Sup Lidah; Cerita Pendek Karya Risda Nur Widia

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LIDAH Hou seakan dirampas secara gaib oleh seorang Gōuhún Shǐzhě, si pengait nyawa utusan Raja Yama. Petaka raibnya lidah ini memang tidak hanya terjadi pada Hou. Lima tahun terakhir ada beberapa orang yang kehilangan mulut atau telinga secara tiba-tiba di kota. Kejadian itu akhirnya membuat Hou—dan begitu juga orang-orang itu—mendatangi pondok Long: tempat yang dipercaya dapat menyembuhkan hal-hal tak masuk akal.

Di sana, ia bertemu seorang wūshī, dukun penguasa mantra dan ritual kuno, bernama A Long. Hou mengkonsultasikan lidahnya yang raib. Sinseh itu memperhatikan layaknya seorang ahli gaib. Dan seperti yang terlihat dari potongan luar si sinseh yang lebih mirip chǒu jué, badut opera Tiongkok yang berbedak putih di ujung hidung, Hou mendapatkan jawaban konyol.

Baca Juga: Dokter Frank, Cerita Pendek Karya Ridwan Kamaludin

“Lidahmu kesal denganmu,” jawab sinseh itu. “Situasi ini beberapa kali terjadi.”

“Maksudnya?” Aku yang duduk di sebelah Hou bertanya. “Apakah hilangnya Lidah Hou ada kaitannya dengan hilangnya telinga atau mata beberapa tahun terakhir?”

“Entahlah,” jawab Long tenang. “Ada beberapa kasus hilangnya lidah karena lidah itu tak ingin mengatakan sesuatu.”

Aku menatap pria paruh baya—yang sebenarnya mengatakan sesuatu yang serius itu—seraya mencium aroma masakan yang begitu gurih. Aroma gurih itu bahkan membuatku menjadi lapar. Cuma pikiran itu segera aku buang, dan kembali menatap mata Long yang begitu mirip dengan bentuk mie lāmiàn: pipih. Aku yang ditatap dengan air muka yang menyerupai seekor platipus itu seketika menjadi iba, tetapi tetap saja tampak lucu.

“Sekarang kita hidup di dunia yang tidak semua kebenaran harus dikatakan!” ucapnya berkelakar. “Dan biarlah kacang tetap berada dalam kulitnya.”

Baca Juga: Duka dari Langit Berbeda, Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

Aku tahu bahwa sinseh itu memiliki selera humor yang baik, tetapi Huo sudah kehilangan kesabarannya—karena sinseh itu terus berputar-putar pada sesuatu yang tak jelas. Huo pun akhirnya berusaha mengatakan sesuatu dengan mulut tanpa lidah itu. Yang keluar dari mulutnya bukanlah suara yang dapat dipahami, melainkan pekik sumbang tikus sekarat.

Hou tidak berdaya. Ia tak dapat mengatakan satu kata pun dari mulutnya. Ia bahkan seperti tidak memiliki keberadaan tanpa kata yang dapat diucapkannya. Padahal ia adalah seorang pengacara muda potensial yang banyak berpihak kepada rakyat. Ia berani menyuarakan keadilan dengan lantang menggunakan kata-katanya. Segala kasus dapat ia selesaikan meski dirinya harus diintimidasi. Dan lidah itu hilang tepat sehari sebelum sidang yang telah ia perjuangkan bertahun-tahun: sidang gugatan para perempuan Tionghoa korban pemerkosaan Mei 1998. Di sidang itu, Hou akan membacakan kesaksian ibunya sendiri, dan menuntut penguasa mengakui luka itu serta meminta maaf.

Kesaksian itu kini tergeletak di dalam map cokelat di pangkuan Hou: tujuh belas halaman tulisan tangan ibunya, yang selesai ditulis beberapa bulan sebelum perempuan itu meninggal. Hou pernah bilang kepadaku bahwa ia bisa membacakannya dengan mata terpejam. Kini halaman-halaman itu hanya kertas. Peristiwa ini kemudian membuatku berpikir: manusia tanpa kata-kata hanyalah benda kosong yang tidak berguna.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bersuara di ruangan itu. Hanya aroma gurih itu yang terus mengapung di antara kami.

“Jangan memaksakan dirimu seperti itu,” kata A Long di balik mejanya. “Saya takut kalau anda malah dapat berubah menjadi chánchú.”

