember.
Karena sepertinya beliau hatinya cukup lembut dan penuh kasih sayang. Dengan sapi virtual saja begitu perhatian. Apalagi dengan rakyat Jember, tentu saja lebih peduli. Bukankah begitu harapannya? (*)
Editor : Almasrifah