Hou tampak semakin kesal dengan wūshī bernama A Long itu. Apalagi ketika ia disamakan dengan katak besar hijau yang hidup di tempat lembab dan menjijikan. Cuma memang apa yang dikatakan oleh sinseh itu separuhnya benar. Kemarahan Huo tidak saja membuatnya menjadi seperti chánchú, tetapi lebih mirip sebagai seekor kerbau dungu yang dipaksa untuk membajak jalan beton.

Baca Juga: Persimpangan, Sebuah Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar

“Kau jangan terlalu banyak membual!” Tulis Hou menggunakan selembar kertas di sakunya. “Apakah lidahku bisa kembali?”

Sinseh itu tampak memikirkan pertanyaan Hou. Tatapannya mengarah pada langit-langit ruangan. Di sana terdapat tulisan berbahasa Mandarin yang aku pikir adalah shūfǎ, kaligrafi kuas Tiongkok, dari seorang ahli kaligrafi termasyhur abad ke-4 bernama Wang Xizhi.

“Datanglah ke pondok Ling,” kata Sinseh itu. “Pondok itu mungkin akan memberimu jawaban.”

“Pondok Ling?” Aku penasaran.

“Dia seorang penjual dan pembeli!” tambah Long. “Selalu ada harga baginya.”

Hari itu, kami tidak mendapatkan jawaban apapun dari misteri hilangnya lidah Hou. Kami malah dioper ke tempat lain—yang sebenarnya aku dan Hou sendiri tidak tahu berada di mana. Namun, aku semakin penasaran dengan aroma gurih yang mengawang di Pondok Long. Aroma itu benar-benar membuatku lapar.

***

Hou tidak menemukan solusi apapun dari pondok Long selain sebuah alamat keberadaan pondok Ling yang entah nyata atau tidak. Namun A Long masih memiliki selera humor yang baik. Sebelum mereka pulang, A Long merasa perlu meresepkan sesuatu kepada Hou. A Long kemudian meresepkan sirup herbal pei pa koa, obat batuk dan pelega tenggorokan, yang wajib diminumnya selama seminggu agar dirinya tidak berubah menjadi chánchú.

“Minumlah ini sebelum kau bertemu dengannya,” A Long menekankan kata terakhir dengan aneh. “Karena begitu Ling menciummu, dia akan tahu seberapa segar dagingmu.”

Long tertawa begitu kencang. Hou tampak kesal dengan hal itu. Dan rasa kesalnya dilampiaskan dengan hanya meminum sekali saja sirup itu, dan tidak pernah meminumnya lagi. Demikianlah beberapa hari setelah kunjungan ke pondok Long, Hou mengajakku mencari alamat pondok Ling yang berada jauh. Setidaknya kami harus berkereta delapan jam lebih hingga tiba ke pasar lokal bernama: Klewer. Di sana kami bertanya di mana persisnya tempat tersebut kepada orang-orang yang kujumpai, mereka menjawab bahwa tempat itu tak jauh dari penjual rumah makan mahal: Delapan Rasa. Sialnya, pondok Ling selalu tutup.

Baca Juga: Dua Arah Pulang, Cerita Pendek Karya Bella Sapitri

Meski demikian aku dan Hou selalu merasa janggal dengan rumah makan Delapan Rasa. Tempat tersebut selalu ramai. Orang-orang yang beli pun tampak seperti orang-orang kaya. Bahkan aku dan Hou sempat melihat seorang koruptor yang lolos dari kasus yang dituduhkannya. Cuma yang membuatku semakin penasaran: aku mencium aroma gurih yang sama seperti di Pondok Long.

“Apa menu yang dijual di sana?” gumamku merasa lapar. “Apakah kau tertarik mengunjunginya?”

Hou menggelengkan kepala. Aku tahu ia sudah frustasi dengan nasib sial yang terjadi pada dirinya. Karena hilangnya lidah itu juga membuat Hou harus menghentikan usahanya menyeret para serigala pemerkosa ibunya ke pengadilan. Bahkan Hou berpikir kalau para penjahat sangat mensyukuri hilangnya lidahnya. Pada beberapa hari terakhir ini, Hou acap menjumpai kiriman pesan singkat bertulisankan: ‘Tidak ada lidah dan kebenaran.’

Pesan-pesan itu selalu tiba menjelang pukul lima sore. Hou tahu betul jam itu. Pada sore 14 Mei 1998, kira-kira pukul lima, sebuah mobil berhenti di depan ibunya dan seorang kawannya yang sedang berjalan pulang. Delapan lelaki bertopeng hitam—yang kelak, ketika kabar tentang ninja dari Banyuwangi ramai di koran, selalu ibunya sebut sebagai ninja—menyeret keduanya masuk. Apa yang terjadi di dalam mobil itu tidak pernah ibunya ceritakan utuh kepada Hou. Hanya angka delapan yang selalu ia sebut. Malam itu keduanya dibuang di sekitar Muara Angke. Kawan ibunya meninggal karena pukulan keras di kepala. Ibunya selamat—sebuah kesempatan hidup yang, katanya, diberikan oleh Guānshìyīn Púsà, sang Dewi Kwan Im—dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak dari para serigala itu.

Aku tahu Hou begitu sedih dengan hal ini. Ia seperti tokoh tua Sai Weng yang kehilangan kuda kesayangannya dalam kisah klasik Huainanzi abad ke-2 SM. Akan tetapi bukan kuda memang yang hilang, tetapi lidah yang biasanya Hou gunakan untuk membela orang-orang lemah. Di tengah situsi yang tidak menyenangkan, aku dan Hou kembali mendatangi Klewer yang agak kesorean. Di sana pondok Ling tampak buka.

Benar-benar aneh pondok tersebut. Di sana aku dan Hou melihat orang dengan mata yang hilang; kuping yang hilang; mulut yang hilang; hingga tangan dan kaki hilang. Aku dan Hou seperti datang ke suatu toko barang antik dengan koleksi yang serba tidak sempurna.

“Jun Hou,” panggil seorang asisten. “Jun Hou!”

Mendengar suaranya dipanggil, Hou segera bangkit. Aku mengikuti di belakangnya. Dan kami berdua duduk berdua sejajar. Seorang wanita yang dipanggil Ling segera menatap kami.

“Apa yang hilang?” tanya Ling seolah tahu bahwa orang-orang yang datang ke tempatnya adalah orang-orang yang kehilangann sesuatu. “Kau boleh mengatakannya!”

“Lidah,” jawabku berusaha menjelaskan. “Temanku kehilangan lidahnya secara tiba-tiba.”

Ling melengos seperti hal itu bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi ia tetap tampak tenang. Ia tampak berusaha mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sendiri berusaha menjelaskan apapun yang dapat diceritakan. Cuma Ling tetap mempertahankan posisinya, sampai kemudian dirinya tampak menarik napas panjang.

“Tidak hanya kau saja yang kehilangan bagian tubuhnya secara tiba-tiba,” jelas Ling kepada kami berdua. “Tapi orang-orang yang kau jumpai di depan itu juga.”

“Mengapa hal ini bisa terjadi?” aku menambahkan pertanyaan.

“Mereka terlalu ingin tahu banyak tentang kebenaran!”

Baca Juga: Sore Bersama Pacer

“Kebenaran?”

“Kau seharusnya paham bahwa kebenaran tidak sepantasnya diperjuangkan bila itu hanya mengancammu.”

Hou tiba-tiba menggeberak meja. Kalimat itu terasa sangat menyakitkan untuknya. Terlebih sejak kecil ia telah hidup dengan penderitaan sebagai anak dari seorang korban pemerkosaan. Ia masih ingat, ketika dirinya masih duduk di sekolah, anak-anak lain menyebutnya sebagai tuyul. Anak-anak itu menganggap bahwa dirinya terlahir dari seorang ibu siluman dan ayah gendruwo. Orang-orang dewasa di kampungnya memakai sebutan yang terdengar lebih halus, tetapi sama kejamnya: Cino ireng, sebutan bagi anak-anak yang lahir dari korban pemerkosaan Mei 1998. Suara-suara ejekan itu bahkan sering mengawang-awang di telinganya.

“Anak Jin! Anak tuyul!”

“Tuyul bermata sipit!”

Para pencela itu tentu semakin senang melihat perlawanan Hou. Mereka semakin girang mengejek Hou. Pertengkaran fisik akhirnya terjadi. Dan Hou selalu kalah. Ia pasti akan pulang dengan menangis dan melaporkan kejadian itu kepada ibunya.

“Kau anak pemberani,” tegas wanita itu. “Jangan pernah takut mengatakan kebenaran.”

Kalimat penenang ibunya itu terus terngiang di dalam diri Hou. Bahkan hingga hari ini. Ibunya bukan seorang pendendam. Ia melahirkan dan membesarkan Hou bukan untuk membalas dendam, melainkan agar kelak anaknya berani menyeret para serigala itu ke hadapan hukum. Dan seperti mimpi ibunya, Hou tumbuh menjadi orang yang keras terhadap kebenaran. Maka ketika ia mendengar ucapan Ling, bukan menjadi suatu hal yang aneh meja itu dengan keras digebraknya. Baginya kebenaran adalah harga mati. Akan tetapi, wanita paruh baya yang ada di depannya itu berbeda.

“Kau tidak akan pernah menemukan lidahmu selama masih mempercayai kebenaran,” tambah Ling. “Segera bertaubat lah seperti yang lainnya, karena kau bisa kehilangan lebih dari itu.”

Hou segera pergi meninggalkan pondok Ling. Aku pun ikut meninggalkan pula seperti apa yang dilakukan oleh Hou. Untuk kedua kalinya, kami tidak mendapatkan jawaban atas hilangnya lidah Hou.

***

Beberapa hari kemudian aku datang kembali ke pondok Ling. Kali ini aku datang tanpa Hou. Dan seperti dilimpahi banyak keberuntungan, pondok Ling hari itu buka. Akan tetapi aku tidak melihat orang-orang yang kehilangan anggota tubuhnya seperti kunjungan sebelumnya. Aku malah melihat A Long dan delapan ninja berpakaian serba hitam membawa satu kantung berisi: lidah, mata, mulut, dan telinga. Aku menghitung mereka dua kali. Delapan. Ling menerima semua itu dengan air muka tenang. Raut yang hampir sama seperti wajah yang ditunjukkannya kepadaku dan Hou kemarin.

“Ini telinga, mata, dan mulut pengacara yang kau pesan kemarin,” kata Long. “Aku sebenarnya menginginkan agar kau bisa membuatnya bertaubat dari kebenaran.”

“Berkat sirup ramuan itu aku bisa mencium bahwa di dalam dirinya sudah terlalu banyak kebenaran,” tegas Ling.

“Tetapi tidak seharusnya kau memintaku untuk mengambil mata, mulut, dan telinganya juga,” Long menatap kantung itu.

“Dia akan sangat sulit untuk disembuhkan,” jawab Ling dingin. “Mata, lidah, kuping, dan mulutnya sudah terlalu banyak menyimpan kebenaran.”

Ling mengeluarkan satu koper penuh berisi uang. Satu kantung berisi lidah, mata, telinga, dan mulut Hou diterima oleh Ling dengan kedua tangannya. Hati-hati. Para ninja itu kemudian pergi seolah tugas mereka hanyalah mengantar karung itu. Aku bersembunyi di balik salah satu tiang kayu. Jantungku berdegup keras.

“Seluruh kebenaran ini akan menjadi bahan makanan di atas meja para penguasa,” gumamnya.

Ia mengeluarkan lidah dari kantung—masih basah, seperti baru saja berhenti berbicara.

“Hari ini aku mendapatkan pesanan sup lidah,” tambah Ling memutar-mutar benda itu di tangannya. “Lidah pengacara ini pasti sangat gurih untuk dihidangkan. Terlalu banyak kebenaran yang ia simpan bertahun-tahun.”

Seketika aku mengerti. Itu lidah Hou. Lidah yang semestinya membacakan kesaksian ibunya di pengadilan; lidah yang menyuarakan luka Mei 1998 yang tak pernah selesai, kini akan disantap oleh orang-orang yang justru berkepentingan agar luka itu dilupakan.

Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku tercekat. Aku ingin berlari mengambilnya kembali, tetapi kakiku serasa dipaku ke lantai pondok itu. Yang bisa kulakukan hanya mundur perlahan, lalu berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu—jauh dari Ling, jauh dari karung berisi kebenaran yang telah dikumpulkan oleh Hou bertahun-tahun. Namun secara tidak sengaja aku menabrak seorang. A Long, seolah sudah menunggu seseorang akan lari ke arahnya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tangannya dan menyentuh keningku, ringan, seperti seorang biksu memberkati.

Dan setelahnya, dunia di depan mataku memudar menjadi gelap. Aku tidak dapat melihat apa pun lagi. Yang tersisa hanya suara Ling dari kejauhan yang mengikutiku: “Kau melihat terlalu banyak kebenaran. Sekarang biar kegelapan yang menjagamu.” (*)

*)Risda Nur Widia. Menamatkan studi doktoralnya di Universitas Negeri Yogyakarta. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Berburu Buaya di Hindia Timur (2020) dan Membunuh Harimau Jawa (2022). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal. Kini ia merupakan staf pengajar di Universitas Nahdatul Ulama Yogyakarta.

**)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.

Editor : Duito Susanto
risda nur widia tragedi mei 1998 sastra indonesia cerita pendek kritik sosial